kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45991,58   -19,63   -1.94%
  • EMAS957.000 -0,42%
  • RD.SAHAM -1.52%
  • RD.CAMPURAN -0.63%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Memahami Risiko Sebagai Bagian dari Investasi

oleh Hans Kwee - Direktur Anugerah Mega Investama, Dosen FEB Trisakti


Rabu, 25 November 2020 / 08:00 WIB
Memahami Risiko Sebagai Bagian dari Investasi


Reporter: Harris Hadinata | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investasi punya dua sisi, yaitu return atau potensi keuntungan dan risiko. Jika pelaku pasar sudah menemukan saham yang layak diinvestasikan, risiko investasi perlu diperhatikan: bagaimana memaknai risiko tersebut dan mengantisipasi risiko tersebut.

Definisi risiko, menurut ISO 31000 adalah dampak dari ketidakpastian terhadap pencapaian tujuan organisasi. ISO memang bicara organisasi, tetapi mirip ketika ditarik ke aspek keuangan. Bila bicara investasi, maka risiko adalah ketidakpastian yang menyebabkan tidak tercapainya tujuan keuangan atau investasi.

Karena itu, bila bicara risiko, pelaku pasar perlu tahu dulu tujuan keuangannya. Tujuan tersebut harus dinyatakan secara kuantitatif atau satuan moneter dan waktu yang jelas. Kemudian, dipilih strategi untuk mencapai tujuan tersebut.

Pada tulisan ini, penulis akan berkonsentrasi pada risiko yang dihadapi investor. Bagi Investor di pasar modal, risiko dianggap sebagai penyebaran hasil sebenarnya (actual return) dari hasil yang diharapkan (expected return) atau probabilitas suatu outcome berbeda dengan outcome yang diharapkan. Di sini, ada unsur ketidakpastian realisasi hasil di masa yang akan datang. Ada peristiwa yang menjadi penyebabnya.

Risiko investasi dianggap punya hubungan positif dengan return atau tingkat keuntungan. Semakin tinggi potensi keuntungan investasi, maka semakin tinggi risiko investasi tersebut. Dalam investasi dikenal dua jenis risiko, yaitu risiko sistematik dan risiko non sistematik.

Risiko sistematis atau systematic risk adalah semua jenis risiko yang bersifat eksternal dan tidak dapat dikendalikan dan tidak dapat dihindari. Ciri risiko ini adalah tidak dapat dikontrol, mempengaruhi semua efek dan tidak dapat dikurangi dengan diversifikasi. Risiko ini sering disebut risiko pasar (market risk).

Yang termasuk dalam risiko ini misalnya, risiko suku bunga (interest rate risk), risiko daya beli (purchasing power risk) atau inflasi, risiko komoditas dan risiko mata uang (currency risk).

Yang kedua adalah risiko tidak sistematis atau unsystematic risk. Ini merupakan risiko yang dapat dikendalikan atau dapat dihindari. Risiko ini dapat dikurangkan, bahkan dihilangkan dengan melakukan diversifikasi atau membentuk portofolio.

Risiko ini juga disebut risiko spesifik atau risiko perusahaan. Sifatnya unik untuk saham atau instrumen investasi tertentu. Beberapa contohnya, risiko bisnis, risiko finansial, risiko likuiditas.

Investor di pasar modal harus mampu memahami dan mengantisipasi risiko di atas. Bagi perusahaan pengelola dana seperti aset manajemen, asuransi, dana pensiun, unsystematic risk dapat dikurangi dengan membentuk portofolio yang biasanya dengan membeli beberapa instrumen investasi.

Untuk kasus investasi saham, biasanya portofolio saham tersebut akan terdiri dari 15 sampai 25 saham. Sedangkan untuk ritel biasanya memiliki antara 5 sampai 10 saham saja.

Mari lebih rinci. Pertama, terkait risiko bisnis. Risiko in terjadi karena bisnis perusahaan tersebut. Biasanya, perusahaan dalam satu sektor dengan bisnis yang sama dianggap punya risiko yang sama. Karena itu, pelaku pasar dalam membentuk portofolio jangan membeli beberapa saham dari satu sektor yang sama, terutama kalau bisnis perusahaan itu sama.

Sektor yang terpengaruh siklus seperti komoditas dan properti dianggap lebih berisiko dibandingkan sektor konsumsi atau farmasi. Risiko bisnis dapat dikurangi dengan memilih sektor yang lebih defensif.

Kedua, risiko finansial. Risiko ini terkait dengan struktur pendanaan yang dilakukan sebuah perusahaan. Sumber pendanaan perusahaan bisa dari pemegang saham dalam bentuk saham biasa atau saham preferen, atau melalui pinjaman jangka pendek atau jangka panjang.

Ketika perusahaan banyak menggunakan pendanaan dengan utang atau saham preferen yang cenderung punya kewajiban tetap, maka perusahaan dianggap lebih berisiko.

Pinjaman dianggap sebagai leverage yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, bisa menaikkan keuntungan perusahaan ketika kondisi ekonomi baik. Sedangkan di sisi lain dapat menjadi risiko ketika ekonomi memburuk atau jelek.

Mengantisipasi risiko itu, investor sebaiknya mempelajari rasio likuiditas sebuah perusahaan, yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban dalam periode jangka pendek. Masalah likuiditas bisa menyebabkan perusahaan gagal bayar yang berpotensi menyebabkan kebangkrutan.

Selain itu, investor perlu mempelajari rasio solvabilitas yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka panjang dan semua kewajibannya. Investor yang tidak menyukai risiko, dapat memilih saham dengan leverage rendah.

Ketiga, risiko sistimatis yang diwakili risiko pasar. Empat faktor standar risiko pasar adalah risiko pasar saham, risiko suku bunga, risiko mata uang, dan risiko komoditas.

Risiko suku bunga punya dampak negatif pada pasar saham. Bunga yang tinggi cenderung mendorong masyarakat menabung dan meninggalkan investasi di pasar modal. Di sisi lain, bila bunga tinggi maka biaya modal perusahaan akan naik sehingga menurunkan laba dan nilai perusahaan.

Risiko mata uang dan harga komoditas punya pengaruh berbeda untuk setiap perusahaan di sektor berbeda. Investor perlu memahami bisnis dan karakteristik sektor untuk mengantisipasi risiko ini.




TERBARU
Sukses Berkomunikasi dengan Berbagai Gaya Kepribadian Managing Procurement Economies of Scale Batch 7

[X]
×