kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.791
  • LQ45943,42   4,79   0.51%
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS614.076 0,00%

Saya ingin atau harus kaya? (1)

Saya ingin atau harus
Senior Advisor PT BNP Paribas Investment Partners

Saya pernah membaca buku dengan judul yang sama dengan judul topik kita kali ini: "Saya Ingin atau Harus Kaya?" yang ditulis oleh Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Buku yang menarik untuk menjadi bahan perenungan karena kita harus berpikir untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Dalam beberapa kesempatan pelatihan, saya sering mengajukan pertanyaan di atas. Sebagian peserta menjawab "ingin" dan sebagian lainnya menjawab "harus" dengan masing-masing argumentasi atas jawaban itu. Bagaimana dengan Anda dan apa alasan Anda?

Dari hampir setiap kesempatan, tidak ada peserta yang mempertanyakan apa yang dimaksud "kaya" dalam pertanyaan di atas. Semua peserta mengasosiasikan "kaya" dengan kondisi banyaknya harta. Padahal dalam buku tersebut, bukan hal itu yang dimaksud oleh Aa Gym. Kaya yang dimaksud adalah "Kaya GIGIH". Apa itu GIGIH?

Kata GIGIH terdiri dari lima huruf. G yang pertama bermakna Ghirah atau semangat. Mungkin bisa juga dimaknai dengan gairah atau passion. Orang yang "kaya" semangat sama dengan orang yang optimis.

Adapun  I bermakna Ilmu. Orang yang "kaya" Ilmu sama dengan orang yang cerdas. G yang kedua memiliki makna Gagasan. Orang yang "kaya" gagasan sama dengan orang kreatif. I yang kedua adalah Ibadah. Orang yang "kaya" ibadah adalah orang saleh. Huruf yang terakhir adalah H, melambangkan hati. Orang yang "kaya" hati = orang yang mulia.

Lalu, adakah hubungannya antara "kaya GIGIH" dengan kaya harta? Sampai di sini mungkin kita perlu sedikit merenungkan, apakah perolehan harta semata-mata karena usaha manusia atau ada campur tangan Tuhan? Jika Tuhan tidak turut campur, mengapa dalam semua agama ada larangan untuk memperoleh harta dengan jalan kejahatan atau jalan yang tidak benar?

Jika ada aturan agama yang melarang memperoleh harta dari jalan kejahatan, tentu ada konsekuensi kelak di akhirat jika manusia melanggarnya. Atas dasar itulah, konsep "Kaya GIGIH" bisa dijadikan sebagai model atau acuan dalam bekerja mencari nafkah. Bagaimana menerapkannya? Nah, kita akan membahas itu dalam tulisan minggu depan.