kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,11   -0,67   -0.07%
  • EMAS951.000 -0,21%
  • RD.SAHAM 1.12%
  • RD.CAMPURAN 0.52%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Investasi di Tengah Pandemi Covid-19

oleh Hans Kwee - Direktur Anugerah Mega Investama, Dosen FEB Trisakti


Rabu, 18 November 2020 / 08:00 WIB
Investasi di Tengah Pandemi Covid-19


Reporter: Harris Hadinata | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi Covid-19 melanda dunia. Kemunculan virus ini dimulai dari Wuhan, China, lalu menyebar ke seluruh dunia. Tidak ketinggalan Indonesia juga menghadapi tekanan akibat virus korona baru ini.

Peningkatan kasus Covid-19 telah memaksa berbagai negara di dunia memberlakukan lockdown yang ketat demi menghentikan tingkat penyebaran yang cepat. Indonesia juga dipaksa menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), yang merupakan lockdown dalam bentuk lebih longgar.

Penerapan lockdown ini membuat ekonomi tertekan. Pasar saham seluruh dunia mengalami koreksi akibat penurunan ekonomi, seiring pembatasan sosial yang dilakukan.

Di tengah krisis kesehatan yang berubah menjadi krisis ekonomi, ternyata jumlah investor dalam negeri terus bergerak naik, diikuti transaksi harian yang didominasi pelaku pasar lokal. Dalam berbagai kesempatan, ketika investor asing melakukan aksi jual, Indeks Harga Saham Gabungan ternyata masih dapat naik. Ini mengindikasikan adanya dominasi dan optimisme pelaku pasar lokal.

Peningkatan pelaku pasar lokal ini dapat merupakan sebuah momentum kebangkitan investor lokal di pasar modal Indonesia. Hal ini memberikan indikasi optimisme investor akan kondisi pasar keuangan, khususnya pasar modal Indonesia.

Ketika investor optimistis terhadap prospek pasar modal ke depan, artinya mereka juga optimistis dengan masa depan ekonomi Indonesia. Karena pasar modal, khususnya saham, adalah membeli masa depan atau harapan di masa depan.

Konsep investasi saham adalah membeli saham, yang artinya sama dengan membeli sebuah perusahaan. Ketika perusahaan menikmati keuntungan, maka harga saham akan naik dan investor juga akan meraih keuntungan.

Yang penting disadari, krisis sering memberikan peluang investasi kepada pelaku pasar, termasuk krisis yang diakibatkan pandemi Covid-19 ini. Krisis adalah waktu untuk membeli saham perusahaan dengan harga diskon.

Membeli saham yang prospektif sama seperti seseorang yang melihat uang senilai Rp 100.000 diperdagangkan di pasar dengan harga Rp 50.000. Bila orang itu pintar, dia akan segera menukar Rp 50.000 dengan Rp 100.000 yang ada di pasar, sebelum semua orang mengetahui hal tersebut, terutama penjualnya.

Ternyata banyak orang melakukan hal yang berbeda. Ada pedagang di pasar yang sama menjual sebuah amplop yang diklaim berisi duit jutaan rupiah bila beruntung, dengan harga cuma Rp. 50.000.

Melihat janji yang menguntungkan tersebut, banyak orang cepat bergerak dan membeli amplop tersebut tanpa tahu apa isinya. Ternyata, hasilnya bisa saja isi amplop tersebut nilainya di bawah 50.000 atau bahkan kosong. Sialnya lagi, amplop ternyata berisi surat utang.

Untuk mengantisipasi hal-hal tersebut, ada beberapa hal yang perlu dilakukan investor. Pertama, memperhitungkan profitabilitas sebuah perusahaan atau kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan. Semakin tinggi kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan, tentu akan semakin baik.

Untuk melakukan ini, ada tiga bagian dari laporan keuangan yang bisa investor cermati, yaitu laba kotor (gross profit), laba usaha (operating profit) dan laba bersih (net profit).

Laba kotor adalah keuntungan perusahaan dari penjualan produk dan jasa perusahaan. Bila perusahaan tersebut bergerak di industri manufaktur atau dagang, maka laba kotor didapatkan dari selisih harga jual produk dengan harga pokok produksi untuk menghasilkan produk tersebut.

Semakin besar persentase margin, maka semakin baik. Ini mengindikasikan perusahaan tidak dalam industri yang bersaing, sehingga mampu menghasilkan keuntungan yang baik.

Laba usaha atau operating profit adalah laba perusahaan setelah dikurangi biaya-biaya untuk kegiatan operasi perusahaan dari gaji, administrasi, depresiasi dan lain-lain. Bila perusahaan masih untung di poin ini, artinya secara operasi perusahaan menghasilkan keuntungan. Semakin besar angkanya, artinya perusahaan punya prospek yang baik.

Terakhir adalah laba bersih atau net profit, yaitu laba perusahaan setelah dikurangi semua biaya, termasuk biaya bunga, pajak, serta ditambah pendapatan lain-lain dan dikurangi beban lain-lain. Ini adalah pendapatan dan beban yang bukan dari aktivitas utama perusahaan.

Keuntungan inilah yang akan didapatkan pemegang saham. Nilai margin ini sebaiknya di atas suku bunga obligasi pemerintah ditambah margin sebesar 3%5%.





[X]
×