kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.619
  • LQ45904,78   -7,59   -0.83%
  • EMAS590.870 -0,68%

Televisi Streaming vs Kabel

Televisi Streaming vs Kabel
Kolumnis internasional serial entrepreneur dan pengajar, bisnis, berbasis di California

 

Konten adalah raja, kata Bill Gates. Distribusi mempunyai posisi cukup penting selain konten itu sendiri. Jadilah "distribusi konten" sebagai "perdana menteri."

Distribusi konten melalui teknologi OTT adalah salah satu model bisnis yang luar biasa. Sangat skalabel dan berpotensi untuk merajai dunia jauh melampaui era televisi analog dan parabola.

Ini adalah era fantastis dan mencengangkan. Mari kita simak. Seperti apa masa depan per-televisi-an dunia? Akankah berubah dari apa yang kita kenal selama ini? Bagaimana dengan oportunitas bisnis konten, produksi, dan distribusinya di masa mendatang?

"Over the top" (OTT) adalah istilah yang digunakan untuk metode distribusi konten yang menggunakan internet dan smart devices (smart phone, tablet, TV, etc) sebagai saluran distribusi acara-acara televisi. Dan para raksasa teknologi dunia seperti Apple, Google dan Amazon mempunyai market share yang cukup besar.

Ini semua terlaksana tanpa terkoneksi dengan kabel (cable) dan satelit parabola (satellite). Sling, Vue, Hulu, Amazon Prime, Netflix dan semacamnya dikenal sebagai provider TV streaming seperti ini.

Sebanyak 25% keluarga di Amerika Serikat (AS) tidak lagi memiliki dan menggunakan TV konvensional dengan kabel maupun parabola. Menurut survei, para Milenial, Generasi X dan Y lebih menyukai TV streaming dengan distribusi OTT. Diperkirakan pada tahun 2019, pelanggan OTT akan mencapai 330 juta orang, yaitu seluruh penduduk AS.

Di Indonesia, TV berbasis OTT seperti ini dimungkinkan sepanjang infrastruktur internet dengan kecepatan tinggi dan bandwidth memadai. TV streaming ini memungkinkan para pengguna memilih kanal dan film seri atau dokumenter setiap saat secara asynchronous.

Sebagaimana portal-portal video online seperti YouTube dan Vimeo, asynchronocity merupakan selling point penting mengingat perbedaan zona waktu dan pilihan user. Ini sangat berbeda dengan TV kabel dan analog yang masih synchronous.

TV streaming segera menempati posisi mainstream di seluruh dunia. Di tahun 2017 lalu, pelanggan Netflix mencapai 100 juta orang secara global dengan mayoritas di luar Amerika Serikat. Pengguna di AS dan luar AS mencapai rasio tiga banding satu.

Proyeksi subscriber growth Netflix tahun 2019 akan mencapai 120 juta, di tahun 2020 mencapai 150 juta, dan pada 2021 akan mencapai 160 juta. Diperkirakan, pada tahun 2027 mendatang, pengeluaran Netflix untuk kreasi konten akan mencapai US$ 14,4 miliar.

Tren streaming TV mencakup empat kategori, menurut Deloitte. Satu, vMVPD (virtual multichannel video programming distributor) akan mencapai 20% pasar AS, seperti DirectTV, SlingTV dan YouTube TV.

Dua, jutaan pengguna TV di dunia akan memutuskan subscripsi TV kabel dan digantikan dengan TV streaming. Tiga, pemasangan iklan tertarget dan terpersonalisasi akan semakin marak, baik di dunia maya maupun digital statis.

Empat, VR (virtual reality) dan AR (augmented reality) semakin populer dan dapat dinikmati di berbagai tempat publik dan privat. Di Jakarta, CGV telah menawarkan ini secara terbatas.

Dengan tren-tren tersebut, bagaimana Anda dapat mengantisipasi kesempatan bisnis? Satu, leverage teknologi terbaru, yaitu 4K video, HDR (high dynamic range), dan 5G wireless. Dua, gunakan data analytics dengan business and marketing metrics dalam data collection process.

Tiga, lakukan berbagai sinergi untuk memproduksi dan mendistribusikan konten. Empat, tingkatkan UX (user experience) dan AI (artificial intelligence) dalam berbagai proses dan delivery.

Dengan kata lain, dunia per-televisi-an telah berubah dan kreasi serta distribusi konten akan semakin deras. Laju informasi akan semakin tidak terbendung dan perbedaan geografis bukan lagi merupakan penghalang distribusi.

Bagi para pekerja konten dan intelektual kreatif, TV streaming membuka panggung bisnis semakin luas dan dalam. Nyaris tidak ada lagi penghalang untuk berkarya, sepanjang ide cukup jenial untuk diwujudkan dan dikonsumsi secara global.

Walaupun konten adalah raja dan distribusi merupakan perdana menteri, pekerja konten adalah pewujudan segala macam ide. Kombinasi antara teknologi dengan skill kreatif dan intelektual merupakan kunci sukses abad ini, sepanjang AI dan UX mendapatkan porsi yang cukup memadai.