kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45789,54   -7,05   -0.89%
  • EMAS940.000 0,64%
  • RD.SAHAM 0.78%
  • RD.CAMPURAN 0.40%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.06%

Bias Psikologi Disposition Effect

oleh Lukas Setia Atmaja - IG: lukas_setiaatmaja www.hungrystock.com


Senin, 08 Juni 2020 / 08:00 WIB
Bias Psikologi Disposition Effect

Reporter: Harris Hadinata | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. A Beng (nama fiktif) duduk gelisah di meja rolet sebuah kasino. Sudah lima kali berurutan ia memasang koinnya pada sejumlah angka genap. Namun yang muncul selalu angka ganjil.

Menjelang permainan berikutnya, temannya berbisik agar ia memasang sejumlah angka ganjil. A Beng berpikir keras, tetap pasang genap atau pindah ke ganjil?

Dia pikir "Ah, genap sudah lama tak muncul." Sedangkan temannya berhipotesis bahwa angka ganjil sedang jadi tren.

Sejatinya probabilitas munculnya angka genap atau ganjil di setiap permainan tidak dipengaruhi oleh hasil pada permainan sebelumnya.

Ada dua kemungkinan penyesalan (regret) pada permainan itu. Pertama, A Beng tetap memasang angka genap, dan yang muncul adalah angka ganjil seperti bisikan temannya. Ia akan mengalami "regret of omission", penyesalan karena tidak mengambil tindakan.

Kedua, A Beng memasang angka ganjil dan yang keluar adalah angka genap. Ia terkena "regret of commission" alias penyesalan karena bertindak.

Penyesalan mana yang lebih menyakitkan A Beng? Kemungkinan besar adalah regret of commission. Bayangkan, ia sudah lima kali "berinvestasi" pada angka genap sehingga dia memiliki "emotional capital" pada angka ini.

Jika dia pindah ke angka ganjil dan ternyata angka genap yang muncul, dia merasa menjadi orang paling idiot sedunia. Kemungkinan besar A Beng akan memilih tetap memasang angka genap.

Jika tebakannya benar, dia mendapat kebanggaan (pride) karena strateginya berhasil. A Beng, seperti kebanyakan orang, berusaha menghindari regret of commission dan mencari pride.

Melepas winners

Hal yang sama bisa menimpa investor saham. Misalnya Si Telo ingin saham Astra. Karena tidak punya uang, ia harus menjual sahamnya yang lain.

Ada dua pilihan: menjual saham BUMI atau BBCA. Saham BUMI-nya masih menanggung kerugian 30% sejak dibeli (loser), sedangkan saham BBCA sudah memberikan keuntungan 30% (winner).

Kemungkinan besar, Si Telo akan menjual saham Bank BCA untuk merealisasi paper gain (mencari pride) dan menghindari realisasi paper loss dari saham BUMI. Jika ia jual BUMI dan kemudian harganya naik, ia akan mengalami regret of commission.

Kecenderungan mencari pride dan menghindari regret ini disebut "disposition effect" atau "get-eventinis". Investor tak mau menjual saham sebelum harganya kembali ke level saat beli (get even). Bahayanya, investor bisa terjebak menjual winners terlalu cepat dan memegang losers terlalu lama.

Fenomena bias psikologis ini dikemukakan oleh pakar behavior finance Hersh Shefrin dan Meir Statman di Journal of Finance pada 1985. Karya mereka diilhami Prospect Theory dari pemenang Nobel Daniel Kahneman yang mengindikasikan investor lebih suka menghindari kerugian daripada mencari keuntungan (loss aversion).

Mengapa? Ternyata perasaan sedih akibat merugi Rp 100 juta lebih besar daripada perasaan puas jika memperoleh keuntungan Rp 100 juta.

Makin merugi

Sebuah penelitian empiris di Amerika Serikat mengamini fenomena ini. Schlarbaum, dkk, pada 1978 menganalisis hubungan antara jangka waktu memegang saham (holding period) dan imbal hasilnya.

Hasilnya menarik. Untuk holding period 1 bulan, imbal hasilnya adalah 45%.

Untuk holding period 2-6 bulan, imbal hasilnya 7,8%.Untuk holding period 6-12 bulan, memberi imbal hasil 5,1%. Sedangkan kepemilikan di atas 12 bulan, imbal hasilnya 4,5%.

Ini bukti bahwa investor cepat menjual big winners dan menahan losers hingga harga naik kembali ke level semula atau sedikit lebih tinggi.

Apa implikasi dari bias psikologis ini? Menjual winners terlalu cepat membuat investor kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan lebih besar jika performa saham tersebut terus membaik. Sebaliknya, menahan losers terlalu lama bakal semakin merugikan investor jika performa saham tersebut semakin memburuk.

Penelitian di Amerika Serikat pada 1998 oleh Terrance Odean mengkonfirmasi hal ini. Ketika investor menjual winners, tahun depan saham-saham tersebut menghasilkan keuntungan 2,35% di atas keuntungan indeks pasar.

Sebaliknya, saat menjual losers, tahun berikutnya saham-saham ini menghasilkan keuntungan yang 1,06% lebih rendah dari keuntungan indeks pasar.

Menghindari risiko menahan losers terlalu lama bukan berarti segera menjual ketika harga saham turun tajam, misalnya 5% hingga 10%. Bisa jadi penurunan ini hanya bersifat sementara akibat sentimen sesaat.

Misalnya saham bank di BEI yang sempat tertekan di awal tahun ini. Ketika kekhawatiran atas high inflation mereda, harga saham bank segera rebound dan melejit.

Bagi investor jangka panjang, saham-saham blue chip yang mengalami penurunan harga masih bisa di-hold hingga sekitar 6 bulan.

Jika tidak ada perbaikan kinerja barulah saham tersebut dilepas dan dananya dipindahkan ke saham lain yang punya prospek lebih cerah.



TERBARU
Terpopuler

[X]
×