kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.393
  • EMAS666.000 0,60%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%
KOLOM /

Capitalism overreach

oleh Ekuslie Goestiandi - Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Senin, 07 Januari 2019 / 17:29 WIB

Capitalism overreach
Ekuslie Goestiandi

KONTAN.CO.ID -  Dalam bukunya yang provokatif, The Upside of Irrationality (2010), Dan Ariely, seorang guru besar psikologi dan ekonomi perilaku di Duke University, menguak beberapa irasionalitas sifat dan perilaku manusia.

Selain mendatangkan konsekuensi negatif, ternyata sifat irasionalitas juga telah ikut mendorong produktivitas manusia dan menggerakkan kompetisi ekonomi.

Sebagai contoh, perangkat iPads, mobil Ferrari, furnitur Da Vinci dan tas Dolce & Gabbana adalah produk-produk aspiratif yang berhasil menghadirkan kemewahan sebagai kebutuhan  pada masa kini.

Saking irasionalnya, orang tak mampu lagi membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants), ataupun antara kekhawatiran (worry) dan kecemasan (anxiety)

Ideologi kapitalisme berhasil mengeksploitasi sifat irasionalitas manusia dengan cara menyediakan kendaraan bernama kompetisi. Atas nama kompetisi, semua orang mengeksploitasi sifat dasarnya sebagai manusia, yaitu rasa takut (fear) dan rakus (greed) menjadi energi psikis yang dahsyat.

Tak dapat dipungkiri, bahwa energi yang luar biasa tersebut telah mendorong lahirnya inovasi, produktivitas dan dayang saing. Namun, pada saat yang bersamaan, diam-diam juga telah menggerogoti pengertian manusia akan substansi kehidupan itu sendiri.

Cerita berikut menjadi ilustrasi yang menarik bagaimana makna kehidupan manusia bisa tergerus arus besar kapitalisme.

Suatu saat, sejumlah alumni suatu universitas terkemuka memutuskan untuk mengadakan reuni. Mereka pun sepakat untuk berkumpul di rumah seorang profesor, sosok yang mereka kagumi dan hormati saat kuliah.

Saat bertemu, berbagai topik mereka obrolkan dalam suasana yang ceria dan riang gembira. Hingga, pembicaraan pun beralih ke arah keluh kesah.

Mereka - para alumni yang terbilang sukses dalam pekerjaan dan kariernya masing-masing - menceritakan pengalaman pekerjaan dan kehidupan yang penuh tekanan (stress) dan kecemasan.

Ternyata, kesuksesan yang mereka raup tak sanggup menutupi tekanan hidup yang mereka hadapi.

Sang profesor terdiam, lalu berkata, “Saya akan hidangkan minuman untuk kalian.” Ia pergi ke dapur, dan kembali bersama satu pot kopi besar dan beberapa cangkir.

Ada berbagai macam cangkir yang disediakan. Ada yang terbuat dari plastik, gelas kaca, porselen, hingga kristal. “Silakan, tuangkan kopi itu ke cangkir kalian masing-masing!”

Para mantan mahasiswa itu pun segera mengambil cangkirnya masing-masing dan menuangkan kopi.

Saat tamunya sedang menyeruput kopi, sang profesor  kembali berujar. “Lihatlah, kalian berlomba-lomba untuk mengambil cangkir yang mewah, dan meninggalkan cangkir yang murah. Kalian ambil yang indah, dan menyisakan yang biasa saja.  Ini serupa dengan apa yang terjadi dalam hidup kalian selama ini.”


Reporter: Tabloid Kontan
Editor: Mesti Sinaga

TERBARU
Hasil Pemilu 2019
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0644 || diagnostic_web = 0.2919

Close [X]
×