kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.120
  • SUN95,68 0,05%
  • EMAS671.000 0,52%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Krisis usia dini

oleh Ekuslie Goestiandi - Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Senin, 04 Februari 2019 / 15:52 WIB

Krisis usia dini
ILUSTRASI. Ekuslie Goestiandi

KONTAN.CO.ID -  Beberapa waktu yang lalu, saya menyimak percakapan dua anak muda yang baru saja meniti karier. Masing-masing adalah lulusan dari perguruan tinggi ternama di Indonesia.

Mereka baru beberapa bulan mendaratkan kakinya bekerja di perusahaan multi nasional yang mapan. Pembicaraan dua sahabat tersebut begitu menarik perhatian saya.

Ada suasana saling berkompetisi, sekaligus juga nuansa saling mengagumi. Meminjam istilah bahasa Jawa, keduanya melakukan sawang sinawang alias saling melihat.

Yang  satu melihat temannya punya kemampuan, prestasi dan capaian pekerjaan yang lebih hebat dari lainnya, sementara si lawan bicara menganggap temannya memiliki derajat sosial dan lingkup pergaulan yang lebih keren dari dirinya.  

Di antara diskusi yang seru dan akrab tersebut, terselip ungkapan seperti: seandainya...., maunya sih...., apa yang salah...?, kok begini ya..?, yang menyiratkan ketidakpuasan dan kegalauan di dalam diri mereka.

Bahkan, salah satu di antara mereka merasa berada di dalam situasi ketidakjelasan arah masa depan.

Dalam kajian psikologi kontemporer, kegalauan dua anak muda di atas mencerminkan fenomena yang disebut sebagai quarter life crisis.

Hal ini ditandai dengan perasaan cemas keraguan dan juga ketidakpuasan terhadap pencapaian karier, kedudukan sosial dan juga status finansial.

Lazimnya, krisis ini dialami oleh orang-orang muda dengan rentang usia 20 hingga 30an. Dalam bahasa Indonesia, saya menyebutnya sebagai krisis usia dini.

Hingga awal tahun 2000-an, krisis ini tidak selazim dan sepopuler krisis paruh baya (mid life crisis), yang banyak dialami oleh orang dewasa berusia 40 sampai 50 tahunan.

Perkembangan zaman yang berjalan begitu cepat, utamanya diwarnai irama kompetisi yang dahsyat,  membuat krisis usia dini tak kalah hebohnya dibandingkan dengan krisis paruh baya.

Beberapa studi menunjukkan bahwa krisis usia dini terutama dialami oleh orang-orang muda yang cerdas sekaligus ambisius.
Dalam perspektif orang muda, usia 20-an adalah periode kompetisi.

Dengan demikian, seketika mereka merasa kalah dan tertinggal dalam persaingan dengan rekan-rekan sebayanya, seketika itu juga mereka merasa gagal dalam pencapaian hidupnya.

Padahal, sejatinya persaingan adalah sebuah perjalanan tanpa ujung. Seseorang dengan mudah merasakan kekalahan, namun tak mudah bersyukur untuk menemukan kemenangan yang telah dialaminya.

Oliver Robinson, dari University of Greenwich – London (seperti dikutip The Guardian, May 2011),  menjelaskan ada empat tahapan yang terjadi dalam pengalaman krisis usia dini ini.

Pertama, perasaan terperangkap dalam sebuah pekerjaan dan (atau) hubungan. Sebenarnya ini sekadar perasaan ilusif belaka. Seseorang pada dasarnya bisa keluar dari perangkap, namun ia merasa tak bisa.

Kedua, perasaan bahwa perubahan adalah sesuatu yang memungkinkan.  Yang bersangkutan mulai melakukan  eksplorasi terhadap kemungkinan-kemungkinan  baru, yang lebih sesuai dengan talenta, minat, dan karakter jati dirinya.

Ketiga, muncul keinginan untuk membangun harapan dan cita-cita kehidupan yang baru, yang lebih sesuai dengan kenyataan yang ada.

Terakhir, membangun komitmen atawa resolusi untuk mulai mengayunkan langkah dan meniti jalan menuju aspirasi, cita-cita dan juga panggilan hidup yang baru.

Bagian dari hidup

Mendiang Ralph Marston, pemain American Footbal yang ternama, pernah memberikan pesan berikut, “The keys to patience are acceptance and faith. Accept things as they are, and look realistically at the world around you. Have faith in yourself and in the direction you have chosen.”

Pesan tadi tampak relevan bagi para orang muda yang mengalami krisis usia dini. Krisis itu muncul bukan karena ketidak kemampuan dan kompetensi (incapable and incompetent) dalam menyiasati hidup, namun ketidaksabaran (impatient) dalam menjalani proses kehidupan itu sendiri.

Ketidaksabaran membuat seseorang menjadi tak jernih melihat kenyataan yang ada, sekaligus juga membuatnya tak gigih menjalani garis cita-citanya.

Dan, kesabaran hanya bisa dibangun di atas sikap penerimaan (acceptance) terhadap kenyataan krisis usia dini ini. Krisis usia dini bukanlah hal tabu yang harus dihindari, apalagi disangkal.

Menerima krisis usia dini sebagai bagian dari kenyataan perjalanan hidup  adalah awal dari usaha untuk membangun cita-cita hidup yang baru.

Akhirul kalam, saya ingin mengutip pesan yang disampaikan oleh  seorang anak muda kepada teman-teman sebayanya yang mengalami krisis usia dini.

Katanya dalam bahasa Inggris, “Remember to breathe. Anyway, it’s just a bad day, not a bad life after all”.  
Bahasa gaulnya, “Tenang Bro, ini bukan kiamat kok!”   ◆

Reporter: Tabloid Kontan
Editor: Mesti Sinaga

TERBARU
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0008 || diagnostic_api_kanan = 0.0494 || diagnostic_web = 10.2886

Close [X]
×