kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45902,74   8,79   0.98%
  • EMAS935.000 -0,53%
  • RD.SAHAM -0.64%
  • RD.CAMPURAN -0.17%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%
KOLOM /

Growth value investing, strategi ampuh ketika pasar runtuh

oleh Ellen May dan Tim EMTrade - EMTrade


Senin, 01 Februari 2021 / 18:26 WIB
Growth value investing, strategi ampuh ketika pasar runtuh
ILUSTRASI. Ellen May, Pengamat Pasar Modal dan pendiri Ellen May Institute. Foto: DOK PRIBADI

Reporter: Harian Kontan | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kejatuhan pasar jangan disesali terlalu dalam. Hal ini harusnya menjadi peluang bagi investor untuk membeli saham dengan harga diskon.

Namun, tidak semua saham bisa dipilih. Perlu strategi yang pas agar pilihan saham memberikan return di kemudian hari, yaitu value growth investing.

Value growth investing adalah strategi membeli saham dengan fundamental bagus dan memiliki valuasi murah. Biasanya kriteria ini bisa ditemukan pada saham-saham blue chip.

Jadi, anggap saja kejatuhan saham sebagai great sale. Terlebih lagi saat kejatuhan pasar seperti yang terjadi Maret 2020 silam. Saat itu, valuasi saham-saham ini menjadi murah atau di bawah nilai wajarnya.

Valuasi bisa dinilai dari perbandingan harga pasar dan kualitas fundamental perusahaan tersebut. Jika harga pasar di bawah performa fundamental perusahaan, maka saham tersebut bisa disebut murah atau undervalued.

Sebaliknya, jika harga pasar saham berada di atas performa fundamental saham, saham tersebut disebut sudah premium atau overvalued.

Untuk mengukur valuasi bisa menggunakan beberapa metode, seperti PER, PBV, DCF, EV/EBITDA atau RNAV. Sedangkan untuk mengukur kualitas perusahaan ada poin-poin penting yang harus diperhatikan, yaitu model bisnis, manajemen dan kinerja keuangan.

Model bisnis

Model bisnis merupakan hal terpenting yang perlu diperhatikan pada saat melakukan analisis fundamental, sebelum melangkah pada analisis lainnya. Mengapa demikian?

Analisis model bisnis bisa memberikan gambaran besar tentang bagaimana prospek bisnis ke depan, apakah potensial atau justru tidak berkembang. Dengan demikian, analisis bisnis ini bisa membantu investor menyaring saham-saham dengan fundamental bagus.

Analisis model bisnis juga bisa membantu investor menghindari risiko manipulasi laporan keuangan oleh perusahaan. Ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan ketika melakukan analisis bisnis perusahaan. 

Pertama, model bisnis perusahaan. Cobalah analisa bagaimana kegiatan operasional perusahaan bisa menghasilkan penjualan dan keuntungan. Pilihlah perusahaan dengan model bisnis yang dipahami, sehingga Anda tahu bagaimana perusahaan tersebut dapat menghasilkan pendapatan dan laba.

Kedua, pangsa pasar. Coba cari tahu, apakah perusahaan memiliki pangsa pasar besar? Seberapa dibutuhkannya produk tersebut oleh masyarakat?

Contohnya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Perusahaan ini memiliki produk makanan ringan dan mi instan yang sangat digemari oleh masyarakat, baik di Indonesia maupun di manca negara.

Cari tahu juga berapa porsi market share yang dimiliki perusahaan dibandingkan dengan kompetitornya. Dibandingkan dengan kompetitornya di industri mi instan, ICBP dengan produknya Indomie menguasai 71-73% pasar mi instan di Indonesia.

Selain itu, untuk produk makanan ringan atau snack, ICBP menguasai 45% pangsa pasar di Indonesia, dengan produk unggulan seperti Chitato, Qtela, Lays, Doritos, Cheetos dan Trenz. 

Ketiga, keunggulan kompetitif. Keunggulan kompetitif menghindarkan perusahaan dari perang harga dengan kompetitornya dan membuat pelanggan tetap memilih produk atau layanan dari perusahaan tersebut meskipun kompetisi ketat.

Mari kembali pada contoh ICBP tadi. Cek di sekeliling Anda. Apakah orang-orang menyebut kata mi instan ketika ingin makan mi instan?

Hampir pasti mereka menyebut merek Indomie daripada menyebut mi instan. Tanpa sadar, hal tersebut menjadi kekuatan bagi brand Indomie.

Keempat, scuttlebutting. Ini artinya berpikir seperti konsumen. Buatlah analisis dari sudut pandang konsumen, apa saja keunggulan dan kelemahan produk atau layanan suatu perusahaan.

Kelima, melihat risiko model bisnis perusahaan. Ancaman perusahaan mencakup segala hal internal maupun eksternal.

Secara internal, terdapat ancaman dari manajemen yang kurang bertanggung jawab dan bahkan berujung pada fraud. Sedangkan dari eksternal, kehadiran pesaing, price war, peraturan dan kebijakan pemerintah (cukai, pajak) juga dapat menjadi ancaman tersendiri. 

Risiko lainnya, misalnya, apakah perusahaan bisa terimbas krisis? Apakah perusahaan bisa terganggu dengan perkembangan teknologi? Bagaimana dengan pandemi?

Keenam, lihat karakter bisnis perusahaan. Ada tiga jenis karakter sebuah bisnis atau perusahaan.

Ada perusahaan dengan karakter defensif. Perusahaan di karakter ini menyediakan produk untuk memenuhi kebutuhan primer dan tidak mudah terpengaruh oleh kondisi perekonomian, kebal krisis. Sektor dalam karakter ini adalah barang konsumsi, rokok, utilitas dan farmasi.

Lalu ada karakter cyclical. Sangat terpengaruh perubahan ekonomi, alam, cuaca. Produk yang dihasilkan bersifat substitusi.

Siklusnya biasanya naik saat economy boom dan turun ketika resesi, alias tidak tahan krisis. Sektor yang masuk dalam karakter ini adalah properti, agrikultur, pertambangan, minyak dan gas, keuangan dan poultry.

Selain itu ada karakter turnaround. Ini sebutan untuk bisnis yang memiliki story dari jelek menjadi bagus.

Ini bisa terjadi antara lain karena perubahan model bisnis, perombakan di manajemen perusahaan, hingga perubahan tren atau situasi terkini. Alasan investasi biasanya karena potensi ke depan, namun risiko ketidakpastian tinggi

Terakhir, ada karakter bisnis fast growing. Pendapatan dan laba peruashaan dengan karakter ini biasanya tumbuh sangat cepat pada momen tertentu. Memiliki produk dan jasa yang sangat dibutuhkan (brand power).

Perusahaan juga melakukan inovasi dengan massif dan masih punya ruang yang besar untuk terus berkembang. Biasanya, perusahaan yang berkembang ini punya capital expenditure (capex) besar, jarang membagi dividen dan valuasi cenderung mahal.




TERBARU

[X]
×