kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45676,39   -1,91   -0.28%
  • EMAS918.000 0,77%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Kesempatan Membeli Saham di Harga Murah

oleh Parto Kawito - Direktur PT Infovesta Utama


Selasa, 10 Maret 2020 / 08:10 WIB
Kesempatan Membeli Saham di Harga Murah

Reporter: Harris Hadinata | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - Pasar saham tahun ini masih digelayuti mendung akibat faktor global dan domestik. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga tanggal 19 Februari 2020 sudah turun sebesar 5,89 bila dihitung sejak awal tahun atau year to date (ytd). Sementara indeks LQ45 turun sebesar 4,94% ytd.

Penurunan indeks saham Indonesia bahkan lebih tajam dibandingkan Shanghai Stock Exchange Composite Index (SSE) yang turun 2,13% secara ytd. Hong Kong Hang Seng Index juga cuma turun sebesar 2,34% ytd. Bahkan indeks SSE sudah pulih ke posisi tanggal 31 Januari 2020 saat pasar mulai dibuka setelah libur Imlek. Indeks Singapore Straits Times Index hanya koreksi tipis sebesar 0,27% ytd. Sementara Indeks Kospi sudah menguat 0,58% secara ytd.

Penurunan indeks yang lebih besar di pasar saham dalam negeri kemungkinan disebabkan faktor domestik, terutama akibat gonjang-ganjing kasus suspensi dan likuidasi reksadana. Selain itu ada sentimen gagal bayar Asuransi Jiwasraya yang merembet ke pencairan beberapa produk asuransi lainnya.

Aksi jual pun tak terhindarkan, baik yang dilakukan oleh investor individu, manajer investasi atau investor asing. Dari awal tahun, investor asing sudah mencatatkan penjualan bersih Rp 1,26 triliun.

Pertanyaannya sekarang, apakah harga saham sudah murah? Apakah sekarang waktu yang tepat untuk masuk ke saham? Apakah harga saham sudah mencapai titik terendahnya? Untuk menjawab pertanyaan itu, penulis mencoba mencari informasi dan mengajukan beberapa argumen.

Dari sisi valuasi, digunakan metode price earning ratio (PER) yang umum, dengan pengamatan selama tiga tahun terakhir. Berdasarkan pengamatan pada pergerakan PER historis indeks LQ45 menunjukkan rata-rata PER berada di 17,22 kali. Saat ini PER menyentuh 13,11 kali, bahkan masih lebih rendah dari -1 standar deviasi terhadap rata-rata PER. Sehingga bisa dikatakan PER indeks berada di teritori murah.

Jika PER bisa naik ke posisi -1 standar deviasi saja, maka potensi kenaikan indeks mencapai 9,7%. Kemungkinan pemulihan ke teritori -1 standar deviasi bisa saja berlangsung sekitar dua bulan ke depan. Ini karena terakhir indeks saham berada di posisi tersebut terjadi pada 30 Desember 2019, dengan asumsi pemulihan pada grafik pergerakan PER membentuk huruf V, bukan U.

Selain PER, penulis mencoba membandingkan earning yield saham yang merupakan kebalikan dari PER. Rumusnya menjadi E/P, yaitu berapa rupiah laba bersih per saham dihasilkan untuk satu rupiah harga saham yang dibeli di pasar. Earning yield dibanding dengan yield SUN tenor 10 tahun dan dihitung spread atau selisihnya.

Tiga tahun lalu, spread antara earning yield saham dikurangi yield SUN masih negatif. Artinya earning yield saham jauh di bawah yield SUN. Namun saat ini kondisinya terbalik, di mana spread menjadi positif sejak 2 Januari 2020 dan per tanggal 18 Februari 2020 spread naik 1,12%.

Rata-rata spread selama tiga tahun terakhir adalah minus 1,5%. Kondisi ini menunjukkan harga saham relatif lebih murah dibanding harga SUN sebagai proxi dari obligasi.

Dengan dua metode tersebut, terlihat bahwa harga saham sudah sangat murah. Tapi apakah bisa lebih murah lagi?

Untuk itu penulis tidak mempunyai jawaban. Tapi ada satu analisa yang dapat dicoba, yaitu maximum drawdown (MDD) alias kerugian maksimal (dalam satuan persentase) untuk suatu periode tertentu, misalnya tahunan.

Data MDD yang dikumpulkan dari indeks LQ45 periode tiga tahun terakhir, yaitu sejak tahun 2017 hingga 2019, masing-masing sebesar -4,26%, -22,18% dan -13,58%. Sedangkan sejak awal tahun ini hingga 18 Feb 2020 MDD baru tercatat -7,66%. Artinya penurunan sekarang masih belum ada apa-apanya dibanding penurunan pada tahun 2019 apalagi tahun 2018.

Sebagai catatan tambahan, saat merebaknya virus SARS di tahun 2003, MDD tercatat mencapai -12.31%. Jadi masih terbuka peluang pasar bisa turun lagi, alias kita belum melihat dasarnya.

Namun pertanyaannya, apakah kali ini penurunan akan sebesar MDD tahun-tahun sebelumnya? Entahlah. Ada baiknya investor mulai mengumpulkan saham secara bertahap, karena harga saham sudah murah dan belum tentu mencapai MDD historis.

Saran saya, investor bisa berinvestasi di saham kategori blue chips berfundamental baik dan likuid, seperti saham bank, telekomunikasi, konsumer serta infrastruktur. Jika belum ada gambaran saham yang diburu, bisa investasi di reksadana saham. Bagi yang mengkhawatirkan transparansinya, bisa melirik reksadana indeks yang portofolionya tak aneh-aneh karena sesuai indeks yang ditirunya.




TERBARU

Close [X]
×