kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45972,21   -0,45   -0.05%
  • EMAS926.000 -0,22%
  • RD.SAHAM -0.19%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%
KOLOM /

Benarkah Sell in May and Go Away terjadi di Indonesia?


Senin, 03 Mei 2021 / 08:30 WIB
Benarkah Sell in May and Go Away terjadi di Indonesia?
ILUSTRASI.

Reporter: Harian Kontan | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - Apakah kalender mempengaruhi imbal hasil saham? Sell in May and Go Away (SMGA) adalah ungkapan populer di pasar modal Amerika Serikat untuk menunjukkan kepercayaan terhadap pengaruh kalender terhadap harga saham.

SMGA adalah strategi investasi yang unik. Ia tidak didasarkan pada analisis fundamental perusahaan, maupun analisis teknikal yang berbasis pola harga saham di masa lalu, namun pada aspek musiman (seasonal strategy).

Dalam buku larisnya "Stock Trader’s Almanac", Jeffrey Hirsch mengungkapkan superioritas periode awal November hingga akhir April (best period) terhadap periode awal Mei hingga akhir Oktober (worst period).

Rata-rata kenaikan harga indeks saham Dow Jones Industrial Average pada best period  selama 54 tahun terakhir mencapai 7,5%. Sedangkan rata-rata harga saham selama worst period hanya naik 0,3%.

Maka, strategi musiman bagi investor atau trader saham adalah menjual saham pada awal Mei, memegang uang tunai dan membeli kembali saham pada awal November. Tindakan investor menjual saham di bulan Mei dan tidak kembali lagi hingga November menimbulkan istilah SMGA.

Bouman dan Jacobsen (2002) melakukan riset dengan sampel 37 negara dengan data hingga 1998. Mereka mengindikasikan bahwa di 35 negara tersebut terjadi fenomena "SMGA Effect", imbal hasil periode November-April secara nyata lebih tinggi dari imbal hasil periode Mei-Oktober.

Andrade, dkk dari Chartered Financial Institute (2013) melanjutkan riset Bouman dan Jacobsen tersebut dengan meneliti periode 1998-2012 di 37 negara. Mereka juga menemukan bahwa imbal hasil periode November-April secara nyata lebih tinggi dari periode Mei-Oktober.

Sayangnya apa yang menyebabkan fenomena SMGA Effect tersebut, hingga saat ini masih belum jelas.

Data imbal hasil bulanan di Amerika Serikat bisa menjelaskan fenomena SMGA Effect. Di periode Mei-Oktober terdapat dua bulan yang kerap buruk kinerjanya, yakni September dan Oktober. September adalah bulan terburuk bagi investor saham di negeri Paman Sam ini.

Rata-rata imbal hasil di September untuk indeks Standard & Poor 500 sejak 1950 adalah minus 0,65%. Bandingkan dengan bulan terbaik, Desember, yang memberikan rata-rata imbal hasil 1,59%.

Selain itu, Oktober adalah bulan yang sering terpilih mengalami market crash. Misal, di Oktober 1929 (drop 24% dalam waktu dua hari), Oktober 1987 (turun 22% dalam waktu sehari) dan Oktober 2008 (drop 22% dalam waktu delapan hari).

Ternyata SMGA Effect terjadi pula di Bursa Efek Indonesia. Dari analisis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama periode 1 Mei 2001–30 April 2021, saya menemukan rata-rata imbal hasil investasi saham periode 1 Mei–30 Oktober (worst periode) adalah sebesar 2,42%.

Angka ini jauh di bawah rata-rata imbal hasil investasi periode 1 November–31 April (best period) yang mencapai 15,40%. Perbedaan imbal hasil ini terbukti nyata setelah diuji secara statistik dengan tingkat nyata 5%.

Namun hasil ini harus disikapi dengan hati-hati. Pasalnya, dari 20 periode yang diteliti, jumlah periode di mana imbal hasil best period lebih baik dari worst period hanya 12 kali. Sisanya, sebanyak delapan periode, imbal hasil worst period lebih baik daripada best periode. Artinya, peluang imbal hasil worst periode melebihi best periode cukup besar (sekitar 40% atau 8 dari 20).

Kinerja IHSG di Worst Period dan Best Period

Tahun

Imbal hasil worst period

Imbal hasil best period

Selisih best period dengan worst period

2001

-6,40%

39,47%

45,88%

2002

-26,42%

26,92%

53,34%

2003

26,26%

17,12%

-9,14%

2004

17,49%

26,51%

9,03%

2005

0,74%

21,35%

20,62%

2006

29,17%

21,30%

-7,87%

2007

28,98%

-9,08%

-38,06%

2008

-49,22%

54,39%

103,61%

2009

25,26%

17,88%

-7,39%

2010

25,34%

5,50%

-19,85%

2011

-8,45%

21,64%

30,08%

2012

3,48%

14,27%

10,79%

2013

-10,90%

10,66%

21,56%

2014

1,89%

10,24%

8,35%

2015

-22,89%

15,12%

38,01%

2016

11,03%

5,69%

-5,34%

2017

3,91%

-1,91%

-5,82%

2018

-1,05%

12,96%

14,02%

2019

-6,38%

-23,73%

-17,35%

2020

6,55%

21,70%

15,15%

Rata-Rata 

2,42%

15,40%

12,98%

 

Pada tabel di atas, bisa dilihat bahwa selisih antara imbal hasil best period dan worst period cukup besar (rata-rata 12,98%). Dari 20 best period yang diteliti, hanya terdapat tiga periode di mana investor mengalami rugi (imbal hasil negatif).

Sedangkan dari 20 worst period, ada delapan periode di mana investor rugi. Mirip dengan fenomena di AS, di Bursa Efek Indonesia, Oktober adalah bulan berkinerja terburuk dan Desember adalah bulan berkinerja terbaik. Ini kemungkinan menyebabkan kinerja periode Mei–Oktober menjadi lebih buruk daripada November-April.

Bagi investor berwawasan jangka panjang, meskipun ada fenomena SMGA, faktor kalender tidak menjadi pertimbangan utama dalam membuat keputusan investasi. Investor jangka panjang akan membeli saham jika prospek dan harganya masih menarik (underpriced), serta menjual saham jika harganya sudah naik tinggi (overpriced).

Jika di akhir Mei 2020, misalnya, ada banyak saham bagus yang harganya mengalami diskon berat, tidak perlu menunggu hingga awal November 2020 untuk membeli.




TERBARU

[X]
×