Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.436
  • SUN94,17 -0,23%
  • EMAS659.000 0,61%
KOLOM / refleksi

Merawat Optimisme

oleh Ekuslie Goestiandi - Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Selasa, 10 Oktober 2017 / 15:16 WIB

Merawat Optimisme


Belakangan ini, seorang teman yang bermukim di salah satu kawasan elite Jakarta seringkali gusar. Setiap hari ia harus berhadapan dengan kemacetan (dalam kompleks perumahan) yang maha-dahsyat!

Berangkat pagi dan pulang larut pun tak memberikan jaminan kondisi lalulintas lebih lancar. Dalam satu kawasan, ada pembangunan ruas jalan tol, jalan layang (fly-over), dan juga jalur LRT alias light rail transit. Sempurnalah sudah!

Pada kenyataannya, wilayah di Jakarta yang sedang mengalami pembangunan infrastruktur secara masif.

Pengalaman kemacetan tak hanya dirasakan oleh orang-orang atawa kawasan atawa wilayah tertentu, tetapi nyaris menjadi pengalaman kolektif seluruh warga ibukota. Sampai-sampai, kita terbiasa dengan guyonan, “kalau tidak macet, ya bukan Jakarta.”

Para pakar pembangunan menyebut urusan penuh sengkarut seperti ini sebagai persoalan sistemik, yakni tatkala skala persoalan menjadi begitu masif, berlangsung sedemikian lama, dan saling-berkelindan dengan persoalan lainnya.

Penyelesaian atas persoalan seperti ini pastilah membutuhkan usaha keras, berdimensi struktural, sekaligus menuntut pengorbanan luar biasa.

Inilah yang sedang dilakukan pemerintah saat ini, dengan menggenjot pembangunan infrastruktur besar-besaran untuk mengejar ketertinggalan yang berlangsung cukup lama.

Sesuai dengan sifatnya yang berwatak sistemik, penanganan masalah seperti ini pasti tak gampang dan mustahil dapat diatasi secara individual.

Kalau sudah demikian, apa yang bisa dilakukan oleh setiap warga negara Indonesia sebagai seorang individu? Apakah akan kesal terus-terusan atau mengumpat tak karuan sampai mulut berbusa dan kepala dipenuhi banyak “bintang”?


 

Bunda Teresa, seorang biarawati murah-hati dari Calcutta, pernah dikecam oleh beberapa pemikir atas aksi filantropis yang dilakukannya, yakni mengumpulkan orang-orang miskin dan sakit di pinggir jalan, memberikan pengobatan kepada mereka, serta menyantuni mereka untuk tinggal di rumah singgah yang didirikannya.

Struktural dan sistemik

Para pemikir (beraliran strukturalis) berpendapat bahwa masalah kemiskinan adalah perkara struktural dan sistemik yang tak cukup dan tak akan berhasil diatasi dengan aksi amal individual.

Bahkan, aksi belas kasih individual seperti ini dianggap bisa menimbulkan sikap ketergantungan pada diri kelompok miskin, dan pada gilirannya akan semakin memperlebar jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

Bunda Teresa tak menampik bahwa persoalan kemiskinan adalah urusan struktural yang terlalu besar untuk diselesaikan secara orang per orang, termasuk dirinya sendiri.

Namun, beliau bersikap “daripada mengutuk kegelapan yang tak pernah berkesudahan, mengapa setiap pribadi tak mencoba menyalakan lilin kecil sesuai kemampuan masing-masing?”

Kalaupun cakrawala di muka bumi akan tetap diselubungi kegelapan, paling tidak ada titik terang kecil yang mulai menampakkan dirinya.

Bahkan sangat mungkin, lilin kecil yang kita nyalakan akan memantik orang lain untuk menyalakan lilin-lilin kecil lainnya. Bukankah jika seribu titik terang berkumpul akan membentuk seberkas cahaya yang merona?


 

Saya baru saja membaca sebuah buku Thomas Piketty, berjudul Capital in the Twenty-First Century (Belknap Press, 2014).

Buku 700 halaman karya profesor dari Paris School of Economics ini menyimpulkan bahwa masa kejayaan kapitalisme, yakni antara 1945 hingga sekitar 1970, adalah suatu anomali.

Masa kejayaan dimaksud di sini adalah periode di mana keadilan sosial dan ekonomi meningkat relatif baik.

Lazimnya, praksis kapitalisme akan melahirkan keuntungan yang jauh lebih besar bagi para pemodal daripada rata-rata pertumbuhan ekonomi sebuah negara.

Ini berarti, orang yang kaya akan semakin mampu berinvestasi dan menambah kekayaannya, sementara lingkungan ekonomi sekitarnya tak beranjak ke mana-mana.

Data pada tahun 2010-2012 bahkan menunjukkan bahwa 95% pertumbuhan ekonomi global dinikmati oleh 1% populasi orang paling kaya di dunia.

Kondisi ini muncul bukan dikarenakan kerja keras orang-orang super-kaya tersebut, namun secara sistemik struktur ekonomi dunia memungkinkan uang mereka untuk menggemukkan dirinya sendiri.

Ilustrasi di atas jelas sebuah persoalan yang sangat sistemik. Secara logika, ini kondisi yang membuat kita merasa tak berdaya.

Namun, seperti pesan Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner, dalam buku Think Like a Freak (2014), bahwa kita perlu membangun optimisme untuk menghadapi persoalan sistemik ini, bahkan yang terkesan tak masuk akal sekalipun!

Optimisme ini diperlukan untuk tetap menjaga asa dalam melanjutkan perjalanan kehidupan. Jangan lupa, optimisme dan mimpi liar seribu orang bisa menjadi energi kolektif sebuah bangsa.


TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×