kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Hasil = proses?


Senin, 12 November 2018 / 22:32 WIB
Hasil = proses?
ILUSTRASI. Pengamat & Kolomnis Ekuslie

Reporter: Tabloid Kontan | Editor: Mesti Sinaga

KONTAN.CO.ID - Asian Games ke-18 telah berlangsung di Indonesia dari 18 Agustus hingga 2 September 2018. Terlepas dari kekurangan-kekurangan kecil yang ada, rasanya kita bersepakat bahwa penyelenggaraan pesta olahraga se Asia ini telah menghadirkan euforia yang luar biasa. Kita gembira karena pelaksanaannya  berjalan lancar dan meriah.

Kita juga dipenuhi rasa sukacita, karena banyak prestasi yang ditorehkan oleh atlet-atlet pejuang olahraga, dan akhirnya menempatkan Indonesia di urutan ke-4. 

Di tengah-tengah kegembiraan capaian prestasi tersebut, saya sering sekali mendengar kalimat “Memang, hasil tak pernah mengkhianati proses”. Kalimat itu acapkali terlontar dari mulut para atlet, komentator olahraga, pejabat terkait, hingga pengamat pada umumnya.

Mereka melontarkan kalimat tersebut dalam pengertian bahwa segenap “proses” (latihan, coaching, kompetisi dsb.) yang telah ditempuh oleh para atlet secara keras selama ini, diganjar lunas oleh capaian “hasil” yang gemilang (dalam hal ini medali, khususnya medali emas) yang diraih dalam event sekelas Asian Games.

Kalimat itu juga bermakna seakan-akan bahwa “proses” yang benar pasti mendatangkan “hasil” yang benar.

Mengapa? Karena, sekali lagi, hasil tak akan pernah mengkhianati proses.  Bersiap-siaplah untuk “menyesal dan marah dengan keadaan”, jika ternyata itu tak terjadi.

Artinya, walaupun sudah berjuang keras menjalani “proses”, tapi tak mendapatkan imbalan “hasil” yang sepadan. Benarkah demikian adanya?

Tentang penyesalan, saya teringat dengan sebuah gambar kartun yang menarik. Gambar itu menunjukkan seseorang yang dengan palu panjangnya sedang menggali perut bumi untuk mendapatkan emas.

Namun, setelah sekian lama menggali, ia pun berhenti dan balik badan meninggalkan lahan yang sedang ditambangi. Padahal, tak jauh setelah itu, bongkahan emas tengah menunggu kedatangannya.

Saya menduga, ilustrasi ini diilhami oleh kisah seorang “paman” di Amerika Serikat pada abad ke 19, saat negeri itu sedang dilanda “demam emas”.

Suatu hari, sang paman datang ke negara bagian Colorado untuk mengadu nasib. Dinaungi peruntungan yang baik, dalam beberapa hari pertama saja ia sudah menemukan bijih emas dalam jumlah besar. Lokasi tambangnya kemudian digadang-gadang sebagai salah satu lahan yang paling prospektif.

Optimisme ini tentu saja menimbulkan semangat yang menyala-nyala, sehingga sang paman kemudian ingin membeli dan mendatangkan mesin-mesin pengeboran yang baru.

Untuk keperluan pembelian alat-alat pengeboran tersebut, sang paman pun berkongsi dengan keponakannya yang bernama R.U. Darby. Karena tak punya modal, mereka bahkan berutang kanan-kiri kepada para tetangganya.

Apa mau dikata, setelah beberapa pekan melakukan pengeboran, jalur emas yang semula begitu menjanjikan, ternyata tak menunjukkan wujudnya.

Dengan penyesalan mendalam, mereka pun akhirnya memutuskan untuk menghentikan usaha pengeboran. Seketika itu juga, mereka meninggalkan lahan pengeboran dan menjual semua peralatan kepada seorang pedagang besi tua.




×