kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.473
  • LQ45925,17   4,21   0.46%
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS600.960 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Bersikap obsesif

Bersikap obsesif
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Artikel saya tiga minggu lalu di tabloid ini, berjudul “Bekerja Dalam Diam”, mengingatkan pentingnya sikap fokus dalam melakukan eksekusi.

Fokus membuat kita sanggup mengerahkan seluruh atensi dan energi untuk mengeksekusi sebuah rencana kerja.

Fokus juga membuat seseorang “setia” terhadap apa yang sudah dimulainya, tak mudah terdistraksi dengan hal-hal baru yang muncul belakangan.

Intinya, fokus mengantar seseorang pada ketuntasan; bisa memulai, juga sanggup mengakhiri dengan sama baiknya!

Beberapa hari berselang, saya menemukan buku bertajuk Be Obsessed or Be Average, yang ditulis Grant Cardone (2017).

Berangkat dari pengalaman pribadinya, Cardone berkeyakinan, tanpa obsesi, seseorang tak akan bisa meraih pencapaian yang berarti dalam hidupnya.

Orang-orang besar adalah sosok yang “menggendong” erat mimpi pribadinya masing-masing selama dua puluh empat jam dalam sehari. Mereka beraktivitas, makan, minum, berinteraksi, dan tidur dengan mimpinya.

Saat tertidur pun, mereka bermimpi tentang mimpi tersebut. Contoh, Steve Jobs bermimpi “meninggalkan jejak di alam semesta”. Sementara Bill Gates memimpikan kehadiran perangkat komputer di setiap rumah di muka bumi.

Saya membayangkan, teman yang belajar ilmu psikologi bisa jadi merasa tak nyaman dengan istilah obsessed.

Dalam khazanah ilmu psikologi, istilah “obsesif” dimaknai sebagai suatu gejala patologis (tak sehat) dalam kehidupan mental seseorang.

Dikatakan patologis, karena obsesi mewujudkan diri dalam bentuk pikiran/gagasan yang muncul di benak secara berulang, intens dan cenderung tak dapat dikontrol.

Jika ada pikiran yang tak dapat dikendalikan, dapat dipastikan akan muncul ketegangan, kecemasan dan ketidakseimbangan (in-equilibrium).

Padahal, secara psikologis dapat disimpulkan bahwa kondisi mental yang sehat adalah kondisi mental yang seimbang (equilibrium).

Obsesi yang dimaksudkan Cardone adalah bentuk konsolidasi pikiran manusia, entah dalam keadaan sadar (conscious) maupun tak sadar (unconscious).

Sekalipun membuat pikiran manusia bekerja intens penuh ketegangan, obsesi memampukan seseorang membangun fokus; tak mudah terdistraksi dengan perkara-perkara di luar “mimpi” mereka.

Semakin hari, semakin banyak distraksi yang mengelilingi hidup keseharian kita.

Bayangkan, jutaan orang menghabiskan 3-4 jam pada siang hari membuka Facebook, dan malamnya terdiam menyaksikan tayangan di televisi. Belum lagi distraksi yang diciptakan platform media sosial lain.

Kita dihujani berita di internet selama 24 jam sehari, miliaran kicauan di Twitter, ratusan juta video harian di Snapchat dan Youtube, dan berjuta-juta postingan tak relevan, bahkan mungkin juga tak berguna!

Dengan begitu banyaknya distraksi yang mengepung, jelas tak muda bagi kita untuk menjaga fokus.

Lagi-lagi, bagi Cardone, cara terbaik menangkal triliunan distraksi adalah membangun benteng bernama obsesi. Obsesi membuat pikiran manusia tak punya pilihan, kecuali fokus.

Seorang teman psikolog mengingatkan, sebaik-baiknya obsesi, tetaplah laksana pisau bermata ganda. Jika bisa dimanfaatkan, akan jadi sumber energi pikiran yang luar biasa.

Tapi, jika tak terkendali, justru akan memukul balik diri sendiri. Laksana hewan anjing, yang seringkali berlari berputar-putar mengejar ekornya sendiri.

Awalnya seru dan penuh semangat, tapi akhirnya pusing-sendiri. Tak ayal, ada saatnya kita harus fokus, karena seperti kata pakar psikologi Daniel Goleman, itulah syarat untuk meraih keunggulan (excellence).

Namun, ada saatnya juga kita berhenti sejenak, mengistirahatkan benak untuk menata pikiran dan mengatur langkah. “Jangankan pikiran, badan manusia saja butuh istirahat,” kata sang teman.

Masalahnya, orang yang terobsesi sering tak mau atau tak mampu untuk beristirahat.