Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.578
  • SUN95,67 0,00%
  • EMAS656.000 -0,46%
KOLOM / siasatbisnis

Bisnis Konten Era Digital

oleh Jennie M. Xue - Kolumnis internasional serial entrepreneur dan pengajar, bisnis, berbasis di California

Senin, 30 Juli 2018 / 18:50 WIB

Bisnis Konten Era Digital


Bisnis konten? Ya, model bisnis ini sangat populer dan profitabel. Bayangkan, dengan konten produksi sendiri atau dibuat oleh user, model bisnis online informasi ini sangat scalable.

Hanya perlu satu sistem content management system (CMS) yang didesain dengan baik dan telah teruji fitur-fiturnya serta model bisnis dan model revenue yang bisa diaplikasikan. Sering kali, homemade CMS lebih sesuai kebutuhan.

Sebagai contoh, media sosial dan situs image atau video sharing seperti Facebook, Twitter, YouTube dan Instagram telah lama "menjual" konten ciptaan para user yang jutaan bahkan miliaran orang itu. Bahkan iklan-iklan yang mereka tayangkan juga diproduksi dan di-upload oleh para user sendiri.

Jadi, mereka hanya menyediakan infrastruktur. Namun, ada juga model bisnis yang mengandalkan konten sebagai produk utama, bukan relasi sosial. Ada beberapa model bisnis konten yang dapat dipertimbangkan.

Pertama, menjual produk dan konten. Bisa saja situs e-commerce menjual produk-produk niche tertentu. Sedangkan ebook, seminar online dan kelas-kelas online merupakan produk-produk sampingan yang membawa omzet cukup besar. Apalagi mengingat skalabilitas luar biasa dari produk-produk digital alias satu kali diproduksi bisa dijual hingga jutaan kali.

Baik produk fisik maupun digital yang ditawarkan di toko online tersebut dapat diproduksi sendiri atau dipasok oleh pihak ketiga. Namun bukan ciptaan dan di-upload oleh para user.

Kedua, menjual dataset menjadi informasi yang dikemas. Dataset yang menjadi informasi dalam bentuk laporan, misalnya, dijual dengan harga tinggi oleh CB Insights. industry reports atau market maps (pemetaan pasar) sangat berguna untuk startup dan para investor sehingga bernilai tinggi ratusan hingga ribuan dollar Amerika Serikat.

Berbagai publikasi internasional terpercaya seperti Washington Post, Forbes, New York Times, dan sebagainya menggunakan data dari CB Insights. Jadilah pemasok data berbentuk sintesis ini dikenal di kalangan bisnis.

Ketiga, konten yang diciptakan oleh user. Bisa saja berbentuk review, narasi, foto, video, gambar, status, listing iklan, berita, suara, business report, dan sebagainya. Yelp, Angie's List, Shutterstock, Craigslist, Vimeo dan lainnya sangat tergantung oleh konten produksi para user. Infrastruktur situs mereka membutuhkan CMS yang memadai, tidak sekadar menggunakan situs Wordpress pada umumnya.

Keempat, memperjualbelikan konten sebagai marketplace. Ini sangat umum, seperti yang dilakukan oleh Tokopedia dan iStockphoto, yang mengandalkan konten dari para user.

Yang pertama menjual produk-produk fisik dan yang kedua menjual foto digital. Sedangkan Craiglist menjual iklan baris.

Menjual konten telah menjadi arus utama dalam dunia bisnis online. Apa pilihan yang diambil menentukan bagaimana model bisnis perlu dikembangkan dan monetisasi yang sesuai.

Sekarang, apabila Anda ingin memulai startup online, apa saja yang perlu diperhatikan ketika memutuskan untuk mengambil model "menjual konten"?

Pertama, kesiapan teknologi. Homemade CMS sering kali lebih afdol. Jadi, dibutuhkan developer programmer yang advanced. Sehingga infrastruktur mulus dan seamless dengan berbagai fitur.

Kedua, kesiapan komitmen produksi konten.Siapa yang akan menyediakan konten? Jika user, kemungkinan besar 1.000 user pertama adalah para freelancer yang dibayar bisnis Anda untuk meng-upload konten awal. Jadi, memerlukan juga sumber daya pekerja lepas yang dapat diandalkan. Karena mereka adalah "set the standards".

Ketiga, monetisasi organik.Bagaimana bentuk monetisasi? Apakah per download? Permembership? Dengan iklan? Ataukah menggunakan pay per click (PPC)?

Tentukan bentuk monetisasi yang bernuansa organik, bukan hanya mengada-ada. Hindari penggunaan pop-up yang berlebihan dan image berkedip-kedip yang terasa mengganggu.

Keempat, kenali persona para pelanggan. Gunakan minimal tiga persona pelanggan, sehingga setiap langkah fitur dan produk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan.

Persona adalah target audience dengan personifikasi fiksional yang mendetail, seperti profesi, usia, status keluarga, hobi dan sebagainya. Ini lebih mendetail daripada sekedar "data demografi" yang lebih umum dan tidak dipersonifikasi.

Akhir kata, bisnis konten telah menjadi bagian dari arus utama dalam bisnisonline saat ini Mengingat setiap model bisnis terkini memiliki elemen online, sudah saatnya pula bagi kita untuk mengenali kesempatan-kesempatan yang ada.

Bisa saja dikombinasikan dengan model bisnis yang ada atau berdiri sendiri sebagai produk utama. Selamat mencoba.

Reporter: Jennie M. Xue
Editor: hendrika.yunaprita

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×