Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.570
  • SUN93,03 -0,06%
  • EMAS608.023 -0,17%
KOLOM / financialwisdom

Sisi Lain ORI

oleh Eko Pratomo - Senior Advisor PT BNP Paribas Investment Partners

Kamis, 08 Maret 2018 / 18:39 WIB

Sisi Lain ORI



Bagi pemegang Obligasi Ritel Indonesia (ORI) yang baru pertama kali berinvestasi di pasar modal, perlu menyadari bahwa instrumen ini bisa diperdagangkan (diperjualbelikan) di pasar sekunder. Pasar sekunder artinya tempat investor bisa menjual atau membeli instrumen dari investor lain.

Perdagangan di pasar sekunder memberikan "jendela" bagi investor yang tertinggal untuk membeli instrumen melalui "pintu" pasar perdana ketika pemerintah menawarkan ORI untuk pertama kali. Selain itu, pasar sekunder menjadi "jendela darurat" ketika investor yang sudah membeli ORI dan sukuk ritel (Sukri) harus menjual investasinya karena membutuhkan dana sebelum sampai jatuh tempo.

Ada sisi lain dari pasar sekunder. Yakni, peluang mendapat untung yang sering disebut capital gain, jika investor bisa menjual ORI pada harga di atas harga ketika membeli. Apa yang menyebabkan harga ORI bisa naik? Faktor utamanya adalah perubahan suku bunga.

Di pasar perdana, harga ORI dan Sukri umumnya 100, artinya nilai nominal investasi yang diperoleh investor sama (100%) dengan jumlah dana yang dibayarkan. Jika suku bunga (misalnya, bunga deposito) di kemudian hari menurun, maka harga ORI akan naik menjadi 103, contohnya. Berarti, untuk membeli ORI dengan nilai Rp 100 juta, maka investor yang mau membeli harus membayar Rp 103 juta (103% x Rp 100 juta). Sementara investor yang menjualnya akan mendapat untung 3% dari nilai modal awal.

Namun perlu dipahami, ada sisi lain lagi. Yaitu, munculnya risiko kerugian (capital loss) bila investor butuh dana sebelum jatuh tempo dan terpaksa harus menjual ORI ketika harganya lebih rendah dari harga ketika membeli. Apa penyebabnya?

Penyebab utamanya adalah, kalau terjadi kenaikan suku bunga. Sebagai contoh, jika investor membeli di pasar perdana di level 100, di kemudian hari bunga deposito naik, maka harga ORI bisa turun menjadi misalnya 98. Artinya, investor yang menjual obligasi ritel harus mau menerima Rp 98 juta atau rugi 2% dari modal awal sebesar Rp 100 juta saat membeli.

Besar kecilnya persentase kenaikan atau penurunan harga obligasi tergantung dari besar kecilnya penurunan atau kenaikan suku bunga. Selain itu, faktor demand dan supply antara minat beli dan jual juga akan memengaruhi harga Obligasi Ritel RI.

Reporter: Eko Pratomo
Editor: hendrika.yunaprita

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×