kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.473
  • LQ45925,17   4,21   0.46%
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS600.960 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Medium Term Notes

Medium Term Notes
Senior Advisor PT BNP Paribas Investment Partners

Instrumen keuangan (utang) lain di pasar modal, selain obligasi dan sukuk, adalah medium term notes (MTN). Walau sudah ada istilah resminya di dalam bahasa Indonesia, yakni surat utang jangka menengah, namun di kalangan pelaku dan investor pasar modal, istilah MTN lebih sering digunakan.

Pembeda utama MTN dengan obligasi korporasi terletak dari proses penerbitan yang jauh lebih sederhana. Selain itu, jangka waktu MTN umumnya di bawah lima tahun.

MTN biasanya diterbitkan oleh perusahaan sebagai cara untuk mendapatkan dana segar berjangka menengah, dengan berutang kepada masyarakat secara langsung. Sementara bagi masyarakat investor, MTN bisa menjadi salah satu instrumen investasi.

Berbeda dengan obligasi yang diterbitkan melalui proses pernyataan pendaftaran kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dijual di pasar perdana melalui proses penawaran umum kepada publik, MTN tidak memerlukan pernyataan pendaftaran. Surat utang jangka menengah ini juga dijual di pasar perdana kepada beberapa pihak secara terbatas.

Dengan proses penawaran seperti di atas, MTN lebih banyak dibeli oleh investor institusi. Namun saat ini, dengan adanya reksadana, masyarakat umum bisa memiliki akses berinvestasi di MTN melalui reksadana tersebut. Nantinya, manajer investasi akan mengalokasikan dana masyarakat ke MTN. Penerbitan MTN bagi reksadana dan dana pensiun perlu memilik 'rating' dari lembaga pemeringkat efek. Investor reksadana sebaiknya mengetahui profil risiko dan imbal hasil dari MTN sebagai portofolio investasi dari reksadana berbasis MTN yang dibelinya.

Bagaimana profil risiko dan imbal hasil MTN dibandingkan obligasi korporasi pada umumnya? Tingkat risiko MTN lebih tinggi dari pada obligasi korporasi pada umumnya (tergantung kondisi perusahaan), karena proses dan persyaratan penerbitannya lebih "ringan" dari penerbitan obligasi. Karena itu, perusahaan penerbit MTN perlu memberikan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi untuk menarik minat investor.

Selain adanya risiko default atau gagal bayar, risiko MTN lainnya adalah tingkat likuiditas yang rendah di pasar sekunder. Rendahnya tingkat likuiditas ini membuat investor MTN cenderung berinvestasi di surat utang ini hingga jatuh tempo.