kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.828
  • SUN91,55 0,32%
  • EMAS606.005 0,17%
KOLOM / refleksi

Keunggulan operasional

oleh Ekuslie Goestiandi - Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Senin, 27 November 2017 / 17:16 WIB

Keunggulan operasional



Sejak mahaguru strategic-management Michael Porter mulai menuliskan karya-karya klasik tentang strategi pada awal 1980an.

Semua pemikir bisnis memfokuskan perhatian dan usahanya pada perumusan strategi yang brilian. Strategi seolah-olah jadi segalanya dan satu-satunya hal (everything and the only thing) yang menentukan kesuksesan sebuah usaha.

Tak ketinggalan, para mahasiswa sekolah bisnis pun diajari bahwa perusahaan tak dapat bersaing di atas landasan kemampuan operasional belaka.

“Hal-hal operasional seperti itu sangat mudah ditiru oleh pihak lain”, demikian kilah para pengajar sekolah bisnis pada umumnya.

Operational-excellence (yakni melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh organisasi-organisasi lain, hanya saja dilakukan dengan cara yang baik dan unggul) dianggap tak memadai lagi, jika perusahaan hendak bertahan dan bersaing di medan pertarungan yang begitu kompetitif.

Untuk memenangkan persaingan, sebuah perusahaan harus memiliki posisi strategis yang distingtif, sekaligus melakukan langkah bisnis yang unik, yang berbeda dari para pesaing-pesaingnya.

Peran dan tugas strategis seperti inilah yang harus menjadi fokus perhatian para mahasiswa sekolah bisnis, yang sedari awal merasa dan dikondisikan menjadi calon-calon pemimpin perusahaan.

“Biarkanlah perkara eksekusi dan operasional keseharian diurus oleh para bawahan saja”, demikian kira-kira isi benak kebanyakan dari mereka.

Benarkah operational-excellence (keunggulan operasional) adalah urusan remeh-temeh yang mudah ditiru, dan oleh karenanya tak layak dijadikan sumber daya saing (competitive edge) sebuah perusahaan?

Melalui proyek penelitian sepanjang satu dekade yang melibatkan 12.000 perusahaan lintas industri, Raffaella Sadun (pengajar Business Administration dari Harvard Business School) dkk membuktikan bahwa cara pandang yang mengutamakan kehebatan strategis sembari merendahkan keunggulan operasional, adalah keliru adanya.

Paling tidak, ada tiga fakta yang diajukan Sadun dkk untuk mendukung kesimpulannya: Pertama, keunggulan operasional alias proses eksekusi yang efektif sangat berkorelasi dengan kesuksesan gagasan-gagasan strategis.


 

Dua sisi koin
Dengan kata lain, perkara strategis dan urusan eksekusi ibarat dua sisi dari koin mata uang yang sama; sangat terkait dan bergantung satu sama lainnya.

Percuma mempunyai rencana strategis yang luar biasa, bilamana tak ditindak-lanjuti dengan eksekusi yang tajam. Sama halnya juga, tak akan ada kemajuan yang berarti, bila eksekusi yang habis-habisan tak dipandu oleh ide strategis yang cemerlang

Kedua, perbedaan derajat keunggulan operasional antar perusahaan selalu muncul sepanjang waktu. Ini menandakan bahwa keunggulan operasional bukanlah sesuatu yang dapat ditiru dengan mudah, seperti yang dibayangkan selama ini.

Untuk membangun keunggulan operasional, diperlukan faktor-faktor pendukung semisal SDM yang terampil, budaya perusahaan yang mendukung, dan juga sistem manajemen perusahaan yang tepat.

Dan, faktor-faktor organisasi seperti ini jelas tak mudah dijiplak begitu saja.

Ketiga, jika sebuah perusahaan sudah mampu meraih keunggulan operasional di aras yang terbaik, maka ia akan semakin sulit ditiru dan diikuti.

Produsen mobil Toyota, diakui memiliki sistem produksi yang paling unggul di dunia. Toyota Production System telah mengantar perusahaan otomotif Jepang tersebut menjadi pabrikan yang paling efisien, rapih dan menguntungkan.

Bertahun-tahun pabrikan mobil Amerika, General Motors, berusaha mengadopsi sistem produksi Toyota yang hebat tersebut. Hasilnya..., sangat menyedihkan alias gagal.

Studi Sadun dkk mengingatkan semua pelaku organisasi, juga halnya mahasiswa sekolah bisnis, untuk tidak merendahkan urusan operasional, dan dengan mudah menganggapnya sebagai perkara yang non-strategis.

Baik urusan operasional dan perkara strategis, adalah sama pentingnya bagi keberhasilan sebuah organisasi.

Seorang teman penggiat olahraga pencak silat pernah menceritakan pengalaman latihannya kepada saya. Selain melatih diri dengan jurus-jurus baru, setiap hari ia juga selalu menyempatkan diri untuk latihan memperkuat kuda-kuda.

Katanya, “Percuma saja mempunyai jurus-jurus yang ampuh, jika segenap tubuh tak berdiri di atas fondasi yang kokoh”. Sama artinya, sia-sia belaka memiliki strategi yang jitu, jika organisasi tak memiliki landasan operasional yang kuat.

Benarlah petuah bijak guru saya, bahwa strategi dan eksekusi adalah dua sisi dari koin uang yang sama. Tak ada sisi yang lebih penting dari yang lainnya, karena pada dasarnya kedua sisi itu menyatu menjadi koin yang sama.


TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×