kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Lo Kheng Hong dan Indika


Rabu, 14 Agustus 2019 / 14:40 WIB
Lo Kheng Hong dan Indika
ILUSTRASI. ANALISIS - Lukas Setiaatmadja

Reporter: Harian Kontan | Editor: Tri Adi

Desember 2015. Harga saham PT Indika Energy Tbk (INDY) menyentuh titik nadir di Rp110. Perhatikan grafik harga saham INDY yang ada di halaman ini. Sebelumnya, harga saham INDY ada di Rp 1.600 pada awal 2013.

Penurunan tajam terjadi di antara 2013 dan 2015. Dengan harga tinggal Rp 110, jika dikalikan jumlah saham INDY sebanyak 5,21 miliar, maka kapitalisasi pasarnya hanya Rp 573 miliar, sekitar US$ 43 juta.

Lo Kheng Hong (LKH) mencermati laporan keuangan INDY. Dia melihat INDY masih memiliki kas sebesar US$ 390 juta. Nilai ekuitas INDY sebesar US$ 667 juta, atau setara Rp 1.702 per saham.

Dengan nilai buku jauh di atas nilai pasar, bagi LKH INDY adalah saham salah harga alias kemurahan (underpriced). Sudah barang tentu LKH memperhatikan juga aspek-aspek fundamental INDY. Bagi LKH, saham INDY tidak hanya kemurahan, tetapi memiliki bisnis yang menarik.

INDY memiliki 46% saham PT Kideco Jaya Agung, perusahaan pertambangan batubara terbesar ketiga di Indonesia. INDY juga memiliki antara lain saham di PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS), PT Tripatra Engineers & Constructors dan PT Cirebon Electric Power, pembangkit listrik berkapasitas 660 MW.

Harga saham INDY turun drastis karena harga batubara sedang terpuruk dan mayoritas investor meragukan prospek batubara. Tambahan, pada 2015, INDY merugi US$ 44 juta.

LKH segera melakukan order beli saham INDY kepada pialangnya. Namun di luar dugaan, pialangnya justru menasihati LKH untuk tidak membeli saham INDY. Pialang yang memiliki gelar MBA dari luar negeri tersebut yakin bahwa masa depan batubara suram.

Tapi LKH tidak terpengaruh. "Tidak apa-apa, belikan saja karena yang suram bisa menjadi cerah," kata LKH. Dia tahu persis bahwa harga batubara memang fluktuatif, habis naik akan turun, setelah turun akan naik kembali.

Maklum, LKH berpengalaman dengan saham komoditas. Tahun 2002 ia pernah membeli saham PT Timah Tbk (TINS) di harga Rp 285. Saham TINS kemudian naik menjadi Rp 38.000.

Ia juga punya pengalaman manis dengan saham PT United Tractors Tbk (UNTR) yang harganya dipengaruhi oleh fluktuasi harga batubara. Ia membeli saham UNTR di harga Rp 250 pada 1998, dan menjualnya di harga Rp 15.000 enam tahun kemudian. Jadi, bukan kali ini saja LKH mengambil posisi berlawanan dengan mayoritas investor di bursa saham.


Tag


TERBARU
Terpopuler

×