kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.208
  • SUN95,28 0,00%
  • EMAS663.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.08%
  • RD.CAMPURAN 0.07%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.06%
KOLOM /

Forgive, not forget

oleh Ekuslie Goestiandi - Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Rabu, 09 Januari 2019 / 07:30 WIB

Forgive, not forget

KONTAN.CO.ID - Mungkin di antara pembaca pernah mendengar kalimat berikut, “saya memaafkan, tapi bukan berarti melupakan”. Bahasa kerennya, forgive but not forget.

Saat mendengar kalimat seperti itu, kita sering berpikir bahwa itu adalah sikap dari seorang pemaaf yang basa-basi; pemaaf yang sesungguhnya masih mendendam, namun berpura-pura untuk memaafkan. Benarkah demikian halnya?

Secara psikologis, memaafkan pada dasarnya adalah sebuah pilihan sikap. Dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, seseorang bisa memutuskan akan memaafkan atau tidak.

Sementara melupakan adalah suatu kenyataan pikiran. Seseorang tidak serta merta bisa memutuskan untuk melupakan isi pikirannya, karena kemampuan mengingat (dan melupakan) adalah talenta yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia; tentu dengan takarannya masing-masing.

Dengan demikian, forgive but not forget sesungguhnya bukanlah sikap memaafkan yang penuh basa-basi. Tak perlu merasa tersinggung atau sedih, jika ada orang yang bertutur seperti itu kepada kita.

Memang demikianlah halnya kenyataan pikiran manusia, seperti yang diilustrasikan dengan sangat baik dalam kisah di bawah ini.

Alkisah, suatu saat, ada seorang anak pemarah alias high-tempered yang mengadu kepada ayahnya. Tuturnya, “Ayah, banyak orang mulai tidak suka padaku. Aku ingin menjadi orang yang disukai teman-teman. Aku ingin menghilangkan sifat pemarahku yang jelek ini. Namun, caranya bagaimana, Yah?”.

Dengan takzim ayahnya menjawab, “Ayah sangat senang mendengar keinginanmu, Nak. Sekarang, coba engkau cari dan kumpulkan sekantung paku”.

“Untuk apa, Yah?” sahut sang anak seketika. “Sudahlah, nanti engkau juga akan tahu, anakku”, Ayahnya membalas sambil tersenyum bijak.

Dengan bekal sekantung paku, sang ayah meminta anaknya untuk menancapkan satu paku ke batang pohon di depan rumahnya, setiap kali si anak marah.

Baru saja dicoba, hari pertama anak itu telah menancapkan 25 paku! Artinya, ia sudah marah sebanyak 25 kali. Bukannya kaget, sang ayah justru tersenyum dengan paku-paku yang telah ditancapkan anaknya tersebut.

Selanjutnya, pada hari kedua, si anak menancapkan 15 paku ke batang pohon. Secara keseluruhan, hanya dalam dua hari, sudah ada 40 paku yang tertancap kuat.


TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0009 || diagnostic_api_kanan = 0.0553 || diagnostic_web = 0.4880

Close [X]
×