kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45867,21   -1,27   -0.15%
  • EMAS930.000 -0,21%
  • RD.SAHAM -0.40%
  • RD.CAMPURAN -0.08%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.11%
KOLOM /

Greed is good

oleh Ellen May - Ellen May Research Institute


Jumat, 08 Januari 2021 / 14:40 WIB
Greed is good
ILUSTRASI. Ellen May, Pengamat Pasar Modal dan pendiri Ellen May Institute. 

Reporter: Harian Kontan | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Greed is good jika investor tahu kapan waktunya untuk mulai “serakah” dan kapan waktunya untuk menahan diri. Greed is good jika investor tahu alasan “greedy” adalah karena munculnya peluang, bukan sekedar nafsu atau emosi.

Greed yang rasional akan menguntungkan. Greed yang emosional, tidak hanya akan menghancurkan portofolio investasi, namun juga hidup secara keseluruhan.

Bicara tentang greed, saya punya pengalaman berharga sejak tahun 2008 hingga 2020 lalu. Pengalaman ini bisa jadi bekal untuk ke depannya, kapan harus “greedy” dan kapan harus mengerem diri.

Masih jelas dalam ingatan saya, di 2007, pasar saham terus bergerak naik. Indikator perekonomian pun menunjukkan perekonomian di Indonesia dan di Amerika saat itu sedang panas-panasnya.

Saat itu angka pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 6,3%, yang merupakan tertinggi sejak tahun 1996. Tingkat inflasi waktu itu di angka 6,59%.

Siapa yang menyangka krisis finansial akan menghantam di 2008 dan pergerakan harga saham di Amerika porak-poranda karena krisis subprime mortgage, bahkan berdampak juga di negara lain, termasuk Indonesia. Waktu itu, IHSG turun lebih dari 60%.

Di masa kelam itu, semua orang ketakutan dan tidak berani membeli saham. Namun, justru saham yang saya sempat beli di akhir 2008 berbuah hingga 1.600% di 2013.

Pengalaman tersebut membuat nasihat dari Warren Buffet “be greedy when others are fearful, be fearful when others are greedy” terngiang di benak saya hingga hari ini. Bahkan sangat membantu saya dalam mengambil keputusan investasi di 2020.

Di 2020 lalu, pasar saham bergerak sangat volatil, memberi warna berbeda buat investor saham pada umumnya, dan buat saya khususnya sebagai investor, trader, juga pengajar. Jika di 2008 saya sibuk menenangkan diri, maka tahun lalu saya sibuk menenangkan komunitas yang panik saat harga saham jatuh. Juga sebaliknya, saya megingatkan untuk ngerem ketika sedang euforia.

Beberapa kali pasar saham turun tajam di 2020. Di Maret saat awal pandemi, IHSG sempat turun 31,67% dalam 14 hari. Di September IHSG anjlok 10,66% dalam tujuh hari.

Pada saat itu, investor sangat panik dan pesimistis pasar saham sedang memberi peluang bagus untuk menambah kekayaan, dengan membeli saham terdiskon. Padahal, momen tersebut adalah momen langka untuk berinvestasi dengan diskon extravaganza, setelah krisis subprime mortgage di 2008.

Namun sungguh tidak mudah meyakinkan investor untuk memanfaatkan peluang tersebut, di mana kondisi perekonomian di pertengahan 2020 sedang berat-beratnya. Semua indikator perekonomian, menunjukkan tanda melambat pada Maret–Juni 2020.

Ini terlihat dari data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang menunjukkan pendapatan perkapita masyarakat Indonesia, anjlok 5,32%. Deflasi 0,10%-0,05% dari Juli-September, yang menunjukkan perekonomian bergerak melambat.

Indeks keyakinan konsumen (IKK) sempat anjlok ke angka 77,8 jauh dari batas angka 100. Angka di atas 100 artinya masyarakat optimistis.

Angka Purchasing Managers Index (PMI) Manufacturing sempat anjlok ke level 27,5 di April tahun lalu, menjadi yang terendah dalam 25 tahun terakhir. Angka PMI di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur ekspansif.

Penjualan ritel turun 20,6%, penjualan mobil turun 89% bulan Mei dibanding April. Ditambah lagi kinerja perusahaan mulai berdarah-darah dengan berita PHK di mana-mana. Sepertinya enggak ada bagus-bagusnya buat investasi.

Ketika angka perekonomian mulai menanjak di September 2020 pun, tidak mudah bagi investor pemula untuk mulai berinvestasi. Indonesia masuk resesi dikarenakan PDB yang tumbuh negatif selama 2 kuartal berturut-turut.

Waktu itu saya melirik sektor properti, konstruksi dan ritel yang masih bervaluasi super terdiskon dibandingkan historikalnya. Tidak banyak yang tertarik dengan saham-saham tersebut karena kinerjanya di 2020 sangat terpukul pandemi.

Singkat cerita, setelah berjalannya waktu hingga Desember 2020, kini saham-saham tersebut sudah mulai bertumbuh dan berbuah. Terlampir grafik PBV beberapa saham di sektor properti dan konstruksi yang menunjukkan level bottom atau termurah di September 2020 dan saat ini masih cukup murah dibanding beberapa tahun sebelumnya.

BSDE PBV Band

CTRA PBV Band

WSKT PBV Band

PTPP PBV Band




TERBARU
Kontan Academy
Panduan Cepat Pendalaman Strategic Thinking Sukses Berkomunikasi: Mempengaruhi Orang Lain Batch 2

[X]
×