kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.765
  • SUN93,03 -0,06%
  • EMAS609.032 0,50%
KOLOM / financialwisdom

Mengelola risiko reksadana

oleh Eko P. Pratomo - Senior Advisor PT BNP Paribas Investment Partners

Rabu, 14 Januari 2015 / 14:31 WIB




Semua investasi selalu mengandung risiko. Yang membedakan risiko investasi yang satu dengan lainnya adalah jenis serta intensitas risikonya. Begitu pula reksadana, investor perlu memahami potensi risiko apa saja yang ada di dalamnya.

Potensi risiko yang paling dihindari adalah kerugian, yang dalam prospektus reksadana disebut risiko berkurangnya Nilai Aktiva Bersih per Unit Penyertaan (NAB per unit). Investor yang membeli reksadana, semisal di harga Rp 5.000 per unit (NAB/unit), dan "terpaksa" menjual di Rp 4.500 per unit, akan menderita kerugian Rp 500 per unit atau setara 10%.

Risiko kerugian tiap jenis reksadana berbeda. Reksadana pasar uang dan terproteksi dianggap punya potensi risiko rendah. Tingkat risiko lebih tinggi dipegang reksadana pendapatan tetap dan campuran. Reksadana saham berisiko paling tinggi, sejalan dengan konsep high risk high return, low risk low return.

Paling tidak ada dua sebab terjadinya kerugian. Pertama karena wanprestasi atau gagal bayar. Dan kedua karena fluktuasi harga instrumen atau efek yang menjadi portofolio reksadana.

Pada RDPU, misalnya, potensi risiko umumnya datang dari wanprestasi, yang disebabkan perusahaan penerbit efek gagal bayar. Sedangkan di reksadana saham, potensi kerugian disebabkan oleh fluktuasi harga saham. Fluktuasi tersebut akan tercermin dalam perubahan NAB per unit reksadana saham. Pada reksadana pendapatan tetap sementara mayoritas obligasi juga diperdagangkan, muncul risiko fluktuasi harga obligasi.

Apa yang harus dicermati investor dengan adanya risiko di atas? Untuk reksadana yang mayoritas berinvestasi pada instrumen pasar uang dan efek utang, pahami siapa penerbit surat utang yang ada di dalam portofolionya. Memperhatikan lima besar portofolio di fund fact sheet adalah langkah bijaksana.

Bagi reksadana pendapatan tetap, campuran dan saham, investor perlu memahami konsep unrealized loss atau kerugian yang belum nyata. Investor diharapkan memiliki kesabaran menunggu hingga pasar menjadi lebih baik sehingga bisa merealisasikan keuntungan, dan bukan kerugian. Investor reksadana pasar uang pun perlu memahami konsep "unrealized loss", karena tetap terjadi fluktuasi harga walau intensitasnya lebih rendah.

Reporter: Eko P. Pratomo
Editor: edy.can

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×