kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.393
  • EMAS666.000 0,60%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Bias representatif yang distortif

Senin, 18 Februari 2019 / 15:53 WIB

Bias representatif yang distortif
ILUSTRASI. ANALISIS - Budi Frensidy, Pengamat Pasar Keuangan UI

Ketika membeli saham di pasar modal, banyak investor gagal membedakan antara saham bagus dan perusahaan bagus. Hersh Shefrin, ahli behavioral finance, dalam penelitiannya menemukan, bahkan investor berpengalaman sekalipun menilai saham bagus atau jelek berdasarkan bagus atau jeleknya perusahaan.

Saham bagus tidak sama dengan perusahaan bagus. Saham yang bagus (good stocks) adalah saham berharga bagus atau saham yang menjanjikan return yang besar di masa depan. Sedangkan perusahaan bagus (good company) ukuran sederhananya adalah perusahaan yang mempunyai rating yang bagus, minimal tripel B sebagai batas rating layak investasi.

Sementara itu, majalah Fortune mendefinisikan perusahaan bagus sebagai perusahaan yang mempunyai sifat berikut: manajemen bermutu, produk dan jasa berkualitas, inovasi tinggi, keuangan sehat, tanggung jawab sosial tinggi, penggunaan harta perusahaan bijak (good governance), dan sumberdaya manusia yang kompeten.

Berdasarkan jawaban 8.000 eksekutif senior terhadap 311 perusahaan di 32 industri pada periode tahun 1990-an, Fortune menemukan kalau perusahaan dengan sifat-sifat di atas umumnya perusahaan besar (big cap) dengan rasio nilai buku terhadap nilai pasar yang rendah.

Mengapa banyak investor menganggap saham bagus adalah saham dari perusahaan bagus? Kahneman dan Tversky menyebut kejadian ini sebagai bias representatif. Bias ini berhubungan dengan fenomena manusia yang seringkali mengambil keputusan berdasarkan stereotype.

Banyak dari kita menemui contoh bias ini dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak dari orang tua yang pendek dipercaya akan juga pendek, calon pelamar kerja yang indeks prestasinya (IPK) tinggi (rendah), dianggap akan berprestasi tinggi (rendah) juga dalam pekerjaannya.

Yang sebagian besar orang abaikan dalam kasus anak dengan orang tua yang pendek adalah pada masa orang tuanya, ekonomi mungkin begitu sulit dengan penghasilan pas-pasan dan keluarga umumnya masih besar, sehingga gizi dan kualitas kehidupan marjinal. Ini tentu berbeda dengan zaman si anak sekarang. Begitu juga dalam kasus pelamar kerja yang tidak diterima karena ber-IPK rendah. Tidak pernah diperhitungkan kemungkinan nasib sial atau kondisi ekonomi dan emosi si calon pelamar yang belum stabil ketika berkuliah.

Dikaitkan dengan saham, perusahaan bagus dianalogikan dengan lulusan ber-IPK tinggi dan perusahaan jelek dengan yang ber-IPK rendah. Sedangkan return saham disamakan dengan prestasi kerja. Dengan pendekatan stereotyping seperti ini, perusahaan bagus diharapkan memberikan return yang bagus atau menjadi saham bagus.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi

Tag
TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0005 || diagnostic_api_kanan = 0.0484 || diagnostic_web = 0.2699

Close [X]
×