kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.126
  • LQ45953,87   31,19   3.38%
  • SUN98,94 0,36%
  • EMAS618.112 0,33%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Menutup 2017 dengan Paripurna

Menutup 2017 dengan Paripurna
Pengamat Pasar Modal

Jumat (15/12), IHSG kembali mencetak rekor. IHSG ditutup pada rekor harga tertinggi dan harga penutupan tertinggi baru, 6.119,42. Dibanding posisi penutupan tahun kemarin di 5.296,71, berarti IHSG sudah naik 15,53%.

Bagus? Enggak terlalu spesial sebenarnya. Kenaikan tertinggi IHSG 10 tahun terakhir adalah 1.278,13 poin pada 2009. Maklum, mungkin karena habis krisis, IHSG naik terlalu bersemangat. Rata-rata kenaikan IHSG 10 tahun terakhir adalah 17,62%. Jadi, kenaikan 15,53% masih di bawah rata-rata kenaikan IHSG 10 tahun terakhir.

Jadi kenapa IHSG naik? Apa karena pemodal asing? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu melihat aliran dana asing di pasar reguler. Silakan tengok grafik di halaman ini.

Dibandingkan posisi beli di pasar reguler di akhir 2016, asing telah mencetak posisi jual Rp 3,5 triliun. Di 2017 ini, IHSG naik sebesar 15,53%, tapi asing malah jualan. Yang lebih menarik, asing melakukan posisi jual dari sekitar Mei, bulan ketika peringkat investment grade diberikan oleh S&P kepada surat utang Indonesia.

Kenapa begitu? Sulit mencari jawaban yang benar. Tapi, ada beberapa kemungkinan menurut saya. Pertama, asing melepas posisi di saham, masuk ke obligasi. Artinya, alokasi Indonesia dalam portofolio global sebenarnya relatif tetap sejak investment grade. Asing terpaksa melepas saham untuk membeli obligasi.Ini bisa dilihat dari yield obligasi acuan 10 tahun Indonesia, yang turun dari 7,7% di Maret jadi 6,8% di November. Untuk obligasi bertenor 30 tahun, yield-nya malah turun dari 8,4% jadi 7,5% untuk periode yang sama.

Kedua, karena kinerja emiten di 2017 ini biasa-biasa saja. Pertumbuhan ekonomi yang stagnan di 5,1% membuat kinerja emiten tidak spesial. Apalagi berita-berita mengenai penurunan daya beli, sepinya mal, sepertinya membuat pemodal asing beralih dari saham ke obligasi. Mereka melepas saham yang dipandang lebih berisiko.

Kalau asing keluar, mengapa IHSG bisa naik? Untuk menjawab pertanyaan itu, mari lihat aliran dana asing di setiap sektor penggerak IHSG. Penggerak utama dari IHSG sebenarnya hanya lima: finansial, konsumer, manufaktur, infrastruktur, dan tambang. Silakan lihat grafik.

Ada beberapa hal menarik dari grafik aliran dana asing di sektor saham. Pertama, dana asing di sektor finansial relatif bertahan. Di 2017, asing masih mencatat posisi beli Rp 10,4 triliun di pasar reguler. Empat dari 10 saham penggerak utama IHSG adalah saham perbankan, yakni BBCA, BMRI, BBRI dan BBNI. Bertahan asing di sektor ini sebenarnya cukup menjelaskan mengapa IHSG masih bisa naik ketika asing melepas posisi di bursa kita. Harga saham perbankan yang relatif tidak turun, atau malah naik, membuat IHSG bisa bertahan.

Kedua, meski terlihat dana asing keluar pasca S&P memberi peringkat investment grade Mei lalu, tapi pemodal asing tidak sepenuhnya keluar dari semua sektor. Asing malah net buy di sektor tambang. Tekanan jual asing terlihat di sektor manufaktur dan infrastruktur.

Tekanan jual terparah terlihat di sektor infrastruktur. Setelah Indonesia mendapat investment grade, asing malah jual bersih Rp 13,1 triliun di infrastruktur! Sebuah angka yang spektakuler!

Padahal pembangunan infrastruktur adalah program utama Presiden Jokowi. Tapi, mengapa pemodal asing malah keluar? Keluarnya asing dari infrastruktur ini bukan karena asing keluar dari saham konstruksi. Saham konstruksi tergabungnya ke sektor properti. Di sektor properti, asing masih mencatat posisi beli sekitar Rp 1,4 triliun. Di infrastruktur, asing melakukan tekanan jual pada saham TLKM dan PGAS.

Jadi, bagaimana IHSG tahun depan? Di akhir tahun seperti ini, saya selalu mengintip target konsensus dari analis fundamental. Kalau saya, saya sepertinya menggunakan resisten 6.900 sebagai target teknikal dari IHSG. Apakah masuk akal?

Saya coba lihat proyeksi 10 saham penggerak IHSG di Asian Wallstreet Journal. Dari proyeksi itu, saya mendapat target fundamental IHSG di 6.248 untuk rata-rata dan 6.305 untuk median. Jadi, dengan IHSG yang sudah di atas 6.100, analis fundamental sebenarnya belum melihat sesuatu yang bisa menjadi pendorong IHSG. Katalis bagi IHSG untuk mencapai 6.900 di 2018 belum terlihat hingga saat ini. Kondisi ekonomi juga masih masih dalam tanda tanya. Asing juga masih di luar.

Dengan target konsensus fundamental yang cukup dekat, di mana potensi upside hanya sekitar 2%–3 %, IHSG rawan konsolidasi dalam jangka pendek. IHSG masih akan bergerak naik, namun saya enggak yakin sekarang adalah waktu terbaik untuk melakukan posisi beli. Saya mau tunggu IHSG koreksi, baru akan ambil posisi beli.


Close [X]