kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.473
  • LQ45925,17   4,21   0.46%
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS600.960 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

DropBox dan Secret Filing IPO Tahun Ini

DropBox dan Secret Filing IPO Tahun Ini
Kolumnis internasional serial entrepreneur dan pengajar, bisnis, berbasis di California

DropBox telah melakukan secret filing ke Securities and Exchange Commission (SEC) untuk penawaran saham perdana alias initial public offering (IPO) tahun ini. Nilai valuasi DropBox mencapai US$ 10 miliar dengan total sales per tahun US$ 1 miliar. DropBox sering dibandingkan dengan platform cloud storage serupa, Box.

Box berdiri tahun 2005 oleh Drew Houston dan telah go public di tahun 2015 dengan nilai valuasi sebesar US$ 1 miliar. Sedangkan DropBox berdiri tahun 2007 dan segera go public tahun ini.

Box memilih pasar business to business (B2B) , sedangkan DropBox berfokus business to consumer (B2C). Walaupun kini keduanya bermain di B2B dan B2C.

DropBox merupakan output dari Y Combinator yang didukung Sequoia Capital sebesar US$ 6 juta pada awal pendirian. Di tahun 2009, Steve Jobs pernah melamar DropBox untuk diakuisisi sebelum iCloud diluncurkan, tapi ditolak.

Beta user pertama DropBox mencapai 5.000 orang dan berikutnya 75,000 orang. Di tahun 2010, user freemium mencapai US$ 1 juta dan di tahun 2011 jumlahnya melonjak menjadi 50 juta pengguna. Valuasi saat itu mencapai US$ 250 juta. Jumlah pengguna melonjak terus. Di tahun 2013 mencapai 200 juta dan tahun 2015 mencapai 400 juta.

Kucuran dana segar sebesar US$ 350 juta pada tahun 2014 diperoleh dari Blackrock dan US$ 400 juta dari JP Morgan. Total dana yang dikucurkan sebesar US$ 1,2 miliar di tahun 2014. Total valuasi saat itu mencapai US$ 10 miliar.

Jumlah pengguna DropBox melonjak terus. Di tahun 2016, ada 500 juta pengguna perorangan dan 200.000 pengguna korporat. Uniknya, saat itu masih menggunakan AWS alias cloud-nya Amazon untuk menampung semua pengguna mereka.

Unik, bukan? Platfrom cloud terbesar di dunia ini ternyata "menyewa" platform cloud Amazon.

Di tahun 2017, dalam antisipasi IPO dan menjaga kerahasiaan pengguna, DropBox mendirikan data center sendiri. Dengan 500 juta user, data yang dimigrasi mencapai 500 petabytes.

Jadilah mereka migrasi besar-besar ke tiga data center milik DropBox sendiri yang didukung berbagai data center lokal pengguna region untuk meminimalkan latensi. "Latensi" adalah jeda ketika mengunduh sesuatu.

Satu lagi yang patut dicatat tentang DropBox pra IPO adalah pengangkatan anggota Board of Directors berpengalaman, yaitu Meg Whitman, Condoleeza Rice, dan Paul Jacobs. Meg Whitman dikenal sebagai CEO Hewlett-Packard, Condoleeza Rice adalah mantan Mensesneg Amerika Serikat (AS) dan Paul Jacobs adalah CEO Qualcomm.

Beberapa hal penting yang dapat kita pelajari dari DropBox. Satu, produk fleksibel dan dapat diunduh dengan latensi rendah (sangat cepat). DropBox sebagai cloud storage sangat fleksibel. Satu folder khusus otomatis muncul di Desktop yang kita gunakan. Juga dapat diakses dengan berbagai cara, termasuk langsung dari situs atau via aplikasi desktop dan mobile.

Dua, reaksi terhadap pasar sangat cepat dengan filosofi "try quick, dead quick". DropBox lentur dalam berstrategi merebut pangsa pasar. Juga dalam eksperimen dengan berbagai output delivery teknologi instingtif.

Tiga, mengantisipasi kemungkinan Amazon "menerkam" dengan memindahkan data ke data center milik sendiri. Menjaga kerahasiaan dan integritas data pengguna dengan memindahkan data ke data center milik sendiri. Ini juga memungkinkan pengunduhan data oleh pengguna dengan latensi minimal atau nol.

Empat, menyertakan para pebisnis ahli strategi dalam board of directors. Para nama besar dalam dunia bisnis dirangkul untuk memberikan masukan dan direksi bisnis di dunia yang semakin tanpa batas. Meg Whitman dan Paul Jacobs, terutama, sangat berpengalaman dalam mengangkat bisnis-bisnis berbasis teknologi.

Lima, model bisnis freemium yang jitu. Data yang kita hasilkan selalu bertambah, sangat jarang berkurang. Jadi, model bisnis freemium sangat tepat untuk bisnis cloud storage. Konversi pengguna gratis ke berbayar jelas dapat diprediksi probabilitasnya.

Enam, tidak gembar-gembor dalam proses persiapan IPO. Secret filing merupakan salah satu penyampaian filing pra-IPO di SEC.

Sebenarnya tidak ada rahasia, karena filing S1 DropBox masih dapat dibaca publik di SEC.gov. Perbedannya hanya waktu penyampaian public filing yang semakin dekat dengan hari IPO.

"Secret filing" memungkinkan tim go public untuk bekerja dengan tenang tanpa hingar bingar media dan investor. Fleksibilitas ini penting agar tidak ada penghalang yang tidak perlu sebelum hari IPO tersebut.

Akhir kata, DropBox dikelola dengan profesional dengan strategi tepat. Kansnya menjadi perusahaan yang langgeng sangat besar. Silakan belajar siasat bisnis dari DropBox.