kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Investor saham penuh waktu

Senin, 18 Maret 2019 / 14:05 WIB

Investor saham penuh waktu
ILUSTRASI. ANALISIS - Lukas Setiaatmadja

Aktor favorit saya adalah Marlon "The Godfather" Brando. Maka, saya senang punya teman baru bernama Marlon, walau nama keluarganya Suyanthio. Dia lahir di Makassar 29 tahun silam. Kehidupannya penuh warna.

Sejak SMA, Marlon sudah rajin mencari tambahan penghasilan dari berjualan handphone. Sempat kuliah ilmu hukum beberapa semester di Makassar, Marlon memutuskan hijrah ke Jakarta tahun 2010. Dia sempat berbisnis barang kelontong dan distribusi gas. Oktober 2017, Marlon menikah dan melepas semua bisnis untuk menjadi investor saham penuh waktu.

Marlon berkenalan dengan dunia saham awal 2008. Seperti kebanyakan orang, ia bermimpi kaya di bursa saham, dengan cara trading saham. "Setelah trading beberapa bulan, saya rugi banyak akibat trading saham gorengan berkolesterol tinggi," katanya.

Marlon lantas mengubah strategi investasi dari trading jangka pendek ke investasi jangka panjang. Awalnya dia berinvestasi dengan hanya melihat rasio valuasi saham seperti Price to Book Value (PBV) dan Price to Earnings (PER). Di kemudian hari, ia memperhatikan aspek fundamental lain, seperti manajemen, arus kas, kualitas aset serta kualitas dan kesinambungan penjualan dan laba bersih.

Saham pertama yang ia beli dengan pendekatan analisis fundamental dan horizon investasi jangka panjang adalah Gajah Tunggal (GJTL). Ia membeli GJTL di harga Rp 210, dijual setahun kemudian Rp 430. Untuk pertama kalinya Marlon menikmati keuntungan besar dan membuat "ketagihan" mencari saham lain yang prospektif. Ia menemukan saham Media Nusantara Citra (MNCN), membeli di harga Rp 240, dan naik jadi Rp 1.000 dalam tempo 15 bulan.

Sukses dengan GJTL dan MNCN, Marlon mulai berpikir, bisakah ia hidup hanya dari berinvestasi saham? Ia lalu berdiskusi dengan kedua orang tuanya. "Mereka tidak punya pengalaman investasi saham sehingga menyarankan saya untuk tetap bekerja," kata Marlon, "Investasi saham sebagai kegiatan sampingan saja."

Saat menggumulkan ide menjadi investor saham penuh waktu, Marlon menemukan artikel tentang investor senior seperti Lo Kheng Hong dan Sukarto Bujung. Mata Marlon nulai terbuka dan otaknya mulai "tercuci" oleh kisah hidup para legenda saham tersebut.

Dia menjadi lebih yakin bahwa kesuksesan investor sukses kelas dunia seperti Warren Buffett ternyata bisa ditiru. Akhirnya, di usia yang relatif muda, 27 tahun, Marlon memutuskan untuk mengikuti jejak Lo Kheng Hong, menjadi investor saham penuh waktu.

"Saya mendapat pencerahan bahwa trader dan investor saham itu berbeda jauh. Menjadi investor saham membuat gaya hidup saya jadi lebih hemat. Saat mendapat keuntungan besar, saya menginvestasikan kembali keuntungan tersebut di saham, bukan untuk foya-foya," kata Marlon.

Tahun 2011, Marlon membeli saham Lippo Cikarang (LPCK) di harga Rp 430. Tidak lama kemudian, terjadi bencana tsunami di Jepang. Marlon membaca berita bahwa beberapa pabrik di Jepang akan direlokasi ke sekitar Jakarta, dan mulai berharap keuntungan besar dari LPCK.

Setelah memegang saham LPCK selama dua tahun, ia menjual di harga Rp 3.500. "Meski untung banyak, saya merasa ada yang salah karena saham ini kemudian naik menjadi Rp 12.000-an," kata Marlon sembari tersenyum.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi

Tag
TERBARU
Terpopuler
Rumah Pemilu
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0600 || diagnostic_web = 0.3766

Close [X]
×