kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Jurus memahami rights issue


Selasa, 16 Juli 2019 / 09:45 WIB
Jurus memahami rights issue

Reporter: Harian Kontan | Editor: Tri Adi

Pohon yang bagus adalah yang selalu bertumbuh. Idealnya, pohon bertumbuh terus hingga mencapai langit, seperti pohon kacang dalam dongeng Jack dan Pohon Kacang Ajaib. Demikian juga halnya dengan sebuah perusahaan. Jika tidak tumbuh, perusahaan tersebut akan menjadi bonsai, cantik tetapi mini. Untuk bisa terus mencatatkan pertumbuhan, perusahaan akan membutuhkan pendanaan.

Ada tiga sumber pendanaan yang lazim dimiliki perusahaan. Pertama, dari laba bersih perusahaan yang tidak dibagikan kepada pemegang saham (laba ditahan). Kedua, dari berutang. Ketiga, dari aksi korporasi menambah modal ekuitas. Bagi perusahaan publik, cara menambah modal ekuitas bisa melalui sistematika dengan atau tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Jika perusahaan menambah modal dengan melakukan aksi HMETD, perusahaan memberikan hak kepada seluruh pemegang saham saat ini untuk membeli saham baru yang diterbitkan secara proporsional. Misalnya, Tuan Gemblung adalah pemegang 50% saham suatu perusahaan. Maka ia berhak membeli 50% dari saham baru yang ditawarkan perusahaan. Proses ini sering disebut right issue atau right offering.

Jika menambah modal tanpa HMETD, maka perusahaan menawarkan saham barunya kepada publik. Cara ini sering disebut sebagai secondary public offering (SPO). Menambah modal ekuitas merupakan aksi korporasi yang penting bagi perusahaan publik, sehingga perlu ada persetujuan dari Otoritas Jasa keuangan (OJK) dan pemegang saham perusahaan, yang bisa diperoleh melalui mekanisme rapat umum pemegang saham (RUPS).

Investor atau pemegang saham suatu perusahaan yang sedang melakukan hajatan right issue perlu mencermati beberapa isu penting agar investasinya tidak merugi. Pertama, right issue bisa menimbulkan dua macam dilusi (pengenceran), yang akan dialami pemegang saham: dilusi kepemilikan (dilution of control) dan dilusi kekayaan (dilution of value). Analoginya, jika 1 liter teh manis ditambahkan 1 liter air lagi tanpa menambah gula, maka akan diperoleh 2 liter teh yang kurang manis.

Pada proses right issue, selembar saham baru biasanya akan dijual di bawah harga pasarnya. Misalnya, harga pelaksanaan right issue dipatok sebesar Rp 1.500, padahal harga saham di pasar sebesar Rp 2.000. Jika ada tambahan saham baru, tetapi uang yang masuk ke perusahaan berada di bawah harga pasar, nilai dan harga per saham otomatis akan turun. Selain itu, persentase kepemilikan seorang pemegang saham akan berkurang jika ia diam saja.




TERBARU
Terpopuler

×