kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.828
  • SUN91,55 0,32%
  • EMAS606.005 0,17%
KOLOM / refleksi

Faktor motivasi

oleh Ekuslie Goestiandi - Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Rabu, 21 September 2016 / 18:40 WIB




Sekelompok teman yang melakukan studi perilaku organisasi (organizational behavior) memunculkan fakta menarik. Hasil observasi mereka menunjukkan, ternyata sikap manusia terhadap sebuah kekeliruan atawa kesalahan sangat berbeda dengan sikapnya terhadap suatu kebaikan atau kebenaran.

Kita begitu reaktif yakni gampang memberikan komentar dan kritik terhadap seseorang yang melakukan kekeliruan atau kesalahan.

Sebaliknya, kita cenderung diam saja dan tak berkata apa-apa ketika seseorang melakukan hal yang baik dan benar. Mirip dengan adagium yang berlaku di kalangan media: bad news is good news, di sini seakan-akan berlaku prinsip bad thing is good thing. Maksudnya adalah, good thing untuk dikomentari dan dikritik.

Contoh sederhana dari studi di atas bisa dilihat dalam perilaku keseharian seorang atasan terhadap bawahan. Renungkan dengan jujur saja, berapa kali seorang atasan mengomentari (bahkan memarahi) anak buahnya yang melakukan kekeliruan dalam pekerjaannya. Sekaligus juga, berapa kali sang atasan memberikan penghargaan dan memuji (bahkan sekadar mengucapkan terimakasih) kepada anak buahnya yang menunjukkan hasil kerja yang baik? Mana yang lebih sering? Silakan dijawab sendiri, Pembaca.

Abraham Maslow, dalam teori hirarki kebutuhan manusia yang sangat terkenal, menegaskan, salah satu kebutuhan manusia adalah untuk memiliki harga diri (self-esteem).

Secara hirarkis, Maslow menegaskan, seorang manusia tak akan bisa menunjukkan puncak pencapaian diri (self-actualization) sebagai kebutuhan yang tertinggi, jika sebelumnya tidak bisa memenuhi kebutuhannya akan harga diri. Lebih jauh ditegaskan juga, harga diri seseorang dibangun terutama lewat proses afirmasi (penghargaan dan peneguhan) yang diterimanya dari lingkungan sekitar.

Makanya, anak yang semasa kecil sering mengalami perundungan (bullying) cenderung bertumbuh jadi pribadi yang tak percaya diri dan minder, yang merupakan ciri dari defisiensi harga diri. Sebaliknya, anak yang semasa kecil mendapatkan afirmasi yang positif dan tepat akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya dan mampu menghargai dirinya sendiri. Dan ternyata, ini tak hanya berlaku untuk anak-anak, juga manusia dalam segala rentang usia. Juga halnya orang dewasa dan orangtua sekalipun.

Gaji bukan segalanya

Menjadi pertanyaan bersama, mengapa kita begitu sulit untuk memberikan peneguhan terhadap hal dan perilaku positif yang ditunjukkan oleh orang lain? Seorang rekan pernah berujar serius, pekerja yang keliru memang harus ditegur bahkan jika perlu dimarahi. Dengan demikian, yang bersangkutan bisa mengoreksi dan memperbaiki perilaku dan kinerjanya di masa yang akan datang.

Sementara, bagaimana dengan pekerja yang melakukan tugasnya dengan baik dan benar? Ya, memang sudah seharusnya begitu. Bukankah ia memang digaji untuk itu?, demikian jawab sang rekan ringkas.

Dalam hati saya berpikir, jangan-jangan cara berpikir seperti inilah yang menghinggapi kepala kebanyakan profesional selama ini. Seolah-olah dengan gaji yang diterima seorang bawahan, tuntas sudah tanggung jawab seorang atasan.

Seorang pemikir organisasi ternama, Frederick Herzberg, pada tahun 1968 mengintroduksi sebuah teori perilaku organisasi yang dikenal dengan two-factors theory atau dikenal juga motivator-hygiene theory. Teori ini pada intinya menegaskan, ada dua faktor besar yang memengaruhi kepuasan dan semangat kerja seseorang.

Faktor pertama adalah hygiene factor yang berisikan sarana dan prasarana fisik yang disediakan bagi karyawan. Misalnya, gaji, fasilitas kendaraan, dan kondisi fisik lingkungan kerja. Jika hygiene factor tidak terpenuhi, akan menurunkan motivasi kerja seseorang.

Faktor kedua disebut pula motivator factor yang terutama berisikan situasi dan kondisi psikologis. Contoh, pengakuan atasan, kesempatan promosi, juga makna pekerjaan itu bagi karyawan.

Berbeda dengan hygiene factor yang jika tidak dipenuhi akan menurunkan motivasi kerja karyawan, motivator factor berlaku sebaliknya. Yakni, jika dipenuhi akan meningkatkan motivasi kerja seseorang. Untuk meningkatkan kepuasan dan semangat kerja karyawan secara optimal, sebuah perusahaan harus bisa menyediakan kedua faktor tersebut, sekaligus hygiene factor dan motivator factor.

Mengacu kepada teori Herzberg, dapatlah disimpulkan bahwa gaji (penghasilan) bukanlah segalanya yang bisa menghadirkan secara penuh kepuasan seseorang. Gaji tak lebih tak kurang hanyalah salah satu elemen dari hygiene factor. Yang sekali lagi, jika tak dipenuhi akan menurunkan kepuasan kerja seseorang, namun jika dipenuhi tak akan mampu meningkatkan motivasi kerjanya.

Yang bisa meningkatkan motivasi tersebut adalah motivator factor yang salah satunya adalah pengakuan dan pengukuhan dari atasan.

Dengan demikian, jangan hanya terampil dalam memberikan koreksi dan kritik terhadap hal yang buruk dan keliru. Karena, manusia termasuk karyawan juga butuh peneguhan dan penghargaan terhadap hal baik dan benar yang ditunjukkannya.

Lagipula, memberikan peneguhan adalah treatment yang bahkan tak membutuhkan biaya sama sekali. Cuma butuh ketulusan untuk respek terhadap perilaku dan hasil kerja orang lain.

Silakan mencoba.

Reporter: Ekuslie Goestiandi
Editor: hendrika.yunaprita

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×