kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.875
  • LQ451.010,88   -16,58   -1.61%
  • SUN102,00 -0,22%
  • EMAS614.076 0,00%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Sensasi kehebatan

Sensasi kehebatan
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Bill Gates pernah berujar bahwa kesuksesan adalah guru yang buruk! Jangan salah paham dulu, pembaca. Petuah di atas jangan diartikan bahwa seseorang tak boleh mengenyam kesuksesan.

Siapa pula yang tak ingin meraih dan merasakan kesuksesan? Bahkan, beberapa motivator dengan lantang mengatakan success is my right.

Persoalannya, kesuksesan seringkali berhimpitan dengan keangkuhan dan membuat orang merasa diri hebat. Kesuksesan, apalagi dimaknai sebagai “hak”, acapkali ditafsirkan sebagai sesuatu yang given, “dari sononya” sudah diperuntukkan bagi seseorang.

Ketika kesuksesan dimaknai sebagai “hak” dan disikapi dengan kesombongan, orang jadi kehilangan kerendahhatian untuk senantiasa belajar. Itulah argumen di balik petuah Gates, yakni success seduces (smart) people into thinking they can’t lose.

Perasaan kesombongan atas kesuksesan ini tak hanya bisa terjadi pada individu, namun juga di tingkat organisasi dan bisa mendatangkan dampak negatif yang dahsyat.

Jim Collins, dalam bukunya How The Mighty Fall (2009) bahkan menjadikan keangkuhan yang lahir dari kesuksesan ini (hubris born of success) sebagai tahapan paling awal dari kejatuhan perusahaan-perusahaan besar.

Karena merasa sukses, perusahaan merasa tak perlu belajar untuk meraih yang lebih baik dan baik lagi.

Lebih jauh, Collins juga mengatakan bahwa kesuksesan dapat mendatangkan sensasi “mabuk kehebatan”. Laksana orang mabuk, pandangan menjadi kabur dan kehilangan objektivitas.

Organisasi tak ikhlas menerima kenyataan yang berbeda dengan keinginannya. Jika ada pencapaian organisasi yang tak sesuai harapan, alih-alih mengevaluasi ke dalam (internal), yang dilakukan justru menuding pihak luar (eksternal) sebagai sumber masalah.

Jika ada informasi yang tak sesuai keinginan, bukannya dicerna dan dibedah secara objektif, malahan disimpan erat agar tak muncul ke permukaan.

Terkadang, informasi itu bahkan dimanipulasi sedemikian rupa hingga sesuai dengan keinginan. Sikap manipulatif dan politicking akan menjadi nuansa yang menonjol dalam keseharian organisasi seperti ini.


Close [X]