kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Carlos Ghosn, kok bisa?


Senin, 21 Januari 2019 / 15:26 WIB

Carlos Ghosn, kok bisa?

KONTAN.CO.ID -  Hari Senin, 19 November 2018, menjadi hari yang sungguh kelabu bagi Carlos Ghosn dan tiga perusahaan raksasa otomotif yang dipimpinnya, Nissan, Renault dan Mitsubishi.

Seorang pemimpin bisnis otomotif dunia (yang nyaris menjadi legenda karena kehebatan visi dan sepak terjang eksekusinya) ditahan di Jepang atas tuduhan telah melakukan tindakan kecurangan finansial selama bertahun-tahun.

Lewat investigasi internal, perusahaan Nissan menyatakan Ghosn terbukti telah memanipulasi nilai penghasilannya dan juga menyalahgunakan aset perusahaan.

Berikutnya, tak pelak lagi, dewan direksi perusahaan Nissan pun diminta untuk segera mencopot jabatan Ghosn di perusahaan Nissan sebagai chairman.

Tak butuh waktu lama, satu hari sesudah penahanan Ghosn, harga saham tiga perusahaan otomotif yang dipimpinnya anjlok secara signifikan.

Asal tahu saja, tak tanggung-tanggung, Ghosn pada saat yang bersamaan juga menjadi chairman dari Renault dan Mitsubishi Motors.

Karena, tak dapat dipungkiri, dia adalah orang di balik aliansi masif sekaligus unik tiga raksasa otomotif tersebut, yang secara keseluruhan mempekerjakan 470.000 karyawan, mengoperasikan 122 pabrik sekaligus juga menjual 10,61 juta unit kendaraan sepanjang tahun 2017.

Banyak rekan, utamanya yang bergelut di dunia otomotif, tiba-tiba mempertanyakan peristiwa ini. “Kok bisa ya, seorang Carlos Ghosn melakukan hal ini?”

Pertanyaan ringkas tersebut muncul bertubi-tubi dari banyak kalangan, mengingat kehebatan dan kredibilitas sang titan industri otomotif dunia tersebut. Peristiwa ini tampak begitu naif, dan tak semestinya terjadi pada tokoh sekaliber Ghosn.

Beberapa analisa pun muncul bersliweran, mulai dari ketiadaan pengawasan eksternal terhadap jabatan seorang pemimpin yang menjadi super big boss (Maklumlah, Ghosn adalah orang nomor satu, yang secara struktural seperti tak memiliki tuan dan majikan lagi), hingga urusan instink kerakusan manusia yang dari sononya seolah tak berbatas.

Merenung sejenak, pikiran saya seketika teringat dengan sebuah novel bertajuk A Bridge Too Far yang ditulis oleh Cornelius Ryan pada tahun 1974. 

Selanjutnya, begawan film Inggris, Richard Attenborough, pada tahun 1977 mengangkat kisah di novel tersebut ke layar lebar dengan judul yang sama.

Walaupun tak terlalu sukses di Amerika, film ini disambut antusias oleh publik di Eropa. Idiom a bridge too far muncul pada masa Perang Dunia ke II, saat pasukan sekutu gagal dalam misi penyerangan bernama Operation Market Garden.


Reporter: Tabloid Kontan
Editor: Mesti Sinaga


Close [X]
×