kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Bias pengendalian diri


Selasa, 06 Agustus 2019 / 10:05 WIB

Bias pengendalian diri

Behavioral finance mulai diperbincangkan sesaat setelah Daniel Kahneman menulis artikel tentang teori prospek pada tahun 1979, yang menjadikannya psikolog pertama dan satu-satunya peraih nobel ekonomi (2002). Dua tahun setelah itu, pakar keuangan terkemuka dari Yale University, Robert Shiller, juga menulis artikel yang tidak kalah hebatnya, karena berani menentang hipotesis pasar efisien, aliran utama ilmu keuangan sejak dekade 70-an, dalam artikel dan buku-bukunya yang memberikan dia Nobel ekonomi tahun 2013.

Terakhir, Richard Thaler, seorang tokoh behavioral finance lainnya, kembali memperoleh Nobel ekonomi pada tahun 2017. Thaler menguraikan bagaimana keputusan ekonomi dipengaruhi oleh tiga aspek psikologi manusia, yaitu keterbatasan kognitif, yang memperbaiki teori bounded rationality, pengendalian diri, dan preferensi sosial.

Kali ini, saya ingin mengupas mengenai kontribusi kedua Thaler, yaitu bias emosional pengendalian diri.

Menurut behavioral finance, investor ritel kerap melakukan kesalahan dalam keputusan keuangannya. Bias-bias behavioral ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kognitif dan emosional. Bias kognitif bersumber dari penalaran yang salah, sehingga informasi yang lebih baik dan nasihat dapat menghilangkannya. CFA Institute membagi bias kognitif jadi dua kelompok lagi, yaitu bias belief perseverance (terlalu berpegang teguh pada pandangan sendiri) dan bias information processing (ketidakmampuan mengolah informasi).

Sementara itu, bias emosional berasal dari intuisi dan dorongan hati daripada kalkulasi sadar, sehingga sulit untuk diperbaiki. Seperti bias emosional lainnya, bias self control ini juga tidak mudah untuk diatasi.

Bias self control membuat banyak orang sulit mencapai tujuan jangka panjang karena memprioritaskan kesenangan dan kepuasan yang lebih kini. Bias emosional ini menyebabkan sebagian besar pekerja tidak mempunyai dana pensiun yang cukup, karena tidak bersedia menurunkan gaya hidupnya ketika masih usia produktif.

Jangankan untuk jangka panjang, untuk tujuan jangka menengah seperti menyiapkan biaya kuliah anak, dana studi magister untuk diri sendiri, atau membeli mobil baru yang diidamkan, banyak yang tidak dapat merealisasikan.

Tanpa pengendalian diri dan menunda konsumsi sekarang, investasi untuk masa depan hanyalah ilusi. Tidak sedikit karyawan yang bahkan tidak mampu melunasi utang jangka pendek berbiaya tinggi seperti utang kartu kredit atau KTA, karena tidak bisa menguasai dirinya. Berbeda dengan bias kognitif, mereka yang mengalami bias ini sadar akan kesalahan yang mereka lakukan. Akan tetapi, mereka juga tidak kuasa untuk membebaskan diri.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0012 || diagnostic_api_kanan = 0.0526 || diagnostic_web = 0.2448

Close [X]
×