kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.473
  • LQ45925,17   4,21   0.46%
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS600.960 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Kinerja Saham LQ45 versus Non-LQ45

Kinerja Saham LQ45 versus Non-LQ45
Staf Pengajar FEUI dan Pengamat Pasar Modal

Mengulangi kinerja di tahun-tahun sebelumnya, saham kecil dan tidak likuid kembali mendominasi 10 top gainers di BEI pada 2017. Sepuluh saham jawara itu sangat mungkin tidak pernah Anda koleksi: MARK, CLEO, OKAS, KIOS, ZINC, WICO, TOPS, MINA, MABA, dan TAMU yang memberikan keuntungan 540% hingga 3.155%, dengan rata-rata 1.300,6% atau naik 14 kali lipat selama satu tahun.

Bukan maksud saya untuk mengecilkan kemampuan Anda sebagai investor saham. Namun, dengan keterbatasan waktu dan uang, tidak mungkin Anda memahami 566 saham yang saat ini tercatat di BEI. Apalagi, kalau Anda adalah investor saham pasif yang hanya melihat live trade sesekali saja.

Oleh karena itu, untuk menebak 10 saham top gainers atau 20 saham paling untung, apalagi yang jadi juara, relatif sangat sulit. Saya pun tidak sanggup. Dan sejujurnya, di antara kesepuluh saham di atas, saya tidak mengenal apalagi sampai mengoleksinya.

Anda mempunyai mesin uang jika memiliki kemampuan ini. Sebab, Anda akan memperoleh return ratusan persen setiap tahun. Tetapi, jika nilai portofolio cukup besar, Anda juga hanya bisa menaruh sebagian kecil saja untuk saham-saham jawara di atas, mengingat kapitalisasi dan nilai transaksi harian saham-saham tersebut relatif kecil.

Saya tidak mampu menerka namun bisa memastikan, saham sang pemenang bukanlah saham LQ45. Tak satu pun dari 10 saham di atas yang termasuk 45 saham terlikuid. Dari nilai kapitalisasi pasar sebagai salah satu kriteria perusahaan bagus, tidak ada satu pun dari 10 saham top gainers yang masuk 50 saham berkapitalisasi terbesar di BEI pada akhir Desember 2017. Sebagian besar bukan perusahaan bagus karena hanya memiliki kapitalisasi Rp 600 miliaran hingga Rp 9 triliun.

Di bawah 10 saham di atas, masih ada 10 saham perusahaan jelek lainnya yang memberikan return minimal 303%. Keseluruhan 20 saham yang memberikan persentase capital gain sangat tinggi ini bukan 45 saham terlikuid (LQ45). Pada saat yang sama, top gainers LQ45 hanya memberikan gain tertinggi sebesar 208,5% yaitu BRPT.

LQ45 vs IHSG

Tertarik dengan kinerja saham LQ45 yang sangat jarang muncul di daftar top gainers, saya mencoba membandingkan kinerja LQ45 dengan IHSG. Memahami IHSG terdiri atas saham LQ45 dan non-LQ45, kita juga bisa menghitung perubahan indeks non-LQ45 periode yang sama berdasar IHSG dan indeks LQ45 yang ada.

Ternyata, kinerja indeks LQ45 lebih sering kalah dari IHSG dalam 10 tahun terakhir (20082017) yaitu selama tujuh tahun. Hanya pada 2014, 2015, dan 2017, indeks LQ45 mengungguli IHSG. Perbedaan kinerja paling mencolok dari kedua indeks itu terjadi pada 2010. IHSG membukukan keuntungan 46,1%, sedangkan indeks LQ45 hanya 32,7%.

Tahun 2010 layak dikenang sebagai tahun kejayaan saham-saham non-LQ45. Tanpa lompatan besar harga saham-saham non-LQ45 yang melejit 86,3%, tentu IHSG tidak akan melesat 46,1%. Untuk tahun lalu, indeks LQ45 mengalahkan IHSG yaitu 22% berbanding 20%. Ini mengulangi prestasi indeks LQ45 tahun 2014 yang melesat 26,4% saat IHSG hanya naik 22,3%. Tahun lain indeks LQ45 sedikit lebih baik daripada IHSG adalah tahun 2015, ketika IHSG terkoreksi 12,1% tapi indeks LQ45 hanya turun 11,9%.

Dengan asumsi bobot saham LQ45 di IHSG adalah 75% seperti kondisi rata-rata selama triwulan keempat 2017, saya menyusun perubahan indeks non-LQ45. Ditotal dalam kurun waktu 10 tahun, dari awal 2008 hingga akhir 2017 lalu, IHSG telah naik 131,5% (dari 2.746 ke 6.356) dan indeks LQ45 79,9% (dari 600,1 ke 1.079,4).

Apa implikasi temuan di atas untuk investor saham? Pertama, sesuai risikonya, saham emiten kecil yang tak likuid juga menyimpan potensi besar. Kedua, tetap harus menaruh sebagian besar dana di saham-saham LQ45 yang berkapitalisasi besar jika Anda adalah investor saham institusional yang mengelola dana masyarakat atau dana pensiun karyawan atau kas perusahaan. Berisiko sangat tinggi bila Anda punya ilusi mampu mengidentifikasi saham-saham yang akan menjadi 10 top gainers dan menaruh dana institusi dalam saham-saham itu.

Kondisi berbeda bagi Anda yang mengelola dana sendiri. Karena tak perlu mempertanggungjawabkan kinerja investasi ke orang lain kecuali diri sendiri dan keluarga, Anda bebas memilih saham. Silakan alokasikan sebagian dana, katakan 30% untuk saham non-LQ45. Tapi, menempatkan separuh atau lebih portofolio Anda di saham-saham ini juga tak saya sarankan, terutama jika jumlahnya besar, mengingat pasar dan frekuensinya yang tipis.