kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.765
  • SUN93,03 -0,06%
  • EMAS609.032 0,50%
KOLOM / refleksi

Original intelligence

oleh Ekuslie Goestiandi - Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Rabu, 20 Juni 2018 / 17:22 WIB

Original intelligence



Suka tidak suka, teknologi memang telah mengubah banyak hal. Tak bisa dipungkiri, banyak kemaslahatan dan kemudahan yang dihasilkannya.

Teknologi membuat kerja menjadi lebih cepat, interaksi jadi tanpa batas, dan persoalan lebih mudah diselesaikan.

Namun, jelas juga, dalam hal tertentu teknologi telah mendatangkan ketidakbaikan dan kemunduran.

Dulu sebelum kita mengenal teknologi media sosial, hoax hanya beredar sebagai rumor orang-orang sekampung atau sekompleks.

Saat ini, hoax dengan mudah tersebar ke seantero dunia dengan satu pencetan di gawai. Ini sekadar contoh kecil ketidakbaikan akibat perkembangan teknologi. Bagaimana dengan urusan kemunduran? Saya akan membagikan sedikit pengalaman berikut.

Sebagai kids zaman old, orang-orang segenerasi dengan saya terlatih untuk melakukan perhitungan di luar kepala, khususnya untuk kalkulasi aritmatika sederhana.

Kalau kita pergi ke toko/warung untuk membeli barang yang harganya berkisar angka ribuan, biasanya kalkulasi uang kembalian secara otomatis akan dilakukan di luar kepala. Itu adalah common-practice pada waktu itu.

Namun, apa yang terjadi dengan zaman now? Dalam banyak kesempatan, saya menemukan perhitungan (uang kembalian) yang sesungguhnya amat sederhana, ditempuh lewat pencetan jari di benda bernama kalkulator.

Sekalipun perhitungannya hanya menyangkut angka ratusan atau ribuan, refleks yang dilakukan oleh kasir adalah memencet kalkulator, bukannya menghitung di dalam benaknya.

Seloroh seorang teman, “Kalkulatornya nggak tambah pintar, tapi otak manusia makin tumpul.”

Ini baru bicara tentang ketergantungan orang pada alat bernama kalkulator, teknologi yang sudah dikembangkan sejak era Revolusi Industri 1.0!

Apa jadinya dengan teknologi (digital) yang dikembangkan pada saat ini, yang dikenal juga Revolusi Industri 4.0?

Menarik untuk disimak komentar seorang teman yang bekerja sebagai guru di sekolah National Plus tingkat SD.

Kata sang teman, “Saat ini kita tak perlu repot-repot mendidik anak untuk mengasah short term memory-nya, karena sudah banyak aplikasi digital yang bisa membantu kita!”.

Short term memory (disebut juga working memory) adalah ingatan jangka pendek yang diperlukan untuk keperluan-keperluan praktis dan sesaat, semisal ingatan akan rute jalan menuju satu lokasi tertentu.

Argumentasi sang teman tampak “masuk akal”, karena toh orang sekarang lebih mengandalkan aplikasi seperti Google Maps dan Waze (daripada ingatan sendiri) untuk mengantarnya menuju sebuah lokasi.

Aplikasi-aplikasi penunjuk jalan tersebut adalah produk teknologi era Revolusi Industri 4.0, yang salah-satunya ditandai dengan aktivasi artificial intelligence (kecerdasan buatan).

Walaupun bisa memaklumi omongan sang teman, dalam hati saya bertanya masygul, “Jangan-jangan, di masa mendatang, artificial intelligence (kecerdasan buatan) teknologi akan semakin pintar, dan perlahan-lahan original intelligence (kecerdasan asli) manusia akan semakin memudar


 

Jungkir balik

Memang, tak ada yang salah dengan pemanfaatan teknologi. Bahkan, harus! Namun, jika pemanfaatannya begitu eksesif, sama artinya kita menyediakan diri menjadi konsumen pasif teknologi; yang hanya bisa memanfaatkan (bahkan tergantung padanya), namun tak sanggup memikirkannya, apalagi melakukan inovasi terhadapnya.

Sejenak, saya teringat dengan cerita tua tentang penemu teori tata-surya Heliosentrisme. Pada abad 16, sebelum penemuan oleh Copernicus, orang percaya bahwa bumi adalah pusat peredaran tata surya.

Disebut juga dengan paham geosentris. Teori yang dimotori oleh Ptolemeus ini, didukung oleh para filsuf terpandang semisal Aristoteles, dan juga diamini oleh kaum agamawan ortodoks.

Bertahun-tahun, orang hidup dengan pengertian bahwa bumi adalah sentra dari jagad raya, yang diedari oleh pelbagai planet dan elemen kosmos lainnya.

Sampai seorang Copernicus menjungkirbalikkan paham tersebut, dan meletakkan teori baru bernama heliosentrisme, yang menempatkan matahari sebagai pusat edar alam semesta.

Copernicus bisa menemukan teori tersebut lewat penelitiannya yang intens dengan teropong astonomi yang diciptakan oleh astronom-astronom pendahulunya, termasuk Ptolemeus.

Namun sebagai intelektual yang cakap berpikir dan menghitung, ia tak hanya hanya asyik memanfaatkan teropong tersebut, namun melakukan pembaharuan terhadapnya.

Dengan menggunakan teropong yang diperbaharui itulah, ia melakukan riset yang mengantarnya pada penemuan teori baru.

Copernicus tidak keasyikan menggunakan teropong lama yang ada, apalagi tergantung padanya. Untunglah Copernicus memiliki original intelligence yang baik, sehingga berhasil memperbarui teropong tersebut dan menemukan teori baru.

Apa jadinya, kalau ia tak cakap berpikir dan berhitung; hanya asyik menggunakan teropong lamanya.


TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×