kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
KOLOM /

Fokus


Senin, 19 November 2018 / 17:43 WIB
Fokus
ILUSTRASI. Pengamat & Kolomnis Ekuslie

Reporter: Tabloid Kontan | Editor: Mesti Sinaga

KONTAN.CO.ID - Salah satu lagu yang paling terkenal di Indonesia, bahkan juga di benua Asia, apalagi kalau bukan lagu “Meraih Bintang’, yang dinyanyikan oleh Via Vallen.

Salah satu lagu resmi Asian Games 2018 yang baru lewat tersebut begitu meledak dan familiar di telinga para pendengar. Begitu populernya, lagu tersebut bahkan sudah dibuat versi covernya dalam enam bahasa, yakni : Arab, India, Korea Selatan, Jepang, Thailand dan Mandarin China.

Ada banyak sisi menarik dan inspiratif dari lagu tersebut, mulai dari irama, lirik dan visualisasinya. Saya secara pribadi tertarik dengan salah satu lirik yang sekilas terkesan tidak liris sebagai syair sebuah lagu.

Bunyinya, “terus fokus satu titik, hanya itu titik itu, bla bla bla...”. Walaupun terdengar tak liris, namun pesannya begitu kuat sampai di telinga para pendengar.

Rustam Rastamanis, salah satu pencipta lagu tersebut, menuturkan bahwa baris lirik di atas diinspirasi oleh cerita Usain Bolt, pelari cepat asal Jamaika.

Bolt adalah pemegang rekor dunia lari 100m dan 200m saat ini, yang diciptakannya pada kejuaraan atletik dunia 2009. Ketika mendengar letusan “start” ditembakkan, seketika itu juga isi kepala Bolt begitu senyap. Seolah semua kebisingan yang ada di kiri kanan sepanjang lintasan menjadi hilang.

Secara faktual tentunya suara-suara di sekeliling tetap ada, namun pikiran Bolt yang sepenuhnya terfokus kepada titik finish itulah yang membuat distraksi suara sekitar menjadi hilang.

Dan, Bolt mengakui bahwa fokus kepada satu titik, yakni titik finish, itulah yang menjadi kunci keberhasilan dan kemenangannya selama ini.

Pada kenyataannya, sikap fokus ternyata tak sesederhana yang dibayangkan. Di era digital, manusia menghadapi begitu banyak distraksi, khususnya distraksi teknologi.

Kita mungkin pernah mendengar istilah FOMO (fear of missing out), FOBO (fear of being offline) dan nomophobia (takut untuk jauh dan terhubung dengan gawai, yang sebetulnya merupakan indikasi kerentanan kita terhadap distraksi digital.

Jangan heran, dalam dunia yang always connected ini, jam aktivitas dan kerja seseorang seolah tak berbatas.

Orang terbiasa untuk melakukan beberapa hal pada saat yang bersamaan atawa multitasking. Bisa saja orang sedang menelepon sambil berselancar di internet, ataupun menulis surel sambil menyantap makanan.



TERBARU

×