kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.791
  • LQ45943,42   4,79   0.51%
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS614.076 0,00%

Startup itu Tidak Memiliki Data?

Startup itu
Founder of Lightora UMN Incubator

Selama ini, kendala startup yang baru didirikan tidak bisa menganalisa data karena tidak adanya data atau data tidak cukup. Padahal "no data" itu juga adalah data, lo!

Di sisi lain, para startup mapan malah memiliki masalah berbeda–terlalu banyak data dan metodologi sehingga bingung harus mulai dari mana agar dapat menghasilkan impact bisnis yang signifikan? Ketika sistem rekomendasi dengan data mining kelihatannya tidak jalan, apa yang kurang ya?

Penulis tidak bisa memposisikan diri sebagai yang ahli untuk memecahkan masalah terakhir, karena walaupun ada metode umum tapi tiap bisnis tentunya memerlukan cara analisa yang unik. Dan ini tentu saja bukan hanya memerlukan kemampuan statistik dan matematika, tapi harus juga kreatif dalam mengambil sudut pandang masalah dan membuat model yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan.

Sebaliknya, pada kesempatan ini penulis ingin coba memberi masukan tentang data dan utilitas umum yang bisa dimanfaatkan sebuah startup. Jadi founder tidak hanya mengandalkan insting dan spekulasi, tapi juga menggabungkan insight data sehingga makin tajam dalam mengambil keputusan untuk memperbesar pasar.

Riset pasar

Jadi pada awal membangun startup, tentu Anda perlu melakukan riset pasar untuk mengidentifikasi peluang bukan? Definisi peluang disini adalah adanya tingkat kebutuhan di pasar dengan nilai bisnis yang baik tapi ternyata kekurangan supplier.

Data ini paling gampang didapatkan di forum-forum online seperti Kaskus, StackOverflow, Quora, dan lain-lain. Pertanyaan untuk suatu layanan atau produk jika tidak terjawab dengan baik dan ada tren kenaikan maka itu berpotensi peluang.

Setelah riset dan validasi pasar, startup Anda kemudian dibuat dan diperkenalkan di berbagai channel seperti iklan online, tulisan blog sampai sosial media. Traffic kunjungan dan download sangat tinggi, tapi dalam beberapa saat kemudian stagnan atau drop. Anda bingung ini kok bisa terjadi? Mendapatkan dan membaca data review dan komentar memberikan Anda masukan aksesnya lambat.

Untuk mengatasi ini, Anda tidak melulu harus menambah server. Tapi bisa memilih memanfaatkan Google Analytics untuk mendapatkan data berapa lama kecepatan dari sisi user dan apa yang harus dilakukan. Daftar rekomendasi perbaikan akan diberikan kepada Anda melalui fitur Site Speed Suggestions.

Setelah menjalankan rekomendasi ini, ternyata user mulai memberikan respon positif. Namun konversi kunjungan menjadi transaksi bisnis ternyata tidak sesuai harapan.

Masih dengan Google Analytics, Anda kemudian menggunakan In-Page Analytics untuk melihat perilaku user dalam menggunakan fasilitas di website. Ternyata bagian untuk Call to Action tidak terlalu diperhatikan atau kurang menarik.

Dengan melihat karakteristik user pada fitur Affinity Categories, Anda kemudian diberi informasi bahwa mayoritas user yang tertarik ke website Anda adalah kategori pengunjung yang suka akan formalitas, kesederhanaan tetapi memiliki daya beli tinggi. Bingo! Desainer kemudian diminta merubah tampilan dari berwarna warni menjadi lebih simpel dengan font yang konsisten. 

Seiring berjalannya waktu dan tingkat akuisisi dan konversi akhirnya makin makin meningkat, karena dimulai dari hal sederhana dan terarah seperti di atas.

Semoga ide dan informasi yang disampaikan di artikel ini bisa meyakinkan Anda untuk menjalankan startup sebagai perusahaan yang data-driven, yang bisa mencapai keunggulan kompetitif sehingga susah dikejar saingan Anda.