kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.773
  • SUN93,03 -0,06%
  • EMAS609.032 0,50%
KOLOM / siasatbisnis

Studi Model Bisnis Groupon yang Menolak Google

oleh Jennie M. Xue - Kolumnis internasional serial entrepreneur dan pengajar, bisnis, berbasis di California

Selasa, 03 Juli 2018 / 10:10 WIB

Studi Model Bisnis Groupon yang Menolak Google



Berdiri tahun 2008, Groupon mempunyai masa lalu yang cemerlang dan pernah dilamar oleh Google seharga US$ 6 miliar di tahun 2010. Sayang, ternyata model bisnis kupon online belum matang hingga hari ini, sehingga berbagai masalah timbul setelah penawaran saham perdana alias initial public offering (IPO) prematur.

Groupon menerima Series B investment sebesar US$ 30 juta pada Desember 2009. Setahun kemudian, Google menawar perusahaan ini senilai US$ 6 miliar. Tapi ditolak. Groupon melakukan IPO di Nasdaq dan mencapai nilai valuasi sebesar US$ 11,2 miliar.

Manajemen Groupon dikenal berantakan, termasuk kesalahan dokumentasi pendapatan di tahun 2010 dari US$ 714 juta menjadi US$ 312 juta. Di tahun 2011, mereka berhasil mendapat investasi US$ 700 juta dan nilai penjualan saham di hari pertama mencapai US$ 12,7 miliar.

Selain masalah manajemen berantakan, faktor utama kegagalan Groupon adalah model bisnis. Sebagai bisnis kupon online, Groupon mengandalkan email harian. Namun ternyata banyak pelanggan penerimanya yang menandai sebagai spam sehingga terjadi email bounce atau unsubscribe.

Selain itu, Groupon dikenal pemilih dalam menerima merchant yang mereka wakili. Merchant bersedia memberi kupon kepada para prospek, saat bisnis mereka sendiri sedang kembang kempis.

Bayangkan saja bagaimana bisnis yang sedang berkembang pesat dan yang sedang menukik turun. Apakah yang pertama mengeluarkan kupon-kupon pemotong harga? Biasanya tidak. Diskon biasanya hanya dilakukan oleh bisnis-bisnis yang sedang menghabiskan sisa stok maupun yang telah sulit bertahan.

Dalam satu tahun dari IPO, nilai saham Groupon turun 85%. Nilai total menjadi hanya US$ 2 miliar. Sehingga board of director memecat sang pendiri, Andrew Mason.

Ketika artikel ini ditulis, Groupon masih berdiri dengan nilai sekitar US$ 4,9 miliar. Bahkan Groupon telah mengakuisisi LivingSocial dari Amazon.

Amazon sendiri menanggung rugi akuisisi LivingSocial sebesar US$ 169 juta. Sebelumnya Google membeli seharga US$ 175 juta.

Satu lagi problem model bisnis kupon online ini. Sebenarnya, berapa banyak member yang sungguh-sungguh menggunakan kupon-kupon tersebut? Sebagaimana para follower media sosial yang bisa jadi berjuta-juta, sebenarnya berapa yang sungguh-sungguh berinteraksi dengan pemilik akun? Bisa jadi hanya beberapa.

Kondisi ini disebut vanity stat. Alias "statistik keren" tapi belum tentu valid."

Belajar dari studi kasus Groupon, bisa kita simpulkan bahwa tidak semua model bisnis dapat diterapkan secara online maupun offline. Selain itu, gaya dan kualitas manajemen juga sangat menentukan reputasi perusahaan serta bagaimana setiap tahap perkembangan tetap membantu pertumbuhan

Dalam kasus kupon online, merchant yang tertarik bergabung biasanya terbatas atas dua jenis. Pertama, yang omzetnya telah merosot, sehingga memberi kupon merupakan cara promosi menarik konsumen.

Kedua, begitu mendapatkan jumlah konsumen yang telah diharapkan, bisa saja kerja sama dengan Groupon dibatalkan. Karena tidak lagi memerlukan diskon untuk menarik konsumen.

Salah satu problem klasik Groupon adalah ketika salon yang berisi kursi-kursi sewaan para stylist ternyata ditolak oleh salon. Ketika salah satu stylist menggunakan Groupon dan lainnya tidak, ini bisa menjadi pemicu masalah para pengguna kupon tersebut.

Bisnis kupon adalah bisnis dengan margin sangat tipis, jadi dapat dipahami jika pertumbuhan tidak dapat dipaksakan meraksasa dalam sekejap. Dalam dua tahun pertama pendirian, hype cukup banyak karena antisipasi para investor akan sesuatu yang "baru". Valuasi pun menggelembung dahsyat. Google termasuk salah satu pengincar awal yang terkena demam gelembung ini.

Model bisnis kupon online saat itu masih sangat gres. Dan pasar Amerika Serikat (AS) yang baru saja mengalami The Great Recession tahun 2008 mengharapkan ada semacam harapan yang membantu kondisi finansial individu. Jadilah kupon online menjadi tumpuan harapan mereka.

Suatu model bisnis dapat dianalisa dari berbagai segi, termasuk kesiapan dan animo pasar, merchant yang terlibat dan para konsumen. Bagi para pemilik bisnis, pikirkan dengan baik-baik. Mungkinkah valuasi bisnis meraksasa dalam dua tahun pertama pendirian? Padahal omzet dan growth masih belum teruji?

Jika ternyata bisnis Anda divaluasi dengan demikian tinggi, bersiaplah ternyata itu hanya gelembung. Namun jika ada penawaran akuisisi sedahsyat tawaran Google, sebaiknya diterima. Karena bisa saja ini hanya terjadi satu kali dalam seumur hidup.

Reporter: Jennie M. Xue
Editor: hendrika.yunaprita

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×