kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.473
  • LQ45925,17   4,21   0.46%
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS600.960 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Membeli Nilai, Membayar Harga

Membeli Nilai, Membayar Harga
Komisaris Utama PT Infinitum Advisory

Dalam suatu pelatihan, seorang pengajar mendadak mengeluarkan uang Rp 100.000 dan berkata kepada peserta pelatihan, siapa yang mau menukarnya dengan uang Rp 50.000? Tentu saja semua peserta yang hadir berkata mau.

Tapi ada satu peserta yang segera ke depan dan mengambil uang Rp 100.000 tersebut dan menyerahkan Rp 50.000. Peserta lain terkejut dan menyadari mereka harus segera melakukan aksi ketika sebuah kesempatan datang. Mereka juga sadar harus punya cukup modal untuk melakukan aksi tersebut. Dengan kata lain, memiliki Rp 50.000.

Lalu, pengajar tersebut mengeluarkan amplop dan menawarkan kepada peserta untuk menukar amplop tersebut dengan Rp 50.000. Beberapa peserta bergegas maju dan mengambil kesempatan tersebut. Salah satu peserta berhasil mendapat amplop itu. Tapi begitu dibuka, amplop tersebut ternyata kosong. Peserta itu telah membayar sesuatu yang tidak ada nilainya.

Peserta pertama adalah value investor dan yang kedua seorang spekulan. Peserta pertama tahu persis dia mengambil kesempatan bernilai Rp 100.000 dengan membayar Rp 50.000. Sedangkan peserta berikutnya mengambil kesempatan yang tidak pasti dengan membayar Rp 50.000.

Belajar dari cerita di atas, pelaku pasar modal, khususnya investor, harusnya menyadari mereka idealnya membeli aset atau surat berharga yang nilainya (value) jauh di atas apa yang dibayarkan. Seorang investor harusnya tidak membeli amplop kosong atau aset yang tidak diketahui dengan pasti nilainya. Bisa saja harga yang dibayarkan terlalu mahal sehingga potensi kerugian sangat besar di masa depan.

Bicara investasi, ada dua hal yang harus investor pahami, yaitu value dan harga. Harga adalah sesuatu yang dibayarkan sedangkan value adalah apa yang investor dapatkan. Investor di pasar modal harus melakukan perhitungan valuasi untuk menentukan nilai sebuah aset atau saham. Ada empat pendekatan utama yang dilakukan untuk melakukan valuasi, yaitu asset base model, discounted cash flow model, relative valuation model dan option model.

Asset base model atau model berbasis asset menghitung nilai sebuah saham atau perusahaan berdasarkan nilai aset dimiliki perusahaan. Dalam model ini dikenal beberapa pendekatan yang umum digunakan. Pertama, berdasarkan nilai buku atau book value perusahaan, di mana nilai buku adalah nilai asset berdasarkan catatan akuntansi. Misal, aset berwujud dicatat berdasarkan harga perolehan asset dikurangi depresiasi.

Kedua, berdasarkan likuidasi segera atas perusahaan tersebut. Bila perusahaan tersebut ditutup dan semua asetnya dijual saat itu, berapa kira-kira nilai perusahaan tersebut? Ketiga, berdasarkan harga pasar atau market value dari aset perusahaan tersebut. Metode ini dihitung dengan mengubah semua komponen dalam neraca perusahaan ke harga pasar.

Konsep kedua dilakukan dengan melibatkan nilai masa depan dengan melihat prospek bisnis perusahaan. Prospek masa depan sebuah bisnis dapat digambarkan dari aliran kas yang bisa diberikan perusahaan kepada pemegang saham. Perkiraan aliran kas masa depan tersebut lalu didiskon ke masa kini dengan menggunakan biaya modal perusahaan dan atau harapan keuntungan (expected return) dari investor tersebut.

Secara umum ada tiga model aliran kas di masa depan, yaitu dividen, free cash flow dan residual value. Dividen merupakan pembagian keuntungan yang dilakukan perusahaan kepada pemegang saham berdasarkan kesepakatan di rapat umum pemegang saham (RupS).

Tetapi tidak semua perusahaan membagi dividen secara rutin. Beberapa membagi dalam jumlah yang relatif kecil bila dibandingkan pencapaian laba. Bahkan ada perusahaan yang tidak membagi dividen akibat rencana ekspansi ataupun kerugian. Hal ini mendorong konsep penilaian saham dengan pendekatan free cash flow.

Konsep ini datang dari pemikiran perusahaan ingin terus berkembang sehingga tidak semua keuntungan dapat dikeluarkan dari perusahaan. Ada dua komponen yang dipertimbangkan, yaitu capex dan tambahan modal kerja.

Selain dua model di atas terdapat model ketiga yang sangat popular di pelaku pasar, yaitu relative valuation. Model ini mengacu pada upaya mencari nilai sebuah saham atau aset dengan membandingkan saham atau aset tersebut ke aset atau saham sejenis. Analogi sederhananya, bila seseorang ingin tahu harga pasar rumahnya, ia dapat mencari informasi dari rumah sejenis yang baru di jual.

Nilai sebuah saham dapat di ukur apakah murah atau mahal dengan melihat rasio perusahaan relatif terhadap perusahaan sejenis. Metode ini juga dapat membuat perbandingan dengan data masa lalu. Beberapa pihak juga membandingkan dengan data rata-rata industri dan atau rata-rata sektor.

Beberapa metode yang terkenal dari pendekatan relative valuation yaitu price earning ratio (PER), price book value (PBV) dan price to sales. PER digemari pelaku pasar karena kesederhanaan dan langsung membandingkan harga yang investor bayar dengan earning per share (EPS) saham tersebut. Dengan membandingkan beberapa rasio relative valuation, tadi investor dapat menemukan saham mana yang lebih bagus untuk investasi.

Dengan mempelajari beberapa metode valuasi di atas, investor dapat membeli aset yang benar dan menguntungkan berdasarkan analisa yang dilakukan. Investor juga tidak terjebak membeli amplop yang tidak diketahui isinya.

Melakukan valuasi membuat investor dapat menentukan saham mana yang harganya masih di bawah nilai saham tersebut.

Salam Investasi.