kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45789,54   -7,05   -0.89%
  • EMAS940.000 0,64%
  • RD.SAHAM 0.78%
  • RD.CAMPURAN 0.40%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.06%

Bisnis Rill, Pasar Saham, dan Pandemi Covid-19

oleh Hans Kwee - Direktur Anugerah Mega Investama, Dosen MET Atmajaya dan FEB Trisakti


Senin, 29 Juni 2020 / 11:52 WIB
Bisnis Rill, Pasar Saham, dan Pandemi Covid-19
ILUSTRASI. ANALISIS - Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri

Reporter: Harris Hadinata | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham naik tinggi menyusul pasar obligasi yang naik lebih dulu.Ada pertanyaan, kenapa saat ini arah pergerakan di pasar keuangan, termasuk pasar saham, berbeda dengan kondisi bisnis di sektor rill? Pasar keuangan saat ini sudah mulai menguat, sementara berbagai bisnis masih merasakan sentimen negatif pandemi virus korona atau Covid-19.

Memang pandemi Covid-19 mulai dapat diatasi. Tetapi belum dapat dipastikan kapan pandemi ini akan berakhir. Karena itu, masih banyak pembatasan yang harus dijalani.

Pembatasan sosial harus dijaga agar dapat menghindarkan kita dari gelombang kedua pandemi virus. Pengalaman 100 yang tahun lalu, ketika terjadi flu Spanyol di 1918, gelombang kedua lebih besar dan lebih mematikan dibandingkan gelombang pertama.

Karena itu sulit mengembalikan aktivitas ekonomi seperti dahulu, sebelum terbentuk herd immunity. Ini bisa didapatkan lewat penemuan vaksin atau bila sebagian besar orang sudah terkena virus dan menjadi sembuh serta kebal.

Memang sejumlah negara akan mulai melakukan pelonggaran, termasuk juga Indonesia. Pelonggaran lockdown di berbagai negara dan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Indonesia akan dilakukan dengan berbagai protokol kesehatan new normal.

Sebelum ini, berbagai bisnis di sektor rill terpukul akibat pandemi Covid-19 dan penguncian kegiatan sosial seperti lockdown atau PSBB demi menurunkan penularan Covid-19. Kita mengetahui tingkat penyebaran virus korona baru ini memang sangat cepat dan tinggi.

Akibatnya aktivitas bisnis dan produksi banyak mengalami gangguan supply chain dan mengalami pembatasan, bahkan sebagian terpaksa berhenti. Ini mengakibatkan terjadinya supply shock.

Di lain pihak, karena bisnis berhenti atay melambat, akibatnya banyak pekerja yang dirumahkan, baik secara permanen terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), maupun yang bersifat sementara, dengan konsekuensi tidak dibayar atau dibayar sebagian. Akibatnya terjadi demand shock.

Demand dan supply shock ini saling mempengaruhi, sehingga menimbulkan perlambatan ekonomi. Ketika konsumen menurunkan demand atas barang dan jasa, maka produsen akan mengurangi proses produksi barang dan jasanya. Produsen terpaksa mengurangi kapasitas produksinya.

Ini menimbulkan konsekuensi pengurangan faktor produksi, termasuk di dalamnya tenaga kerja. Tenaga kerja yang terkena imbas terpaksa mengurangi konsumsinya. Oleh karena itu, pelaksanaan PSBB yang berlangsung lama akan menyebabkan kemunduran ekonomi.

James Duesenberry, pemenang penghargaan Nobel ekonomi dengan Consumption Theory, mengatakan, konsumsi sekarang dipengaruhi dari biaya konsumsi. Teori ini menjelaskan, orang yang berhenti atau turun pendapatannya tidak bisa secara tiba-tiba menurunkan konsumsinya.

Orang tersebut akan mengunakan tabungannya. Bila sudah habis, maka orang tersebut akan meminta bantuan pada keluarga atau teman. Jalan terakhir, orang tersebut akan berutang.

Kalau nanti ekonomi pulih dan orang tersebut bekerja kembali, sehingga kembali memiliki pendapatan, maka dia akan membayar utang terlebih dahulu. Baru sesudah itu orang tersebut mulai bisa menabung dan berinvestasi. Konsumsinya juga kembali ke normal seperti dulu lagi. Karena itu pemulihan ekonomi butuh waktu.

Di sisi lain, ketika karyawan dirumahkan atau mengalami unpaid leave dalam waktu yang lama, maka akan memaksa karyawan tersebut mencari pekerjaan lain dan mengundurkan diri dengan sukarela. Ketika situasi kembali normal, maka pengusaha harus mencari dan merekrut orang baru lagi. Padahal, butuh waktu untuk menemukan orang yang tepat dan melatih orang tersebut untuk mampu bekerja dengan kemampuan seperti karyawan sebelumnya.

