kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.405
  • LQ45926,71   6,75   0.73%
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS601.968 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Ilmu dan imajinasi

Ilmu dan imajinasi
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Apakah manajemen itu suatu ilmu pengetahuan (science) atau bukan? Ini pertanyaan klasik yang muncul dalam diskursus bisnis sepanjang masa.

Ada yang percaya bahwa manajemen bukanlah sebuah ilmu, dan oleh karenanya cenderung bersifat subjektif, intuitif, dan tak berpola.

Sebaliknya, ada juga yang meyakini bahwa manajemen adalah suatu ilmu, dan oleh karenanya setiap keputusan bisnis harus dilakukan melalui analisis data (objektif) yang seksama.

Dalam survei yang baru-baru ini dilakukan Ernst & Young (EY), 81% eksekutif mengatakan “data” haruslah menjadi tumpuan dalam segala proses pengambilan keputusan”.

Hasil studi ini meyakini bahwa big-data akan mengurangi ketergantungan kita pada proses pengambilan keputusan yang bersifat subjektif, yang mengandalkan perasaan individual alias gut-feel belaka.

Kesimpulan studi di atas tampak menarik perhatian para penggiat manajemen. Apalagi, sejak awal abad 20, tokoh bernama Frederick Winslow Taylor mengintrodusir wacana manajemen yang disebut sebagai scientific management alias ilmu manajemen ilmiah.

Dalam enam dekade terakhir, pendidikan bisnis di Amerika berusaha keras menjadikan manajemen sebagai ilmu “keras” (hard-science) yang ketat secara metodologis dan analisis.

Upaya ini muncul sebagai respons terhadap laporan tak sedap tentang kondisi pendidikan bisnis di Amerika, yang dikeluarkan oleh Ford and Carnegie Foundation pada tahun 1959.

Menurut laporan tersebut, pendidikan bisnis yang ada dinilai tidak cukup ilmiah. Sebagai bagian dari pemulihan keadaan itu, Ford Foundation mendorong sekaligus memfasilitasi kemunculan jurnal akademik dalam pendidikan bisnis.

Dalam tulisannya bertajuk Management Is Much More Than A Science (HBR, September – October 2017), Roger L Martin dan Tony Gosby Smith mengungkapkan bahwa praksis manajemen tak cukup untuk didekati, ditelaah, dan dipraktikkan secara ilmiah.

Hal-hal tertentu, utamanya terkait dengan inovasi, tak tepat untuk dipikirkan seperti itu.


Close [X]