kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Cara praktis berinvestasi di Indeks Kompas100


Selasa, 27 Agustus 2019 / 09:05 WIB
Cara praktis berinvestasi di Indeks Kompas100

Reporter: Harian Kontan | Editor: Tri Adi

Indeks Saham Kompas100 yang diluncurkan pada 13 Juli 2007 dengan menggunakan hari dasar 2 Januari 2002 sebagai awal perhitungan adalah indeks yang mengukur performa harga 100 saham yang memiliki likuiditas baik, kapitalisasi pasar yang besar, serta fundamental dan kinerja yang baik. Indeks ini diluncurkan Bursa Efek Indonesia bekerjasama dengan koran Kompas. Metode penghitungannya berdasar kapitalisasi pasar, dengan jadwal rebalancing setiap 1 Februari dan 1 Agustus (setiap enam bulan sekali).

Jumlah saham penghuni Indeks Kompas100 yang relatif banyak, yaitu 100 saham berimplikasi tersebarnya return indeks ke banyak industri dan berbagai ukuran perusahaan. Alhasil, secara intuitif kinerja indeks ini lebih mendekati kinerja pasar (Indeks Harga Saham Gabungan). Namun ada sisi lainnya, yaitu susah diterapkan investor. Apalagi investor ritel yang dananya terbatas.

Atas dasar kepraktisan inilah penulis mencoba membagi Indeks Kompas100 menjadi empat kelas, diurutkan berdasar besarnya kapitalisasi pasar dari terbesar hingga terkecil. Masing-masing kelas berisi 25 saham. Kelas I berisi 25 saham dengan kapitalisasi pasar terbesar, kelas II terdiri dari 25 saham menengah, kelas III terdapat 25 saham menengah kecil dan kelas IV dihuni 25 saham kecil.

Asumsinya investor ritel masih sanggup membeli 25 saham di kelas tertentu daripada membeli 100 saham yang pasti membutuhkan modal besar. Timbul pertanyaan menggelitik, apakah dengan memecah menjadi empat kelas tersebut bisa didapat return yang lebih baik? Adakah kelas tertentu yang kinerjanya superior dibanding kelas lain? Berapa return yang diharapkan bila berinvestasi di Kompas100 atau kelas tertentu?

Penulis melakukan pengamatan menggunakan data historis 5 tahun terakhir, dari 1 Agustus 2014 hingga 31 Juli 2019. Berarti ada 10 kali periode rebalancing. Investasi dilakukan dengan strategi buy and hold, yaitu beli pada periode awal rebalancing dan dipegang hingga akhir rebalancing, atau enam bulan. Biaya transaksi broker dan dividen diabaikan.

Saat pembagian kelas jadi empat, bobot setiap saham di setiap kelas harus disesuaikan ulang menjadi sebesar prosentase kapitalisasi pasar sahamnya terhadap total kapitalisasi pasar di kelas tersebut. Kemudian dihitung weighted return masing-masing saham. Selanjutnya weighted return 25 saham tersebut dijumlahkan agar mendapat return portofolio per kelas. Anda bisa melihat hasilnya pada tabel di atas.

Ternyata hasilnya ada beberapa poin yang cukup mengagetkan. Pertama, akumulasi return terbesar diraih 25 saham dengan kapitalisasi pasar terkecil di Kompas100, yaitu 25.69% selama 10 tahun terakhir alias hanya 1,98% per periode rebalancing. Kedua, akumulasi return peringkat kedua diraih saham kapitalisasi besar, yaitu 15,4%, dengan return per rebalancing hanya 1,44%.

Ketiga, kelas menengah dan menengah kecil tampak tidak menarik karena menghasilkan akumulasi return negatif. Keempat, return kelas terbesar dan terkecil mengungguli performa Kompas100. Artinya, daripada berinvestasi di 100 saham, lebih baik pilih 25 saham terbesar atau 25 saham terkecil saja.

Kelima, fluktuasi return saham-saham di kelas IV sangat besar. Contoh, di periode 1 Agustus 2015 hingga 31 Januari 2016 peforma -22.14%. Keenam, volatilitas return kelas I relatif mendekati Kompas100 dan paling stabil dibanding kelas lainnya. Ketujuh, akumulasi return kelas I mendekati Kompas100. Artinya 25 saham terbesar sebetulnya sudah mendekati Kompas100, walau kesimpulan ini perlu diselidiki lebih lanjut dengan perhitungan lainnya.

Penulis juga menghitung probabilitas return tertinggi di antara empat kelas untuk tiap periode rebalancing (6 bulan). Hasilnya, kelas yang paling sering menjadi juara dengan return tertinggi adalah kelas saham kecil. Dengan probabilitas 50%, tiap 5 dari 10 periode, kelas saham kecil meraih peringkat satu dibanding ketiga kelas lain.

Selanjutnya kelas saham besar memiliki probabilitas 40% alias 4 dari 10 periode untuk menjadi juara. Lagi-lagi kelas tanggung yaitu menengah dan menengah-kecil, paling loyo karena probalilitasnya masing-masing 0% dan 10% saja.

Kesimpulannya, investasi di Kompas100 bisa dilakukan investor ritel dengan hanya memilih 25 saham di kelas besar atau 25 saham di kelas kecil. Konsekuensinya, bila memilih saham kelas besar maka return-nya relatif mirip Kompas100, tapi volatilitas relatif lebih stabil.

Tapi bila Anda tergolong investor bertipe risk taker, Anda bisa melirik 25 saham terkecil. Kelas ini menghasilkan return terbesar walau harus menanggung risiko tinggi. Investor wajib memiliki horizon investasi panjang untuk mengantisipasi fluktuasi harganya. ♦

Parto Kawito
Direktur PT Infovesta Utama




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×