kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45991,58   -19,63   -1.94%
  • EMAS961.000 -0,21%
  • RD.SAHAM -1.52%
  • RD.CAMPURAN -0.63%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%
KOLOM /

Asing buru saham bank, prospeknya masih oke

oleh Ellen May - Ellen May Research Institute


Kamis, 14 Januari 2021 / 07:45 WIB
Asing buru saham bank, prospeknya masih oke


Reporter: Harian Kontan | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki 2021, investor asing cukup masif masuk ke pasar saham Indonesia. Tercatat sepanjang 2021 berjalan, dana asing sudah masuk Rp 6,4 triliun.

Masuknya dana asing ke Indonesia didorong oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal antara lain tren pelemahan dollar Amerika Serikat (AS) dan kebijakan suku bunga rendah The Federal Reserve. Ini membuat dana investor mengalir ke emerging market, termasuk Indonesia.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi pulih ke level 4%-4,5% karena adanya vaksinasi. Pemerintah juga mengeluarkan omnibus law yang mendukung iklim investasi Indonesia, termasuk dengan terbentuknya Sovereign Wealth Fund (SWF).

Saham perbankan berkapitalisasi pasar besar alias big caps, seperti BBRI dan BBCA, menjadi pilihan teratas investor asing. Net buy asing di dua saham tersebut masing-masing Rp 1,8 triliun dan Rp 1,5 triliun.

BMRI dan BBNI berada di urutan keempat dan keenam saham buruan asing. Net buy asing di masing-masing saham mencapai Rp 621 miliar dan Rp 329 miliar.

Saham perbankan big caps, yaitu BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI, pada November tahun lalu mencatatkan kinerja yang baik. Ini terlihat dari net interest margin (NIM) yang meningkat rata-rata 10,9% jika dibandingkan Oktober. Selain itu, pre provision operating profit (PPOP) rata-rata naik 12,3% di November dibanding Oktober.

Total kredit yang disalurkan oleh keempat bank tersebut mencapai Rp 2.723 triliun, naik 1% dibanding tahun lalu. Total deposit sebesar Rp 3.334 triliun, naik 12,4% dibanding tahun lalu.

Kami melihat kinerja perbankan akan lebih baik di 2021. Pendorong utama adalah vaksinasi yang akan menjadi motor penggerak perekonomian. Harapannya, setelah iklim ekonomi membaik, perbankan mampu menyalurkan kredit.

Cost of fund (CoF) saat ini masih tergolong rendah, karena suku bunga cukup rendah. Current account saving account (CASA) alias dana murah juga meningkat. Kedua faktor tersebut akan berdampak pada berkurangnya beban perbankan, sehingga bisa meningkatkan NIM.

Adapun tantangan perbankan ke depannya adalah meningkatkan tingkat pencadangan, karena pelonggaran restrukturisasi oleh OJK. Jika dilihat, bank big caps sudah memiliki tingkat coverage ratio yang baik, karena berada di atas 100%.

11M20

BBCA

Rp tn

BBRI

Rp tn

BMRI

Rp tn

BBNI

Rp tn

Total

Rp tn

BBCA

Chg %

BBRI

Chg %

BMRI

Chg %

BBNI

Chg %

Average

Chg %

Net Interest Income

46,6

67,2

42,6

30,5

186,8

9,7%

12,1%

10,2%

11,3%

10,9%

PPOP

37,3

48,5

35,5

24,8

146,1

13,0%

13,0%

8,6%

15,3%

12,3%

Net Profit

24,7

16,4

13,6

3,4

58,1

8,4%

10,8%

3,1%

-4,7%

6,9%

Gross Loan

557

875

741

541

2,723

0,2%

0,1%

-0,6%

-0,8%

-0,3%

Total Deposits

806

1039

866

623

3334

1,9%

-1,0%

0,7%

-0,6%

0,2%

 

9M20

BBCA

BBRI

BMRI

BBNI

NIM

5,8%

5,64%

4,68%

4,9%

NPL

1,9%

3,12%

3,33%

28,7%

LDR

69,6%

82,63%

84,4%

83,1%

CoF

1,47%

3,45%

3,0%

2,9%

Coverage Ratio

243,5%

159,9%

195,5%

206,9%

Bila melihat prospek pertumbuhan kredit dan vaksinasi yang sudah dimulai, BBCA, BBRI, BBNI dan BMRI masih menarik untuk investasi jangka panjang. Tapi, secara valuasi saham-saham perbankan sudah cukup mahal, kecuali BBNI.

BBNI memiliki valuasi termurah dibanding bank big caps lainnya. PBV BBNI sebesar 1,08 kali, masih di bawah rata-rata lima tahunnya, yaitu 1,18 kali.




TERBARU
Sukses Berkomunikasi dengan Berbagai Gaya Kepribadian Managing Procurement Economies of Scale Batch 7

[X]
×