kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.791
  • LQ45943,42   4,79   0.51%
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS614.076 0,00%

Jurus saham juragan beras

Jurus saham juragan beras
Financial Expert Prasetya Mulya Business School

Saya punya sahabat bernama Sukarto Buyung (SB). Pembaca mungkin kurang mengenal dia. Namun ibu-ibu rumahtangga pasti mengenal beras produksi PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI), perusahaan yang mayoritas sahamnya dipegang keluarga Sukarto Buyung.

Apa yang unik dari seorang Sukarto Buyung? Dia adalah investor saham yang setelah puluhan tahun menjadi investor saham akhirnya memutuskan untuk menjadikan perusahaannya sebagai perusahaan publik, sehingga sahamnya bisa dimiliki masyarakat luas.

Hal lain yang menarik, Sukarto tidak suka membeli saham blue chip (saham perusahaan besar dan unggulan). Portofolio sahamnya terdiri atas saham perusahaan kecil hingga menengah. Saya ingin menikmati keuntungan besar dari investasi saham, kata Sukarto.

Dia mematok target keuntungan 200% hingga 300%. Saham blue chip biasanya sulit untuk memberikan keuntungan besar, alasan Sukarto.

Salah satu saham yang pernah memberi keuntungan besar bagi Sukarto adalah PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (MREI). Ia membeli saham ini 2007 saat harganya di bawah Rp 200, dan menjualnya enam tahun kemudian di harga Rp 1.700. Dus, ia untung Rp 37 miliar.

Alkisah, ayah Sukarto, Bujung, mulai berdagang beras pada 1977 di Palembang dengan nama Toko Bujung. Sukarto muda ikut membantu usaha keluarganya dan sejak 2003 mulai berdagang beras di Jakarta.

Beberapa tahun lalu Sukarto didorong oleh sahabat-sahabatnya untuk menjadikan Buyung Poetra Sembada sebagai perusahaan publik dan melantai di Bursa Efek Indonesia. Setelah melalui proses panjang, Buyung Poetra akhirnya go public pada pertengahan 2017. Kode atau ticker saham yang dipilih pun unik, HOKI, yang dalam bahasa Hokian artinya keberuntungan.

Nampaknya tidak sia-sia SB memilih ticker saham ini. Dari harga IPO Rp 310, awal Agustus 2018 harga HOKI sudah menyentuh level Rp 1.000 per saham dan memberikan hoki bagi para pemegang sahamnya.

Filosofi Sukarto dalam berinvestasi saham adalah mencari saham dengan fundamental bagus dan memegangnya untuk kurun waktu yang panjang. Dia mengaku tidak mau pusing dengan pergerakan harga saham harian. Ketika memilih saham, Sukarto menggunakan analisis fundamental.

Maklum, dia seorang sarjana akuntansi, sehingga fasih menganalisis laporan keuangan perusahaan. Dia juga mengenali produk perusahaan yang hendak dibeli, serta reputasi pemegang saham mayoritas/pengendali perusahaan tersebut.

Misalnya, saat Sukarto membeli saham PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL). Ia tertarik dengan saham ini karena sejak masih di bangku sekolah telah menggunakan komputer IBM serta printer merek Epson. Sukarto juga mempertimbangkan reputasi bagus Ciputra, salah satu pemegang saham utama MTDL.

Sukarto membeli saham ini saat harga hanya Rp 70. Saat ini harga saham MTDL sudah mencapai Rp 720, namun Sukarto masih setia memegangnya. Tercatat Sukarto adalah pemegang sekitar 7% saham MTDL.

Selain MTDL, pria ini juga memegang cukup banyak saham PT Multi Indocitra Tbk (MICE). Sukarto tertarik dengan perusahaan ini karena mengenali produk perusahaan yang memegang merek Pigeon ini.

Selain mengenal produk dan memperhatikan reputasi pemegang saham utama, Sukarto suka saham yang rajin membagi dividen. Ketelitian Sukarto dalam memilih saham diamini oleh broker sahamnya. Menurut mereka, Sukarto termasuk tipe investor yang hati-hati, membeli saham tidak tergesa-gesa dan tidak mudah dipengaruhi oleh rumor. Ia juga sabar dalam memegang saham.

Sukarto mulai mengenal investasi saham pada 1996. Awalnya dia memilih jadi trader saham jangka pendek. Ia menggunakan fasilitas margin trading yang memungkinkan bertransaksi saham hingga 10 kali lipat dari modal yang dimiliki. Saat Indonesia dilanda krisis moneter 1998, dia menderita kerugian hingga Rp 1,5 miliar.

Celakanya, kala itu isterinya tidak tahu bahwa ia menderita kerugian begitu besar. Menjelang tengah malam Sukarto bilang ke isterinya bahwa dia sedang ada masalah serius. Sukarto kemudian mengajak isterinya keliling tol dalam kota hingga 2 kali putaran untuk menceritakan kerugian sahamnya, sekaligus minta bantuan orang tua dan mertua untuk membayar utang.

Namun Sukarto tidak patah arang. Ia masih penasaran ingin sukses berinvestasi saham. Secara perlahan dan tanpa memberitahu isterinya, ia mulai mengoleksi saham lagi, namun kali ini ia mengubah filosofi dari trader jangka pendek menjadi investor jangka panjang.

Kali ini ia lebih beruntung. Saham-saham yang ia pegang jangka panjang memberi keuntungan bagus. Isterinya baru mengetahui Sukarto berinvestasi saham lagi di 2015, ketika ia melepas saham-sahamnya yang sudah untung agar bisa fokus meng-go public-kan HOKI.

Meski memiliki 10% saham HOKI, perusahaan yang ia kelola setiap harinya sebagai Direktur Utama, Sukarto mengaku berinvestasi saham juga tidak kalah mengasyikkan. Bisnis riil tantangannya harus mengelola pegawai, distributor dan sebagainya tutur Sukarto.

Sebagai pemegang saham pasif/tidur di perusahaan lain, Sukarto bisa menikmati keuntungan tanpa terlibat langsung, cukup mengawasi perkembangan kinerjanya saja. Namun HOKI adalah perusahaan yang dibesarkan oleh keluarganya sendiri, sehingga ia punya panggilan untuk merawat dan membesarkannya menjadi Integrated Rice Company agar para pemegang saham publik bisa turut merasakan nikmatnya investasi saham.

SB bisa jadi inspirasi bagi kita. Ia sukses sebagai pemegang saham tidur maupun bangun.