kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Kultur inovasi

oleh Ekuslie Goestiandi - Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Selasa, 02 April 2019 / 17:46 WIB

Kultur inovasi
ILUSTRASI. Ekuslie Goestiandi

KONTAN.CO.ID -  Inovasi adalah buzzword  alias ‘kalimat sakti’ yang ada di dalam kamus bisnis sepanjang masa.

“Tanpa inovasi, perusahaan hanya menunggu waktu untuk mati. Tanpa inovasi, sebuah organisasi hanya bisa hidup dalam hitungan hari.”

Apakah itu sebuah keyakinan yang berdasar atau tidak, toh buktinya semua pihak mengamininya.

Lebih jauh, umumnya inovasi dikaitkan dengan anasir kebebasan, mulai dari kebebasan untuk berpikir, bersikap dan juga bertindak.

Inovasi diyakini akan berhasil, jika perusahaan menyediakan lingkungan yang: memperbolehkan orang lain untuk melakukan kegagalan (tolerance for failure), mendorong orang untuk bereksperimen (willingness to experiment), membebaskan orang untuk berpendapat (free to speak up), dan juga mengkondisikan orang untuk bekerjasama tanpa batasan hirarkis formal (collaborative and non-hierarchical).

Tak ada yang salah dengan gagasan-gagasan kebebasan di atas. Namun, itu jelas tidak cukup untuk membangun kultur dan praktik inovasi yang kuat.

Dalam artikelnya bertajuk The Hard Truth About Innovative Cultures (HBR, Jan-Feb 2019), Gary P. Pisano (profesor administrasi bisnis dari Harvard Business School) mengatakan bahwa masing-masing unsur di atas musti diimbangi (counter-balanced) dengan perilaku yang  tegas dan keras, yang mungkin terdengar tak menyenangkan.

Pertama, toleransi terhadap kegagalan (tolerance for failure), musti diimbangi dengan intoleransi terhadap ketidakcakapan (no tolerance for incompetence).

Untuk memastikan bahwa praktik inovasi mendatangkan hasil yang baik, perlu dipastikan bahwa pelaku inovasi adalah orang-orang yang memang cakap dan kompeten di bidangnya.

Menempatkan orang-orang yang tak cakap dalam urusan inovasi artinya menyiapkan kegagalan inovasi.

Padahal kegagalan yang boleh ditolerir adalah kegagalan yang muncul secara tak terduga akibat proses pembelajaran, bukan akibat ketidakcakapan yang sangat mudah diduga.

Kedua, kesediaan untuk melakukan eksperimen (willingness to experiment), musti diimbangi dengan sikap disiplin yang tinggi (high discipline).

Inovasi bukanlah sebuah eksperimen bebas dan liar, yang sekadar dilakukan dengan semangat “coba-coba”. Eksperimen inovatif adalah percobaan yang dilakukan dengan proses persiapan yang matang, langkah yang metodologis dan eksekusi yang penuh kedisiplinan.

Ketiga, kebebasan untuk berpendapat (freedom to speak up), musti diimbangi dengan kejujuran yang sesungguhnya (brutal candidness).

Kita tahu bahwa semua orang, apapun  jenjang dan pangkatnya, ingin mendengar sekaligus juga didengar.

Jadi, jika atasan memiliki kebebasan untuk berpendapat dan mengkritik bawahannya, maka hal yang sama juga berlaku sebaliknya.

Seorang bawahan pun punya keleluasaan mengkritik atasannya. Kejujuran menuntut keberanian dan keterbukaan dari masing-masing pihak, tanpa memandang golongan, senioritas dan jabatan


Reporter: Tabloid Kontan
Editor: Mesti Sinaga

TERBARU
Terpopuler
Rumah Pemilu
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0006 || diagnostic_api_kanan = 0.0615 || diagnostic_web = 0.3369

Close [X]
×