kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kala bursa sedang bergoyang


Selasa, 10 September 2019 / 09:00 WIB
Kala bursa sedang bergoyang

Reporter: Harian Kontan | Editor: Tri Adi

Tipe kedua, adalah investor saham yang cukup mengenal fundamental sahamnya, namun merasa membeli saham pada harga yang kemahalan. Ketika harganya turun, maka dia mudah panik.

Mahal tidaknya sebuah saham bisa dilihat dari Price Earnings Ratio (PER) saham tersebut. Sekadar ancar-ancar, PER sebesar 15 kali sering dianggap masih wajar. Saham dengan PER yang relatif tinggi, misalnya di atas 25 kali, dan tidak bisa dijustifikasi dengan prospek pertumbuhan laba bersih yang tinggi, punya kans untuk kemahalan.

Selain PER, sebuah saham yang sudah mengalami kenaikan harga tinggi, misal di atas 50% dalam setahun, punya kans lebih besar untuk mengalami penurunan (koreksi) harga. Ironisnya, investor justru cenderung lebih suka membeli saham ketika harganya sudah melambung tinggi.

Misalnya, saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP). Saat harga saham INKP cuma sebesar Rp 1.000, sedikit sekali investor yang melirik. Namun ketika harganya sudah naik hingga Rp 20.000, justru investor berbondong-bondong membeli saham tersebut. Aneh bin ajaib bukan? Inilah bursa saham.

Hal ini bisa terjadi karena perilaku ikut-ikutan (herding behavior). Bisa jadi sahamnya memang memiliki fundamental yang sangat bagus, seperti INKP, karena harga pulp sedang tinggi. Namun karena banyak investor, baik ritel maupun institusi, ingin memilikinya, harga saham tersebut kemudian melejit tinggi.

Solusinya? Pertimbangkan secara matang valuasi sebuah saham sebelum kita membeli. Hati-hati saat membeli sebuah saham yang sudah mengalami kenaikan harga tinggi dalam waktu singkat.

Contohnya saham bank seperti BBRi, BBNI dan BBTN yang harganya naik tinggi di tahun 2017 lalu. Pada semester satu tahun 2018, harga saham-saham bank tersebut mengalami koreksi harga yang lumayan besar (antara 30% hingga 35%).

Tipe ketiga adalah investor saham yang sebenarnya memiliki horizon investasi jangka panjang, namun perilakunya serta cara berpikirnya (mind set) masih terbawa seperti trader saham. Ia suka mengamati pergerakan saham secara jangka pendek, sebentar-sebentar memeriksa harga saham, bahkan melihat running text saham. Ia merasa bahagia jika harga saham yang ia miliki naik, serta cepat khawatir jika harga sahamnya turun.

Tipe keempat adalah trader saham yang harus disiplin melakukan cut loss jika harga sahamnya sudah turun sekian persen. Tetapi tentu saja, jika trader tersebut terlalu sering melakukan cut loss, dananya akan habis. Misalnya, untuk batasan cut loss 10%, jika trader salah sebanyak 10 kali, ia akan kehabisan modal.

Terakhir, trader saham yang menggunakan fasilitas margin. Ketika harga turun tajam, ia akan terkena margin call.♦

Lukas Setia Atmaja 
www.hungrystock.com, IG: lukas_setiaatmaja




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×