kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.791
  • LQ45943,42   4,79   0.51%
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS614.076 0,00%

Saya ingin atau harus kaya? (2)

Saya ingin atau harus
Senior Advisor PT BNP ParibasInvestment Partners

Melanjutkan pembahasan minggu lalu, apa beda orang yang "Kaya GIGIH" dengan "Miskin GIGIH"? Berkebalikan dengan Orang yang "kaya", maka orang yang "miskin" ghirah (semangat) adalah orang yang pesimistis; Orang yang "miskin" Ilmu adalah orang yang bodoh; orang yang "miskin" Gagasan adalah orang yang pasif; Orang yang "miskin" Ibadah adalah orang berpaling dari Tuhan; Dan yang terakhir, Orang yang "miskin" Hati adalah orang yang hina.

Ternyata "kaya" GIGIH membuahkan karakter yang baik dan kuat, sementara "miskin" GIGIH melahirkan karakter yang buruk dan lemah. Dari sudut pandang spiritual, jika formula "Kaya GIGIH" ditambah (+) H di mana H terakhir adalah Harta, maka tanda "+" adalah "bonus" atau hasil, yang pada hakikatnya adalah keputusan Tuhan.

Mengingat tugas manusia sepenuhnya ada di ranah ikhtiar atau usaha dan hasil adalah diluar kendali manusia, maka yang harus diupayakan oleh manusia adalah yang berada dalam kendalinya, yakni dengan berupaya bukan sekedar INGIN, namun HARUS menjadi orang yang "kaya", bukan kaya harta namun "kaya GIGIH". HARUS selalu menjadi orang yang optimis, cerdas, kreatif, saleh dan menjaga kemuliaan.

Mereka yang memiliki dan menjaga karakter di atas dapat dipastikan memiliki daya juang untuk bekerja dalam koridor etika dan agama yang dianutnya, tidak perlu memikirkan lagi harta sebagai tujuan, karena yakin Tuhan akan menyejahterakannya.

Menjadi kaya bukan semata tujuan hidup yang utama, tetapi proses menjadi sejahtera yang jauh lebih penting bagi mereka yang menyadari pentingnya untuk menjadi "Kaya GIGIH". Kita bisa melihat orang yang kaya harta namun harta tersebut diperoleh dengan cara korupsi atau perbuatan melawan hukum lainnya, sehingga pada akhirnya tidak memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan yang sejati.

Berorientasi dan berikhtiar untuk menjadi "Kaya GIGIH" dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menurunkan rezeki yang halal dan penuh berkat akan lebih membahagiakan dalam menjalani kehidupan. Dan yang lebih penting lagi akan menjamin keselamatan tidak hanya untuk hidup di dunia saja namun juga untuk kehidupan abadi di akhirat kelak.