kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.436
  • SUN94,17 -0,23%
  • EMAS659.000 0,61%
KOLOM /

Fokus

oleh Ekuslie Goestiandi - Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Senin, 19 November 2018 / 17:43 WIB

Fokus
ILUSTRASI. Pengamat & Kolomnis Ekuslie

KONTAN.CO.ID - Salah satu lagu yang paling terkenal di Indonesia, bahkan juga di benua Asia, apalagi kalau bukan lagu “Meraih Bintang’, yang dinyanyikan oleh Via Vallen.

Salah satu lagu resmi Asian Games 2018 yang baru lewat tersebut begitu meledak dan familiar di telinga para pendengar. Begitu populernya, lagu tersebut bahkan sudah dibuat versi covernya dalam enam bahasa, yakni : Arab, India, Korea Selatan, Jepang, Thailand dan Mandarin China.

Ada banyak sisi menarik dan inspiratif dari lagu tersebut, mulai dari irama, lirik dan visualisasinya. Saya secara pribadi tertarik dengan salah satu lirik yang sekilas terkesan tidak liris sebagai syair sebuah lagu.

Bunyinya, “terus fokus satu titik, hanya itu titik itu, bla bla bla...”. Walaupun terdengar tak liris, namun pesannya begitu kuat sampai di telinga para pendengar.

Rustam Rastamanis, salah satu pencipta lagu tersebut, menuturkan bahwa baris lirik di atas diinspirasi oleh cerita Usain Bolt, pelari cepat asal Jamaika.

Bolt adalah pemegang rekor dunia lari 100m dan 200m saat ini, yang diciptakannya pada kejuaraan atletik dunia 2009. Ketika mendengar letusan “start” ditembakkan, seketika itu juga isi kepala Bolt begitu senyap. Seolah semua kebisingan yang ada di kiri kanan sepanjang lintasan menjadi hilang.

Secara faktual tentunya suara-suara di sekeliling tetap ada, namun pikiran Bolt yang sepenuhnya terfokus kepada titik finish itulah yang membuat distraksi suara sekitar menjadi hilang.

Dan, Bolt mengakui bahwa fokus kepada satu titik, yakni titik finish, itulah yang menjadi kunci keberhasilan dan kemenangannya selama ini.

Pada kenyataannya, sikap fokus ternyata tak sesederhana yang dibayangkan. Di era digital, manusia menghadapi begitu banyak distraksi, khususnya distraksi teknologi.

Kita mungkin pernah mendengar istilah FOMO (fear of missing out), FOBO (fear of being offline) dan nomophobia (takut untuk jauh dan terhubung dengan gawai, yang sebetulnya merupakan indikasi kerentanan kita terhadap distraksi digital.

Jangan heran, dalam dunia yang always connected ini, jam aktivitas dan kerja seseorang seolah tak berbatas.

Orang terbiasa untuk melakukan beberapa hal pada saat yang bersamaan atawa multitasking. Bisa saja orang sedang menelepon sambil berselancar di internet, ataupun menulis surel sambil menyantap makanan.


TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0736 || diagnostic_web = 0.8734

Close [X]
×