kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.791
  • LQ45943,42   4,79   0.51%
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS614.076 0,00%

Setiap Pemimpin Harus Mengajar

Setiap Pemimpin Harus Mengajar
Kolumnis internasional serial entrepreneur dan pengajar, bisnis, berbasis di California

Great leaders need to be great teachers. Sebagai pemimpin, Anda perlu menjadi guru yang baik. Konsep pemimpin bukan lagi atau hanya seseorang yang menaungi tim, bukan juga sekedar seorang pengelola.

Seorang pemimpin adalah juga seorang mentor, coach dan guru. Tiga peran ini mirip dan sering kali tidak dipahami secara tepat.

Pertama-tama, bedakan dulu mentor dan coach. Skill yang dibutuhkan untuk menjadi seorang mentor dan coach sebenarnya mirip. Namun yang pertama lebih memfokuskan kepada technical skill jangka panjang dan yang kedua kepada soft skill jangka pendek.

Seorang marketer misalnya, memerlukan mentor yang mengarahkannya agar dapat lebih mendalami keterampilan-keterampilan teknis yang dibutuhkan dalam digital marketing. Sedangkan seorang coach membantu mengarahkan dalam mencapai gol-gol jangka pendek karier pemasaran.

Dengan kata lain, mentor menjawab "what" dan coach menjawab "how" dalam perjalanan karier seseorang. Lantas, sebagai pemimpin perlu bertindak sebagai mentor, coach, dan guru sekaligus? Tidakkah hal ini memberatkan?

Pertama, a leader wears many hats. Seorang pemimpin mengenakan beberapa topi, tidak hanya satu. Tiga fungsi ini saling terikat satu sama lain.

Ini bukan berarti setiap peran perlu dijalankan terpisah. Bisa saja mentoring, coaching dan teaching berjalan serentak.

Kedua, sebagai guru, ini bukan berarti menggurui secara sepihak. Seorang pemimpin sejatinya belajar terus-menerus untuk mempersiapkan diri mengajar para subordinat.

Dengan mengajar, ia belajar dari mereka yang diajar dan dari diri sendiri. Ada proses dan pergumulan di dalam diri di mana pembelajaran menjadi bahan pengajaran dan ketika mengajar terjadi proses pembelajaran juga.

Ya, bukanlah pemimpin sebenarnya apabila ia hanya jago memerintah dan menyuruh saja. Ia harus mampu menunjukkan standar yang diharapkan dengan mempraktikkan tanpa perlu berteori panjang lebar.

Minimal, seorang pemimpin perlu mengenal setiap posisi pekerjaan para subordinat, job description dan bagaimana memperbaiki output secara kualitas dan kuantitas. Dan ini membutuhkan kemampuan belajar yang besar. Ini merupakan bahan pembelajaran sang guru.

Seorang guru yang baik adalah murid yang baik. Ia adalah pembelajar sepanjang hayat. Dengan strategic and learning skills yang dimiliki pemimpin, ia mampu memahami dan mengerjakan apa yang dikerjakan para subordinat. Tugas selanjutnya adalah bagaimana ia memberi masukan akan perbaikan sebagai guru pembelajar.

Sebagai guru, pemimpin akan dapat mengenali siapa saja di antara para murid yang mempunyai kemampuan besar sebagai suksesor. Tanpa menjadi guru, pemimpin hanya dapat menilai seseorang dari performance review dan aktivitas-aktivitas rutin dan proyek.

Proses belajar seseorang membuka tabir "siapa dia," maka para chief executive officer (CEO) menggunakan kegiatan mengajar ini sebagai sarana untuk mengenali para prodigy pemimpin masa depan. Inilah sesungguhnya salah satu pentingnya mengajar sebagai pemimpin.

Pemimpin perlu mengenali para calon pemimpin di masa depan yang dapat memimpin perusahaan sesuai perkembangan zaman di masa itu. Sayangnya, kebanyakan hanya mencari pengganti yang serupa dengan diri mereka.

Mindset seperti ini perlu diubah, karena kondisi masa depan sangat berbeda dengan kondisi sekarang. Pemimpin perlu mampu mengenali kebutuhan di masa depan dan siapa saja yang memiliki kemampuan sesuai.

Contohnya, revolusi industri keempat yang kini tengah kita jalani merupakan masa transisi, yakni artificial intelligence atau kecerdasan buatan dan robotik akan menjadi arus tengah. Berjuta-juta posisi akan tergantikan, sehingga kesiapan teknologi dan personel sangat berbeda.

Dalam proses mengajar, pemimpin perlu menanamkan kepada subordinat untuk menyadari seperti apa dunia di masa depan, skill dan tool yang amat dibutuhkan. Salah satu metode paling jitu yang dapat dipakai adalah active learning. Pondasi teoritis dibarengi dengan hands on experiences.

Active learning bukan hanya mendengarkan presentasi dan seminar secara pasif di tempat duduk. Namun menjalankan aktivitas-aktivitas sebenarnya yang dijalankan dengan dukungan informasi terkini.

Pemimpin sebagai seorang guru memberikan contoh bahwa hasil (result) jauh lebih berarti daripada kemampuan intelektual teoritis dan menginspirasi belaka. Akhir kata, setiap orang adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Dengan belajar, Anda menjadi pengajar dan pemimpin yang lebih baik. Selamat mempersiapkan tim masa depan.