kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.473
  • LQ45925,17   4,21   0.46%
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS600.960 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Obligasi Ritel Indonesia

Obligasi Ritel Indonesia
Senior Advisor PT BNP Paribas Investment Partners

Minggu lalu kita telah membahas singkat mengenai instrumen obligasi sebagai salah satu instrumen pasar modal. Siapa investor utama yang memanfaatkan obligasi sebagai lahan berinvestasi? Umumnya adalah investor institusi atau individu yang memiliki dana investasi besar. Mengapa? Karena besaran investasi untuk membeli obligasi pada umumnya mencapai ratusan juta bahkan hingga miliaran rupiah.

Lalu bagaimana dengan masyarakat kebanyakan yang ingin berinvestasi di obligasi? Tentu saja, masih menjadi kendala bagi kebanyakan masyarakat kita untuk berinvestasi dengan dana sebesar itu.

Lalu apakah ini berarti masyarakat menjadi terhalang untuk melakukan investasi di instrumen obligasi? Tentu saja saat ini hal tersebut tidak lagi menjadi halangan, karena sejak tahun 2006 silam, untuk pertama kalinya pemerintah Indonesia menerbitkan Obligasi Ritel Indonesia, atau lebih dikenal dengan singkatan ORI. Penerbitan ORI oleh pemerintah tersebut boleh disebut sebagai inovasi yang berhasil dan sangat bermanfaat, khususnya dalam konteks kondisi profil investor masyarakat Indonesia.

Inovasi yang dilakukan pemerintah ini bisa dikatakan berhasil, karena hampir setiap penerbitan ORI di pasar perdana selalu terserap habis karena dibeli investor, alias laku keras. Lalu bisa dikatakan bermanfaat karena dengan secara khusus menyasar investor individu, dengan tawaran nominal investasi yang terjangkau, yakni minimum sebesar Rp 5 juta. Jadi, pemerintah membuka kesempatan berinvestasi bagi masyarakat banyak.

Manfaat lainnya, selain dirasakan oleh masyarakat sebagai investor, Pemerintah sendiri paling tidak mengambil dua manfaat. Pertama, ada target pasar besar, yakni investor individu di dalam negeri, sebagai sumber dana untuk menggalang dana jangka panjang bagi kebutuhan berutang pemerintah. Langkah ini bisa jadi alternatif berutang ke pihak luar negeri.

Kedua, Pemerintah menyediakan instrumen yang sekaligus menjadi 'alat' untuk meningkatkan edukasi dan inklusi (akses) keuangan masyarakat Indonesia, yang kebanyakan masih berinvestasi di deposito, untuk mulai juga mengenal instrumen-instrumen investasi di pasar modal. Mengajarkan masyarakat beinvestasi di pasar modal melalui ORI relatif mudah karena masih banyak kemiripan karakteristiknya dengan deposito.