kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.473
  • LQ45925,17   4,21   0.46%
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS600.960 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Original intelligence

Original intelligence
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Suka tidak suka, teknologi memang telah mengubah banyak hal. Tak bisa dipungkiri, banyak kemaslahatan dan kemudahan yang dihasilkannya.

Teknologi membuat kerja menjadi lebih cepat, interaksi jadi tanpa batas, dan persoalan lebih mudah diselesaikan.

Namun, jelas juga, dalam hal tertentu teknologi telah mendatangkan ketidakbaikan dan kemunduran.

Dulu sebelum kita mengenal teknologi media sosial, hoax hanya beredar sebagai rumor orang-orang sekampung atau sekompleks.

Saat ini, hoax dengan mudah tersebar ke seantero dunia dengan satu pencetan di gawai. Ini sekadar contoh kecil ketidakbaikan akibat perkembangan teknologi. Bagaimana dengan urusan kemunduran? Saya akan membagikan sedikit pengalaman berikut.

Sebagai kids zaman old, orang-orang segenerasi dengan saya terlatih untuk melakukan perhitungan di luar kepala, khususnya untuk kalkulasi aritmatika sederhana.

Kalau kita pergi ke toko/warung untuk membeli barang yang harganya berkisar angka ribuan, biasanya kalkulasi uang kembalian secara otomatis akan dilakukan di luar kepala. Itu adalah common-practice pada waktu itu.

Namun, apa yang terjadi dengan zaman now? Dalam banyak kesempatan, saya menemukan perhitungan (uang kembalian) yang sesungguhnya amat sederhana, ditempuh lewat pencetan jari di benda bernama kalkulator.

Sekalipun perhitungannya hanya menyangkut angka ratusan atau ribuan, refleks yang dilakukan oleh kasir adalah memencet kalkulator, bukannya menghitung di dalam benaknya.

Seloroh seorang teman, “Kalkulatornya nggak tambah pintar, tapi otak manusia makin tumpul.”

Ini baru bicara tentang ketergantungan orang pada alat bernama kalkulator, teknologi yang sudah dikembangkan sejak era Revolusi Industri 1.0!

Apa jadinya dengan teknologi (digital) yang dikembangkan pada saat ini, yang dikenal juga Revolusi Industri 4.0?

Menarik untuk disimak komentar seorang teman yang bekerja sebagai guru di sekolah National Plus tingkat SD.

Kata sang teman, “Saat ini kita tak perlu repot-repot mendidik anak untuk mengasah short term memory-nya, karena sudah banyak aplikasi digital yang bisa membantu kita!”.

Short term memory (disebut juga working memory) adalah ingatan jangka pendek yang diperlukan untuk keperluan-keperluan praktis dan sesaat, semisal ingatan akan rute jalan menuju satu lokasi tertentu.

Argumentasi sang teman tampak “masuk akal”, karena toh orang sekarang lebih mengandalkan aplikasi seperti Google Maps dan Waze (daripada ingatan sendiri) untuk mengantarnya menuju sebuah lokasi.

Aplikasi-aplikasi penunjuk jalan tersebut adalah produk teknologi era Revolusi Industri 4.0, yang salah-satunya ditandai dengan aktivasi artificial intelligence (kecerdasan buatan).

Walaupun bisa memaklumi omongan sang teman, dalam hati saya bertanya masygul, “Jangan-jangan, di masa mendatang, artificial intelligence (kecerdasan buatan) teknologi akan semakin pintar, dan perlahan-lahan original intelligence (kecerdasan asli) manusia akan semakin memudar