kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.393
  • EMAS666.000 0,60%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Armageddon atau amanah?

oleh Ekuslie Goestiandi - Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Senin, 11 Februari 2019 / 17:46 WIB

Armageddon atau amanah?
ILUSTRASI. Ekuslie Goestiandi

KONTAN.CO.ID -  Menjelang hajatan Pemilu 17 April 2019, khususnya pemilihan presiden, sangat menarik melihat perilaku kampanye para politisi.

Para tim sukses masing-masing paslon berlomba berteriak untuk memenangkan hati rakyat. Belakangan, kita bahkan sempat mendengar seruan, “Momen pilpres laksana Armageddon, pertempuran besar sekelas Baratayuda”.

Jadi, harus disiapkan sedemikian cermat, supaya dapat dimenangkan sedemikian rupa pula. Kelompok yang dulunya pernah menjadi lingkaran dekat penguasa lama, juga berteriak tak kalah kencangnya.

Semboyan “Enak zamanku toh?”, yang merujuk kepada era penguasa yang pernah bertahta lama di republik ini, menjadi tagline yang sering disemburkan kembali ke telinga publik.

Tak pelak, jargon-jargon heroik semisal “penggantian, perlawanan, pembaharuan” lazim muncul dalam orasi kelompok yang saya sebut sebagai kelompok pro-perjuangan.

Sebaliknya, ada pula yang berkampanye dengan nada yang lebih teduh. Ada yang, misalnya, berujar, “Pemilu semestinya menjadi festival demokrasi yang mendatangkan kegembiraan bagi rakyat”.

Tokoh politik lain berkomentar, “Biarkanlah rakyat yang nanti memutuskan sendiri, siapa yang pantas menjadi pemimpin mereka”.

Berbagai argumentasi filosofis nan bijak digunakan oleh kelompok yang saya namai sebagai kelompok pro-amanah.

Seorang teman politikus bahkan pernah bertutur takzim kepada saya, “Menjadi pemimpin adalah sebuah takdir Ilahi. Orang bule menyebutnya destiny!”.

Dalam khazanah ilmu kepemimpinan, kita sering dihadapkan dengan pertanyaan klasik berikut. “Apakah seorang pemimpin hebat itu dilahirkan (born) atau diciptakan (made)?”

Hingga saat ini, pertanyaan tersebut menjadi diskursus yang tiada henti diperdebatkan. Jika seorang pemimpin hebat itu dilahirkan, maka garis keturunan dan bakat alami menjadi faktor penting yang menentukan kehebatan sang pemimpin.

Sebaliknya, jika seorang pemimpin akbar diciptakan, maka pengaruh lingkungan dan pola pendidikan memberikan kontribusi besar bagi keberhasilannya.

Pola pikir atas pertanyaan tersebut sangat menentukan cara kita menyikapi urusan kepemimpinan ini.

Kelompok yang menganut paham pemimpin sebagai sosok yang dilahirkan (born) akan merasa lebih nyaman untuk memilih pemimpin mereka berdasarkan darah keningratan ataupun sejarah kekeluargaan.

Sementara, kelompok yang mengusung paham pemimpin sebagai sosok yang diciptakan atau dibentuk (made), akan merasa lebih pas untuk menentukan pemimpinnya berlandaskan kualifikasi pendidikan dan pola asuh lingkungan sekitar.

Serupa dengan pertanyaan di atas, kemasygulan yang sama pun muncul di benak saya tatkala memikirkan kontradiksi kampanye antara kelompok pro perjuangan dan pro amanah.  

Apakah kepemimpinan sejati adalah sebuah hasil perjuangan, ataukah sekadar takdir Ilahi? Apakah kepemimpinan sejati itu harus diperebutkan ataukah sekadar dianugerahkan?


Reporter: Tabloid Kontan
Editor: Mesti Sinaga

TERBARU
Hasil Pemilu 2019
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0498 || diagnostic_web = 0.2671

Close [X]
×