Selain itu, ketika aktivitas bisnis sebuah perusahaan melambat, atau bahkan berhenti, maka akan terjadi gangguan pada proses mencicil pinjaman pokok dan bunga pada perbankan atau lembaga keuangan. Agar bank tidak perlu membentuk cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sesuai PSAK 71, maka dilakukan retrukturisasi kredit.

OJK telah mengeluarkan POJK 11/POJK.03/2020 untuk memberikan arahan bagi perbankan melakukan restrukturisasi kredit debitur. Konsekunsinya, bank punya potensi gangguan likuiditas akibat restrukturisasi yang dilakukan. Karena pandemi Covid-19 mempengaruhi hampir semua aktivitas ekonomi.

Akibatnya bank akan mengurangi, bahkan menghentikan, penyaluran kredit, baik investasi maupun modal kerja. Sisi lainnya, bila perusahaan kehabisan kas akibat pendapatan turun atau berhenti dan tidak ada kredit baru, maka akan berakibat kebangkrutan. Ini bila terjadi secara masif akan mengganggu sistem perekonomian dan keuangan.

Ini yang membuat kami memperkirakan dampak pandemi Covid-19 ke ekonomi akan panjang. Ini juga yang membuat kita harus memaklumi bila pemerintah berpikir untuk melonggarkan PSBB, meskipun jumlah kasus Covid-19 masih terus naik.

Perlu dicari keseimbangan baru agar bisnis dan ekonomi tetap dapat berjalan, tetapi tetap memperhatikan faktor kesehatan agar penyebaran pandemi Covid-19 tidak meningkat dengan cepat. Ini mungkin akan membuat pemerintah terlihat plin plan atau berubah-ubah, dengan membuka dan menutup aktivitas sosial dan ekonomi, karena ini memang periode yang sangat sulit.

Tetapi kenapa pasar saham bisa mengalami kenaikan ketika sektor rill masih diselimuti ketidakpastian? Ada beberapa faktor yang membuat pasar menguat di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh ketidakpastian.

Pertama, ketika sebagian besar negara di dunia mulai melakukan pelonggaran lockdown, ternyata sejauh ini tidak ditemukan tanda-tanda gelombang kedua Covid-19. Ini menimbulkan optimisme ekonomi akan segera pulih.

Hal kedua adalah selama penguncian ekonomi atau lockdown terjadi, semua data ekonomi menunjukkan pemburukan yang sangat mengejutkan. Pertumbuhan ekonomi menjadi negatif, angka pengangguran meningkat, aktivitas manufaktur turun drastis dan lain sebagainya. Ketika pelonggaran lockdown dilakukan, data ekonomi mulai menunjukkan perbaikan. Memang akan lebih mudah terjadi perbaikan karena dimulai dari posisi negatif yang besar.

Faktor ketiga datang dari likuiditas di pasar keuangan yang sangat tinggi. Banyaknya quantitative easing (QE) yang digelontorkan berbagai bank sentral membuat berlimpahnya dana segar. Di sisi lain, pilihan investasi menjadi terbatas akibat lockdown yang menghentikan ekonomi. Bunga rendah, investasi sektor rill tentu berisiko. Pilihan yang menjanjikan adalah investasi di pasar modal, baik saham maupun obligasi.

Pertanyaannya, kenapa pasar saham tiga minggu terakhir ini mengalami kenaikan tinggi? Hal ini tidak lepas karena pasar obligasi sudah naik lebih dulu. Di sisi lain, rupiah juga terus menguat, sehingga yang belum pulih adalah pasar saham.

Penurunan risiko Covid-19 membuat pelaku pasar memindahkan aset aman ke aset berisiko seperti saham. Ini juga mendorong dana asing masuk kembali ke Indonesia, di mana terjadi perpindahan dana dari negara maju yang dianggap lebih tidak berisiko ke pasar negara berkembang yang dianggap lebih berisiko.

Di sisi lain, banyak pelaku pasar dalam negeri yang belum melakukan pembelian saham takut ketinggalan kenaikan. Pasar saham dianggap masih murah dan belum pulih dari penurunan sebelumnya.

Saham-saham sektor siklikal yang sangat peka terhadap pertumbuhan ekonomi mulai naik. Saham sektor minyak dan gas, otomotif, hiburan, perjalanan dan pariwisata yang selama lockdown turun dalam mulai mengalami kenaikan. Saham di sektor siklikal yang sangat sensitif dengan isu ekonomi segera naik begitu ditemukan tanda-tanda pemulihan ekonomi.

Berangkat dari kenyataan sektor rill masih menghadapi banyak tantangan, maka kami pikir pasar saham masih akan berfluktuasi di jangka pendek dan menengah. Sebelum ditemukan vaksin Covid-19, maka pasar keuangan masih akan berfluktuasi mengikuti perkembangan ekonomi.

Tentu kiga berharap tidak ada gelombang kedua pandemi sampai ditemukan vaksin Covid-19 dan ekonomi bisa pelan-pelan kembali pulih. Lakukan investasi dengan rasional.



TERBARU
Terpopuler

[X]
×