kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.405
  • LQ45926,71   6,75   0.73%
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS601.968 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Kampanye putih

Kampanye putih
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Semua rakyat Indonesia sudah maklum bahwa 2018 adalah tahun politik. Kita akan menyaksikan 573 pasang calon kepala daerah berkontestasi di 171 daerah. Hiruk pikuknya sudah dimulai tahun lalu, dan menjadi semakin kencang di awal tahun.

Mulai 15 Februari 2018, agenda pilkada akan menginjak periode kampanye. Spanduk akan bertebaran di mana-mana, termasuk di layar gawai kita.

Yang jelas, pada hari-hari tertentu akan terjadi pengumpulan masa secara masif di stadion luas ataupun lapangan terbuka.

Pada momen itulah, para pasangan calon dan juru pidatonya akan tampil menjual gagasan dengan nada penuh janji.

Kita menyebutnya sebagai kampanye, ajang untuk mempromosikan “kecap”nya masing-masing, yang sudah pasti diakui sebagai nomor satu di dunia.

Pembaca semua, termasuk juga saya, pasti sudah maklum dengan urusan kampanye ini. Beberapa hari lalu, seorang teman aktivis partai memperkenalkan satu istilah baru kepada saya, yakni “kampanye putih”.

Katanya, ini paralel dengan istilah “kebohongan putih” (white-lies) ataupun hoax yang membangun (positive hoax) yang baru beredar belakangan ini.

Dengan rasa ingin tahu besar, saya mendengar penjelasan sang teman, yang kebetulan memang sudah terlibat dalam beberapa pilkada sebelumnya.

“Kampanye, per definisi, adalah kegiatan yang ditujukan untuk mempengaruhi dan meyakinkan khalayak banyak. Ujung dari kampanye adalah pada akhirnya orang sudi untuk memilih kita,” demikian petuah pembuka sang teman.

Dalam hati saya bersepakat, namun apa hubungannya dengan diskursus “kampanye putih”?

Seolah mengetahui isi benak saya, sang teman berujar kembali, “Walaupun ingin memenangkan kontestasi, kami berusaha melakukannya dengan cara yang “baik”. Kami tidak ingin terjebak dengan kampanye hitam, yang secara jahat menjelek-jelekkan mitra kontestasi.”

Dengan pelan dan tegas, ia menekankan kata “baik”, seolah hendak meyakinkan saya bahwa inilah esensi dari “kampanye putih’, yang membedakannya secara diametral dengan “kampanye hitam”.

“Prinsip dari kampanye putih adalah menjaga niat baik, sekalipun dalam pelaksanaannya terkadang dibutuhkan beberapa penyesuaian situasional,” katanya dengan nada setengah berpidato.

Ia segera melanjutkan, “Sebenarnya banyak politisi yang ikut berkontestasi dengan niat baik, yakni mengabdikan diri untuk kepentingan rakyat dan kesejahteraan masyarakat.


Close [X]