kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kala bursa sedang bergoyang


Selasa, 10 September 2019 / 09:00 WIB
Kala bursa sedang bergoyang

Reporter: Harian Kontan | Editor: Tri Adi

Sepanjang tahun ini harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak seperti irama roller coaster. Harga saham yang fluktuatif akibat demam perang tarif Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok tentu bukan situasi yang diharapkan oleh para pelaku pasar. Namun ketika kita membeli saham, kita harus siap menghadapi segala hal. Tidak hanya siap mengalami kenaikan harga, tetapi juga penurunan harga saham.

Masalahnya, tidak semua investor tahan melihat penurunan harga saham yang dimiliki, apalagi jika penurunan harga saham tersebut cukup dalam, dan terjadi hanya dalam waktu sehari, apalagi bila terjadi selama beberapa hari. Beberapa bulan terakhir ini saja tercatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa kali mengalami ayunan (swing) yang bisa membuat investor merasa mual.

Perlu diingat bahwa harga saham di bursa dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor yang rasional maupun yang irasional. Selain faktor fundamental perusahaan, kondisi ekonomi global maupun nasional, serta peraturan pemerintah, harga saham juga sangat dipengaruhi oleh persepsi serta keyakinan pelaku pasar terhadap prospek di bursa saham. Ada pula faktor psikologis seperti perilaku ikut-ikutan (herding behavior) yang membuat harga saham makin bergejolak.

Investor seperti apa yang khawatir, bahkan panik, ketika melihat harga saham dalam portofolionya turun dengan persentase yang cukup besar? Setidaknya ada lima tipe investor atau trader saham yang masuk kategori ini.

Pertama, investor saham yang tidak yakin dengan fundamental perusahaan yang sahamnya ia pegang. Hal ini bisa terjadi karena investor saat membeli saham tersebut tidak terlalu mengenal saham yang ia beli tersebut.

Investor tadi mungkin hanya ikut-ikutan, melihat sebuah saham yang harganya sedang mengalami tren naik. Atau mungkin investor tersebut membeli saham berdasarkan rekomendasi dari teman, broker (perusahaan sekuritas) atau berlangganan paket rekomendasi saham dari institusi yang sangat piawai dalam melakukan promosi.

Akhirnya, ketika harga sahamnya mengalami penurunan harga yang cukup besar (misal, harga saham turun 5% hingga 10%), investor tersebut akan mudah panik dan segera melakukan tindakan jual-rugi (cut loss). Ironinya, tipe investor saham yang membeli tanpa pertimbangan matang seperti ini jumlahnya sangat banyak.

Solusinya? Jangan pernah membeli kucing dalam karung. Kenalilah saham yang akan Anda beli dengan baik. Know what you buy, and buy what you know, kata Peter Lynch, fund manager legendaris.

Ingat bahwa setiap rekomendasi harus disikapi secara kritis. Bisa saja si pemberi rekomendasi sebenarnya punya motivasi mementingkan dirinya sendiri. Misalnya ia sudah memiliki saham tersebut dan ingin investor/trader lain ikut-ikutan membeli, supaya harga sahamnya cepat naik sehingga dia bisa segera menikmati keuntungan (profit taking).



TERBARU

×