kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,36   15,51   2.24%
  • EMAS908.000 -0,11%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN -0.19%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.21%
KOLOM /

Angsa Hitam Bernama Korona

oleh Lukas Setia Atmaja - IG: lukas_setiaatmaja www.hungrystock.com


Rabu, 06 Mei 2020 / 15:36 WIB
Angsa Hitam Bernama Korona
ILUSTRASI. Lukas Setia Atmadja. KONTAN/Baihaki/12/5/2015

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saat memutuskan untuk membeli suatu saham, investor dianjurkan untuk melakukan analisis fundamental. Mereka harus memprediksi arus kas perusahaan di masa depan agar bisa memperkirakan nilai perusahaan tersebut. Namun, benarkah kinerja sebuah perusahaan memang bisa diprediksi?

Suatu ketika, di kelas Investasi, saya mengusulkan ke mahasiswa, Bagaimana kalau kita undang juga seorang paranormal sebagai pengajar tamu? Tentu saja saya bermaksud bercanda. Bagaimana mungkin mahasiswa program S-2 belajar hal-hal yang tidak scientific?

Namun, pesan yang ingin saya sampaikan ke para mahasiswa saya tersebut adalah hal tersulit dalam menentukan valuasi sebuah saham atau perusahaan bukanlah memahami metoda valuasinya. Metoda popular seperti discounted cash flows bisa mereka telan cepat.

Tetapi untuk mendapatkan valuasi dengan akurasi tinggi, dibutuhkan kemampuan untuk menerawang masa depan. Kita harus bisa memprediksi kondisi perekonomian dunia, nasional, industri atau sektor yang dijalani oleh perusahaan hingga kondisi internal perusahaan itu sendiri.

Puluhan pertanyaan sulit bermunculan saat kita melakukan perhitungan valuasi atas sebuah saham. Apakah perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok akan berlanjut? Apakah The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga? Berapa pertumbuhan ekonomi Indonesia? Bagaimana integritas manajemen perusahaan tersebut? Apakah marjin laba dan pertumbuhan penjualan bisa ditingkatkan?

Jadi, menghitung valuasi tidak semudah yang kita bayangkan. Antara lain karena ada kejadian-kejadian yang tidak terduga. Kita mungkin mengira hal tersebut mustahil terjadi, namun kenyataannya terjadi. Yang jadi masalah bila kejadian langka tersebut ternyata menimbulkan dampak besar.

Nassim Nicholas Taleb, pakar keuangan dari New York University dan mantan trader saham di Wall Street, menyebut kejadian yang hampir mustahil tersebut sebagai Black Swan. Istilah ini diambil dari cerita tentang keyakinan bahwa angsa semuanya pasti berwarna putih.

Angsa hitam dianggap mustahil, karena banyak yang tidak sadar di Australia terdapat angsa hitam. Maka angsa hitam digunakan untuk menyebut kejadian yang tidak umum (unusual), namun bukan tak mungkin (impossible). Karena probabilitasnya teramat kecil, kejadian angsa hitam sulit diprediksi.

Banyak contoh kejadian angsa hitam yang pernah terjadi di dunia. Dalam dunia olahraga misalnya, pada Piala Dunia 2014 lalu, dalam mimpi yang terburuk pun orang tidak akan berani meramalkan bahwa Brasil bakal kalah telak dengan skor 1-7 dari Jerman.

Dalam bukunya, The Black Swan: The Impact of Highly Improbable (2007), Nassem Taleb memberi contoh kejadian angsa hitam. Mulai dari penggunaan internet, komputer pribadi, Perang Dunia I, pecahnya negara Uni Soviet, hingga serangan September 11.

Di bidang ekonomi, beberapa contoh peristiwa angsa hitam misalnya market crash di Wall Street pada tahun 1929, Black Monday yang terjadi pada 1987 di pasar modal Amerika Serikat, serta krisis keuangan global pada 2008 silam. Peristiwa angsa hitam yang terkini adalah wabah virus korona.

Dalam bukunya, Nassem Taleb tidak mengajarkan bagaimana memprediksi kejadian Black Swan. Namun ia menasehati agar pembaca membangun pertahanan yang solid terhadap dampak negatif yang ditimbulkan angsa hitam dan memanfaatkan dampak positifnya.

Dampak kejadian angsa hitam tergantung pada observer atawa pihak yang mengalaminya. Kejutan angsa hitam bagi seekor ayam kalkun akan berbeda dengan kejutan bagi si pemotong ayam kalkun. Keberhasilan iPhone adalah angsa hitam bagi perusahaan kompetitor Apple, namun pasti tidak demikian untuk pemegang saham Apple.

Maka, pembaca harus menghindari posisi sebagai ayam kalkun. Bagaimana caranya? Yaitu dengan cara mengidentifikasi kelemahan-kelemahan, sehingga bisa menjadikan angsa hitam sebagai angsa putih.

Jika kita siap menghadapi kejadian angsa hitam, kita tidak mudah panik ketika ia tiba-tiba muncul di antara kerumunan angsa putih. Kejadian angsa hitam tidak bisa dihindari, namun bukan berarti tidak bisa dinikmati.

Kita bisa belajar dari Warren Buffett dalam kasus wabah Covid-19 yang terjadi di tahun ini. Warren Buffett mengaku tidak kaget dengan angsa hitam bernama virus korona tersebut. "I've always felt a pandemic would happen sometime", kata Warren Buffett.

Laporan keuangan periode kuartal pertama 2020 Berkshire Hathaway, holding company yang dikelola oleh Warren Buffett, menunjukkan kerugian sebesar US$ 50 miliar, atau sekitar Rp 800 triliun, akibat sentimen penyebaran Covid-19.

Meski begitu, Warren Buffett tetap optimistis. Sebagai catatan, Berkshire Hathaway mencatatkan unrealized loss dengan nilai sebesar US$ 55,5 miliar, akibat penurunan nilai pasar saham-saham yang ada dalam portofolionya.

Hal lain yang perlu dicatat, Warren Buffett membeli saham dengan horizon investasi jangka panjang. Investor kelas wahid tersebut memiliki prinsip, dirinya membeli bisnis untuk dimiliki selama 20 tahun, atau bahkan 30 tahun. "We buy them in whole, we buy them in parts ... and we think the 20- and 30-year outlook is not changed by the coronavirus," ujar Buffett.

Yang menarik, di akhir kuartal pertama 2020, Berkshire Hathaway diketahui memegang uang tunai dalam jumlah yang sangat besar, US$ 137 miliar, atau sekitar Rp 2.200 triliun. Jumlah tersebut naik US$ 10 miliar dari posisi akhir tahun 2019 lalu.

Hal ini mengindikasikan bahwa Warren Buffett hanya membeli sedikit saham saat indeks harga saham di Amerika sempat turun sekitar 30%. Mungkin Warren Buffett tidak menemukan saham yang dia anggap layak untuk dibeli.

Atau, kemungkinan lainnya, dia sedang menunggu kesempatan gelombang koreksi harga saham yang kedua datang. Yang jelas, dengan uang kas begitu besar di tangan, Buffett bisa menikmati kejadian angsa hitam bernama korona.



TERBARU

[X]
×